Anak Korban Deportasi Berisiko Hadapi Stigma

PBB, Ilustrasi -Dok: CDN

NEW YORK – Anak-anak yang dideportasi dari Meksiko dan Amerika Serikat ke Amerika Tengah, menghadapi kekerasan, stigma dan perampasan. Hal itu menambah banyak daftar penyebab utama migrasi tak teratur.

Badan Anak PBB (UNICEF) memperingatkan, adanya perjalanan berbahaya, dan deportasi meningkatkan kemiskinan, kekerasan dan kurangnya peluang. “Biasa terjadi anak-anak yang dikirim pulang ke negara asal mereka tak memiliki rumah yang dituju, dan berakhir di dalam lilitan utang atau menjadi sasaran gerombolan,” , kata Wakil Juru Bicara Farhan Haq, Sabtu (18/8/2018).

Haq menyebut, anak yang dipulangkan ke situasi yang buruk, membuatnya lebih ingin bermigrasi lagi. Peringatan tersebut mengutip, Uprooted in Central America and Mexico, Migrant and Refugee Children Face a Vicious Cycle of Harship and Danger.

Laporan setebal 25 halaman tersebut mengatakan, lebih dari 68.000 anak migran ditahan di Meksiko, antara 2016 dan April 2018. 91 persen di antara mereka, dideportasi ke Amerika Tengah. “Di negara Amerika Tengah Utara, El Salvador, Guatemala dan Honduras dan di Meksiko, kekerasan yang berkaitan dengan gerombolan, kejahatan terorganisir, pemerasan, kemiskinan dan akses terbatas ke pendidikan yang berkualitas dan layanan sosial adalah bagian dari kehidupan sehari-hari buat jutaan anak,” kata laporan tersebut.

Disebutkan, setiap hari, semua keluarga menghadapi kondisi berat. Hal itu membuat keputusan menyakitkan harus diambil, yaitu meninggalkan rumah, masyarakat dan negara, untuk mencari keselamatan dan masa depan yang lebih lebih baik. “Sebagian tindakan di dalam wilayah tersebut, sementara yang lain pergi ke utara menuju Meksiko dan Amerika Serikat. Tapi banyak keluarga yang berusaha menyelamatkan diri dari kondisi putus-asa mereka menghadapi setumpuk masalah baru dan trauma segera setelah mereka kembali ke jalur migrasi yang tidak teratur,” kata UNICEF.

Keluarga harus melakukan perjalanan panjang yang tidak pasti, yang berisi risiko dijadikan korban oleh penyelundup, atau penjahat lain. Bahkan mungkin kehilangan barang di perjalanan. Para migran mungkin ditangkap di tempat persinggahan, atau saat tiba di tempat tujuan. “Hanya ditahan dan kemudian dikembalikan ke negara asal mereka. Jika mereka dikembalikan, mereka tampaknya akan mengalami peningkatan banyak faktor, kekerasan, kemiskinan, kurangnya kesempatan, stigmatisasi, pengucilan sosial dan pengungsian di dalam negeri, yang memaksa mereka memilih bermigrasi lagi,” pungkasnya. (Ant)

Lihat juga...