Kemarau, Usaha Pembuatan Teri Buka Lapangan Kerja Perempuan

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Musim kemarau yang melanda wilayah Lampung Selatan berimbas sejumlah lahan pertanian mengering sehingga petani tidak bisa bercocok tanam.

Sejumlah lapangan pekerjaan sekaligus mata pencaharian bagi warga mulai berkurang di antaranya buruh olah lahan, buruh tanam hingga buruh petik. Sejumlah warga Kelurahan Way Urang Kalianda sebagian terpaksa menganggur akibat tidak adanya pekerjaan.

Beruntung usaha pembuatan teri masih tetap beroperasi di Lingkungan Sinar Laut Kecamatan Kalianda.

Mumun (46) dan sang suami Misri Saifulah (47) pemilik usaha pembuatan teri yang sudah berlangsung sejak lima tahun silam memanfaatkan hasil tangkapan nelayan. Mumun menyebut, usaha pembuatan teri membutuhkan sejumlah pekerja yang memiliki tugas berbeda di antaranya tukang rebus, tukang memasukkan ikan teri ke candang, mengangkut ikan teri dari nelayan dan menjemur.

Semenjak musim kemarau, Mumun mengungkapkan, sejumlah perempuan yang biasanya menjadi buruh tani memilih ikut bekerja di tempat pembuatan teri. Sejak tiga bulan terakhir Mumun menyebut, ada sekitar 30 orang bekerja dalam usaha perebusan teri miliknya.

Jumlah tersebut semakin bertambah saat hasil tangkapan teri nelayan bagan congkel, bagan apung nelayan meningkat. Saat hasil sedikit harga teri mencapai Rp200 ribu per cekeng berisi 15 kilogram teri dan saat melimpah hanya seharga Rp180 ribu per cekeng.

“Sehari dalam kondisi normal kami bisa memproduksi satu ton ikan teri, namun saat hasil tangkapan melimpah bahkan bisa mencapai tiga ton sehingga pekerja harus banyak,” terang Mumun, selaku salah satu wanita pemilik usaha pembuatan teri rebus di Kelurahan Kalianda, saat ditemui Cendana News, Selasa (21/8/2018).

Pekerja laki-laki melakukan proses perebusan teri dengan tungku berbahan bakar kayu [Foto: Henk Widi]
Mumun menyebut, pekerja usaha pembuatan teri rebus rata-rata membutuhkan banyak tenaga perempuan. Sebagian perempuan merupakan warga sekitar Kalianda yang sebelumnya bekerja sebagai buruh lepas saat musim tanam jagung dan padi yang terimbas kemarau.

Keberadaan usaha pembuatan teri, diakui Mumun, ikut membantu kaum perempuan di wilayah tersebut sehingga masih bisa memberi lapangan pekerjaan dan penghasilan.

Teri basah yang didatangkan dari sejumlah nelayan mitra binaan di Kecamatan Kalianda hingga Kecamatan Rajabasa umumnya mencapai ratusan cekeng (keranjang). Para perempuan tersebut memiliki tugas memindahkan ikan teri dari cekeng ke candang (wadah bambu) selanjutnya dimasukkan dalam tungku perebusan.

Dua tungku perebusan dioperasikan saat bahan baku teri melimpah dan saat bahan baku di bawah satu ton hanya dioperasikan satu tungku.

Setelah proses perebusan, sebagian pekerja perempuan akan menghamparkan teri yang sudah direbus dengan garam ke tempat penjemuran yang disebut laha (bambu lipat). Hamparan laha tersebut diletakkan di atas senoko (para para bambu) untuk dibawa ke lokasi penjemuran dengan tonggak dari bambu.

Ratusan cekeng (keranjang) berisi teri akan dipindah ke candang (wadah bambu) selanjutnya direbus di tungku [Foto: Henk Widi]
Satu ton teri yang sudah direbus, diakui Mumun, bisa dihamparkan ke dalam ratusan laha menunggu proses pengeringan selama enam jam.

