1.630 Ha Lahan Sawit di Pesisir Selatan, Jadi Percontohan
Editor: Mahadeva WS
PESISIR SELATAN – Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, melalui Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (Distanhortbun), memilih menghadirkan percontohan perkebunan, untuk meningkatkan kualitas tanaman kelapa sawit.

Kepala Distanhortbun Pesisir Selatan, Jumsu Trisno, mengatakan, luas lahan yang akan dijadikan percontohan perkebunan kelapa sawit , mencapai 1.630 hektare (Ha). Daerah yang masuk dalam cakupan percontohan meliputi, Kecamatan Linggo Sari Baganti, Airpura, Pencungsoal, Lunang dan Silaut, yang dikenal sebagai sentra kelapa sawit di Pesisir Selatan.
Tujuan adanya percontohan, sebagai tempat untuk memperoleh pengetahuan cara menanam sawit yang baik. Mulai dari pengolahan lahan, pembibitan, perawatan, hingga masa panen. “Makanya kita pilih daerah yang sudah memiliki produksi sawit yang bagus. Untuk itu lahan percontohannya akan ditempatkan pada kecamatan-kecamatan yang dijadikan sebagai sentra,” katanya, Minggu (21/10/2018).
Sebagian besar petani sawit di daerah itu, masih minim pengetahuan cara berkebun kelapa sawit. Kegiatannya masih terkesan hanya ikut-ikutan. Akibatnya, lahan yang dikembangkan, sebagian besar tidak produktif karena tidak menghasilkan buah berkualitas. Untuk itu, agar daerah setempat tidak mengalami hal yang demikian berkepanjangan, di 2019 nanti, Pemkab Pesisir Selatan akan melakukan pengembangan lahan percontohan seluas 1.630 hektare. Melalui lahan percontohan diharapkan, pola yang diterapkan bisa diadopsi oleh petani lainnya.
Banyak aspek yang perlu diperhatikan oleh petani, sebelum menanam kelapa sawit. Mulai dari tekstur tanah, pemilihan kecambah, pemeliharaan, panen hingga pascapanen. Kebanyakan petani masih mengabaikan mekanisme cara berkebun kelapa sawit yang benar.
Mereka tidak memperhatikan tekstur tanah. Termasuk juga menanam kecambah kelapa sawit yang tidak bersertifikat. Akibatnya, produktifitas tanaman kelapa sawit tidak seimbang, dengan luas lahan yang ditanam. Karena rendemen rendah, harga jual tandan buah segarnya juga rendah. “Saat ini lahan percontohan tersebut masih dalam tahap penyiapan dokumen, berupa lokasi dan siapa yang akan mengelolanya. Setelah semua selesai, kita menargetkan pada awal 2019 proses penggarapan lahan, penanaman hingga perawatan akan dilaksanakan,” tuturnya.
Untuk penyiapan lahan percontohan, dianggarkan dana sebesar Rp25 juta per hekatare. “Kalau soal penggarapan lahan percontohan itu bersumber dari Direktur Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian melalui program peremajaan tanaman kelapa sawit,” tandasnya.
Selain mempedulikan kondisi masyarakat petani, di 2018 ini, Pemkab Pesisir Selatan juga akan meremajakan 1.500 hektare tanaman kelapa sawit milik masyarakat. Peremajaan tanaman kelapa sawit dilaksanakan di lahan-lahan yang diajukan masyarakat melalui kelompok tani.
Melalui peremajaan, diharapkan produksi tanaman kelapa sawit bisa meningkat, dan mampu meningkatkan perekonomian pemiliknya. “Program ini langsung dari Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, dan semoga mampu meningkatkan kualitas serta kuantitas tandan buah segar kelapa sawit milik masyarakat,” tandasnya.
Dengan peremajaan, dapat dilakukan penggantian tanaman kelapa sawit yang ditanam secara sembarangan oleh masyarakat, tanpa memperhatikan kualitas bibit. Terkait dengan kualitas, pemerintah daerah, berencana menguji rendemen yang dihasilkan tandan buah segar kelapa sawit milik masyarakat, dengan menyiapkan anggaran sebesar Rp152 juta.