Kemarau, Mata Air Tebing Ceppa, Sokong Sawah Penengahan

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Sejumlah wilayah di Kabupaten Lampung Selatan mulai mengalami kekeringan akibat kemarau. Kecamatan yang masih mengalami kekeringan di antaranya Candipuro, Sidomulyo, Ketapang, Sragi, Palas.

Kemarau yang sudah berlangsung tiga bulan terakhir tersebut, tidak mempengaruhi lahan pertanian sawah di wilayah Penengahan yang mengandalkan air dari Gunung Rajabasa Lampung Selatan.

Paryoto (40) petani padi di Desa Taman Baru, Kecamatan Penengahan, menyebut, ribuan hektar lahan sawah masih tetap digarap meski kemarau. Pasokan air yang lancar dari sumber mata air Tebing Ceppa, diakuinya, membuat petani bisa menggarap lahan sepanjang tahun.

Mata air Tebing Ceppa yang merupakan sumber alami dari Gunung Rajabasa bahkan sekaligus menjadi sumber kebutuhan air bersih untuk minum bagi warga.

Mat Suppi (kanan) warga pemilik lahan di dekat Tebing Ceppa yang tetap mengalir meski musim kemarau [Foto: Henk Widi]
Selain irigasi permanen, sebagian warga bahkan memanfaatkan pasokan air untuk lahan pertanian menggunakan pipa dan selang. Meski wilayah lain mengalami kekeringan akibat kemarau, namun sejak puluhan tahun silam lahan sawah masih tetap bisa digarap.

Paryoto bahkan mulai menggarap lahan miliknya untuk masa tanam ketiga (MT3) dengan bibit usia 15 hari untuk ditanam pada usia 21 hari.

“Saluran irigasi yang dimanfaatkan warga, sebagian merupakan buangan dari kolam ikan warga, sisa dari bak penampungan air yang mengalir dari mata air tebing Ceppa di wilayah Taman Baru yang ada di kaki Gunung Rajabasa,” terang Paryoto, salah satu petani padi sawah di Desa Taman Baru, saat ditemui Cendana News, Senin (13/8/2018).

Mata air Tebing Ceppa disalurkan ke bendungan Tebing Ceppa yang disalurkan ke bak penampungan untuk sumber air bersih masyarakat. Air yang sudah tidak tertampung mengalir langsung ke sungai kecil yang menginduk ke Sungai Way Asahan.

Aliran Sungai Tebing Ceppa dikelola oleh Perkumpulan Petani Pengguna Air (P3A) dengan sistem pembagian melalui sejumlah saluran.

Pasokan air berlimpah dari mata air Tebing Ceppa, disebut Paryoto, bahkan bisa dimanfaatkan warga tanpa harus menggunakan sistem pembagian. Air yang selesai dipergunakan petani bahkan langsung mengalir ke sungai yang bisa dipergunakan petani di bagian hilir.

Aliran Sungai Tebing Ceppa bahkan masih bisa dimanfaatkan warga Desa Kuripan, Desa Pasuruan, dan Desa Ruang Tengah.

Rohman salah satu petani yang terbantu irigasi Tebing Ceppa juga memelihara tanaman refugia untuk mengurangi hama [Foto: Henk Widi]
Selain Paryoto, petani lain di Taman Baru bernama Rohman (56) juga menyebut, bisa melakukan penanaman padi selama tiga kali dalam setahun. Pada masa tanam ketiga, ia masih bisa melakukan proses penanaman padi dengan air irigasi yang lancar.

Keberadaan mata air Tebing Ceppa yang masih dipertahankan warga, sekaligus terjaganya hutan Gunung Rajabasa, membuat petani masih bisa menanam padi bahkan saat kemarau melanda.

”Kami juga mendapat pendampingan dari penyuluh pertanian agar memanfaatkan melimpahnya air dari Gunung Rajabasa,” terang Rohman.

Pada lahan seluas setengah hektar miliknya, Rohman menyebut, tanpa adanya gangguan hama penyakit ia bisa memperoleh sekitar 3,4 ton padi. Varietas padi Ciherang yang ditanam  didukung dengan anjuran dari penyuluh pertanian untuk memelihara tanaman refugia.

Tanaman refugia yang ditanam oleh Rohman, di antaranya jenis kenikir, bunga matahari, kembang kertas, jengger ayam, serta jenis tanaman sayur berbunga seperti okra.

Berbagai jenis tanaman refugia tersebut, tetap tumbuh subur meski ditanam di tepi jalan dan tepi sawah dengan lancarnya pasokan air. Tanaman refugia bisa menarik bagi insektisida sebagian tidak jadi menyerang tanaman padi. Bahkan dimangsa oleh predator.

Sebagian saluran irigasi bersumber dari Gunung Rajabasa yang masih mengalirkan air meski kemarau [Foto: Henk Widi]
Terjaganya pasokan air dari sumber air Tebing Ceppa di kaki Gunung Rajabasa membuat ribuan hektar lahan pertanian warga, termasuk milik Rohman, masih bisa digarap. Sebagai anggota Kelompok Tani Maju Sejahtera II, ia memastikan, sistem pembagian air juga bisa merata, mengairi semua lahan sawah di wilayah tersebut.

Mat Supi (60) salah satu pemilik lahan di dekat mata air Tebing Ceppa menuturkan, selama puluhan tahun, warga petani bergantung pada sumber air tersebut. Warga bahkan menjadikan kawasan yang menghasilkan mata air tersebut sebagai kawasan larangan untuk penebangan kayu. Sebagian pohon pun berusia ratusan tahun.

Selain bisa dimanfaatkan untuk sumber air bersih keperluan sehari-hari, sumber air bagi irigasi pertanian, warga bahkan bisa melakukan budidaya ikan air tawar.

Lihat juga...