“Enam jam bisa kering jika direbus jam delapan pagi. Pada jam satu siang sudah bisa disortir teri yang kering,” terang Mumun.

Selain para perempuan para pekerja laki-laki, biasanya menyiapkan air, kayu bakar, memasukkan candang ke tungku serta mengangkat cekeng dari kendaraan. Beberapa tugas bahkan kerap bisa dikerjakan secara bersama untuk mempercepat proses perebusan.

Semakin cepat semua proses dikerjakan, proses penjemuran teri akan bisa dilakukan lebih cepat dengan jam kerja selama delapan jam sehari sekaligus istirahat.

Mumun menyebut, belasan tahun menjadi pemilik usaha pembuatan teri sejak di Muara Baru Jakarta, ia mengaku tidak sekadar mencari hasil. Ia bersama suami mengaku dengan modal yang dimiliki berusaha menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang selama ini menganggur.

Selain itu lokasi sekitar pembuatan teri yang sebelumnya sepi, kini mulai ramai karena adanya sejumlah usaha pembuatan teri.

Mumun menyebut, satu ton teri rebus setelah dijemur akan menghasilkan sekitar 7 hingga 8 kuintal teri. Jika bahan baku jenis teri yang diperoleh berupa teri jengki dengan harga kering Rp75.000 per kilogram, omzet yang diperoleh bisa mencapai lebih dari Rp50 juta untuk per tujuh kuintal teri kering.

Sementara, jika jenis bahan baku teri nasi yang sebagian diekspor, harga bisa mencapai Rp100 ribu per kilogram. Hasil sekitar 5 kuintal saja, omzet bisa mencapai Rp50 juta meski jenis teri nasi hanya ada saat musim tertentu.

“Omzetnya terlihat besar, namun dibagi untuk pekerja, membeli bahan baku, bahan bakar serta keperluan memperbaharui peralatan,” terang Mumun.

Desy (kiri) dan puluhan pekerja pembuatan teri berbagi tugas selama proses perebusan [Foto: Henk Widi]
Desy (25) salah satu pekerja perempuan yang sudah satu tahun bekerja mengaku, sebelumnya dirinya kerap bekerja sebagai buruh tanam, petik padi, dan jagung. Setelah ada usaha tersebut bersama puluhan wanita lain ia bahkan memilih bekerja dalam usaha pembuatan teri rebus.

Meski hanya mendapatkan upah sehari Rp100 ribu namun makan ditanggung oleh pemilik usaha pembuatan teri. Usaha yang tergantung banyaknya bahan baku tersebut, disebut Desy, masih bisa memberinya penghasilan sekitar Rp2,5 juta sebulan.

“Hasilnya lumayan jika setiap hari ada bahan baku. Tapi terkadang saat kondisi cuaca buruk nelayan tidak ada tangkapan terpaksa menganggur,” beber Desy.

Selain melakukan proses perebusan, penjemuran, setelah teri kering proses terakhir dilakukan oleh para pekerja termasuk Desy dengan penyortiran atau pemilahan. Penyortiran dilakukan untuk memisahkan beberapa jenis teri di antaranya teri Jengki, teri Jenggot, teri Nasi, teri Katak, cumi cumi, selar serta sejumlah ikan asin.

Proses pemilahan tersebut akan menentukan harga teri yang dihasilkan karena setiap teri memiliki harga beragam mulai dari Rp60 ribu per kilogram jenis teri katak hingga Rp100 ribu jenis teri nasi.

Setelah proses perebusan para pekerja perempuan melakukan proses penjemuran [Foto: Henk Widi]
Keberadaan usaha pembuatan teri, disebut Desy dan puluhan perempuan serta pekerja laki-laki, sangat membantu. Sebab dalam kondisi musim kemarau sejumlah pekerjaan untuk bertani sudah tidak ada, dan sebagian tidak memiliki keahlian dalam pekerjaan lain.

Penghasilan dari pekerjaan pembuatan teri rebus bisa dipergunakan untuk membantu sang suami serta ditabung untuk keperluan sehari-hari dan kebutuhan anak.

Lihat juga...