TKI NTT tak Pikirkan Dampak Pekerjaan

Ilustrasi -Dok: CDN
KUPANG – Pengamat masalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari Universitas Widya Mandira (Unwira) Kupang, Pater Gregorius Neonbasu SVD, menilai para TKI dari NTT hanya memikirkan mendapatkan pekerjaan di luar negeri tanpa memikirkan dampak pekerjaan yang didapat.
“Asumsi saya adalah ketika mereka (TKI) pergi ke luar daerah (negara atau wilayah), dalam hati mereka belum ada pertimbangan mengenai layak dan pantas atau tidak pekerjaan yang didapat. Yang ada di otak mereka adalah yang penting mendapat pekerjaan dan penghasilan,” katanya, di Kupang, Kamis (20/9/2018).
Dia berpendapat, terkait dalam beberapa hari terakhir ini kasus penangkapan dan penggagalan keberangkatan calon tenaga kerja Indonesia berhasil diamankan oleh satgas pengamanan TKI di Bandara El Tari Kupang.
Menurut Gregorius yang juga dosen antropologi di Unwira itu, ada adagium kultural di antara kaum wanita di desa-desa, intinya adalah daripada menetap di desa atau kampung dan tidak ada pekerjaan, lebih baik berangkat ke luar negeri menjadi TKI.
Selain itu, menurutnya lagi, ada kaum wanita di NTT yang tanpa persiapan (pendidikan yang mencukupi) pergi ke luar dan menjadi TKI, dengan harapan mendapat pekerjaan dan penghasilan.
Bahkan, menurutnya, para calon TKI itu tidak pernah berpikir apakah pekerjaan yang bakal diperoleh itu akan mencukupi atau tidak, itu di luar perhitungan.
“Dalam pikiran mereka hanya ingin mendapatkan pekerjaan, agar tidak duduk diam di rumah. Artinya, bahwa ini karena masalah ekonomi,” ujarnya lagi.
Menurut dia, para calon TKI justru pragmatis saja, sehingga berbagai pelanggaran, antara lain hukum (HAM) dan hidup bermartabat memang berada di luar dugaan para pekerja itu.
Dalam beberapa kasus saat diamankan oleh petugas, para calon TKI yang kebanyakan adalah kaum wanita sama sekali tidak mengetahui pekerjaan apa yang akan diperoleh saat hendak dikirimkan ke luar negeri. Bahkan, bahasa Indonesia yang menjadi bahasa harian masyarakat Indonesia saja sulit untuk diucapkan oleh para calon pekerja itu.
Lebih lanjut, Pater Gregorius juga menambahkan, para perekrut jika memang itu resmi hendaknya tahu hal itu, dan menjelaskannya secara transparan kepada para calon TKI.
“Sejauh ini, saya nilai perekrut tidak pernah membicarakan hal tersebut kepada calon TKI kita,” pungkasnya. (Ant)
Lihat juga...