Hidupkan Batu Pandan dengan Gebyar Budaya

Editor: Mahadeva WS

BEKASI – Berbagai cara dilakukan untuk menggali potensi budaya di daerah. Seperti yang dilakukan Masyarakat Pencinta Batu Pandan Sejati (Macan Panjats), Bekasi.

Mengambil tempat di halaman kantor Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, Macan Panjats menggelar acara Gebyar Budaya, dengan mengundang puluhan sanggar seni beladiri dan tari yang ada di daerah tersebut.

Acara tersebut, juga dimeriahkan ajang kontes Batu Akik. Penyelenggaraanya, diselaraskan dengan pertunjukkan budaya sebagai pelestarian, seperti budaya palang pintu, kirab budaya, silat, dan budaya lain yang mulai terpinggirkan. Gebyar budaya itu juga kembali mengenalkan panganan tradisional Kota Bekasi kepada khalayak umum.

Ncek Prabu Angkasa Ketua Macan Panjats Bekasi – Foto M Amin

“Gebyar budaya ini, selain ajang menggali budaya, acara intinya, adalah mengenalkan kembali batu pandan, yang selama ini agak punah. Melalui Gebyar Budaya, ada kontes Batu Pandan yang diikuti pencinta batu pandan di Kota Bekasi,” kata Ketua Macan Panjats, Ncek Prabu Angkasa, Minggu (21/10/2018).

Kegiatan kali ini, merupakan penyelenggaraan tahun ke empat. Di Bekasi, dikenal Batu Pandan, yang memiliki berbagai jenis, serta ukuran. Batu Pandan merupakan batu akik jenis kalsidon. Batu pandan Bekasi bersisik, dan terus berproses sampai tua. Proses terakhir dari Batu Pandan adalah Pandan lumut.

Menurut Ncek, Batu Pandan secara garis besar ada sembilan jenis, yakni pandan kapas, nanas, lumut, merah, sutra, dan biduri pandan. “Alhamdulillah di Bekasi Batu Pandan terus terjaga berkat komunitasnya, kuat niat, kuat mengembangkan kembali batu pandan yang sudah hampir punah. produksi masih tetap lanjut,” tandasnya.

Ketua Panitia Gebyar Budaya, Rendi Palen, menambahkan, kegiatan tersebut, menjadi upaya menjaga kekhasan daerah, dalam hal ini Batu Akik Pandan. “Ini melibatkan semua yang berkaitan dengan seni budaya yang ada di Bekasi. Makanya dalam kegiatan ini, bukan hanya mengundang pencinta batu pandan, tetapi juga bersinergi dengan para praktisi budaya 23 padepokan, dan sanggar yang berkontribusi dalam rangka memeriahkannya,” jelas Rendi.

Tampilan dari masing masing padepokan, bukan hanya menonjolkan batu pandan, tetapi bagaimana menghidupkan Usaha Kecil Menengan (UKM), terutama yang memiliki ciri khas daerah seperti baju pangsi, dodol betawi dan berbagai pernik batu batu pandan. Melalui kegiatan ini, diinginkan semua potensi seni dan budaya di Bekasi dapat digali.

Wakil Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, berharap Gebyar Budaya bisa membantu pengembangan UMKM di Kota Bekasi. “Melalui gebyar budaya ini, dua hal yang bisa dimanfaatkan, pertama dari sisi budaya, kedua dari sisi UMKM-nya, melalui kegiatan ini banyak UKM terbantu dengan pameran dan lainnya,” ujar Tri.

Lihat juga...