Komunitas Adat Terpencil Butuh Perhatian Serius
SAMPIT – Komunitas Adat Terpencil (KAT) Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah membutuhkan perhatian serius pemerintah daerah setempat, antara lain menyangkut pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur, kata anggota Komisi III DPRD Kotawaringin Timur Sarjono.
“Program pembinaan untuk KAT ada di Dinas Sosial, bersinergi dengan organisasi perangkat daerah (SOPD) Kotawaringin Timur,” katanya di Sampit, Sabtu.
Ia mengatakan, pembinaan terhadap KAT merupakan program pemerintah pusat yang disinergitaskan dengan pemerintah provinsi maupun kabupaten.
Namun, katanya, hal itu ternyata tidak berkelanjutan dan tidak optimal dilaksanakan di daerah pedalaman Kotawaringin Timur pada khususnya.
“Kami berharap pemerintah daerah dapat melanjutkan program pemerintah pusat yang saat ini tidak berlanjut tersebut, sebab jika tidak maka warga KAT tersebut akan kembali ke kehidupannya semula, yakni ke hutan belantara,” katanya.
Ia menyebut di Kotawaringin Timur ada dua desa yang menjadi objek program KAT, yakni Desa Tumbang Tawan dan Desa Lunuk Bagantung, Kecamatan Bukit Santuai.
“Namun, hasil di lapangan tidak dimaksimalkan dan disinergikan oleh pemerintah kabupaten. Itu terjadi akibat koordinasi lintas OPD masih lemah,” ucapnya.
Program pembinaan tersebut menjadi tugas dan tanggung jawab pihak Dinas Sosial.
Misalnya, kata dia, Dinas Pendidikan masuk untuk programnya, begitu juga dengan dinas lain, termasuk Dinas PUPR.
“Sebetulnya program ini bisa dikerjakan secara keroyokan untuk lanjutan objek pembinaan para KAT tersebut, seperti halnya Dinas PUPR, Dinas Pendidikan, Kesehatan, dan lain sebagainya. Tetapi saya memandang koordinasi lintas OPD itu sangat kurang, akibatnya program KAT itu tidak berjalan dengan baik,” katanya.
Ia mengatakan, tujuan program pembinaan warga KAT agar mereka tidak hidup tertinggal dan terbelakang.
“Warga KAT juga warga negara Indonesia yang berhak mendapat semua pelayanan dari pemerintah,” katanya.
Sarjono mengatakan, warga KAT pasti kembali ke hutan dengan pola kehidupan yang primitif jika program pembinaan itu terhenti.
“Mereka akan kembali mendiami hulu-hulu sungai dan hutan belantara, akibatnya kehidupan mereka semakin tertinggal,” kata dia. (Ant)