Kotawaringin Timur Masih Rawan Karhutla
SAMPIT – Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, masih rawan mengalami kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Meski hujan deras sudah cukup sering terjadi dan hampir merata dalam dua pekan terakhir, hal itu belum mengurangi potensi kebakaran yang ada.
“Masih rawan. Contohnya kemarin, terpantau hot spot (titik panas) di Kotawaringin Timur, dengan jumlah cukup banyak, yaitu 35 titik,” kata Komandan Kodim 1015 Sampit Letkol Inf Sumarlin Marzuki di Sampit, Senin (10/9/2018).
Sumarlin yang juga Komandan Satuan Tugas Penanggulangan Karhutla Kabupaten Kotawaringin Timur membenarkan, intensitas hujan mulai meningkat. Namun fakta juga menunjukkan, titik panas dengan cepat bermunculan ketika tidak terjadi hujan. Hujan deras yang terjadi, dua pekan terakhir diperkirakan belum sepenuhnya membuat air tanah naik. Akibatnya tanah gambut dengan cepat kembali kering, ketika tidak terjadi hujan.
Kotawaringin Timur termasuk daerah sangat rawan karhutla, karena sebaran gambut tebalnya cukup luas. Saat kemarau, gambut menjadi kering, sehingga sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan. Api terus membakar ke dalam tanah meski api di permukaan terlihat padam.
Sumarlin menegaskan, saat ini seluruh anggota satuan tugas tetap bersiaga. Patroli tetap dilakukan secara rutin, kecuali saat terjadi hujan cukup lama. Melihat perkembangan yang ada, Sumarlin menilai, status siaga darurat karhutla saat ini belum akan dicabut.
Apalagi, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi, kemarau di Kotawaringin Timur terjadi hingga Oktober nanti. “Yang menetapkan status siaga darurat itu adalah pemerintah daerah, dengan mempertimbangkan saran dari BMKG, BPBD dan Kodim. Yang jelas saat ini kami tetap menjalankan sesuai surat keputusan (status siaga darurat),” ujar Sumarlin.
Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur menetapkan, daerah mereka dalam kondisi status siaga darurat karhutla, karena kebakaran lahan cukup marak. Status ini ditetapkan selama empat bulan, sejak 16 Juli lalu, dan akan berakhir pada 18 November 2018 nanti. Patroli acap dilakukan, agar kebakaran hutan dan lahan tidak meluas. Selain itu, juga dilaksanakan berbagai kegiatan seperti penyadartahuan, anjangsana dan lainnya untuk menggugah kepedulian masyarakat dalam mencegah dan menanggulangi kebakaran hutan dan lahan.
Untuk memudahkan operasional, Posko Induk didirikan di Markas Kodim 1015 Sampit. Sedangkan Posko Lapangan, didirikan di halaman Museum Kayu. Tim patroli bertugas penuh selama 24 jam dengan tiga kali pergantian kelompok jaga setiap harinya. (Ant)