Kotawaringin Timur Kembali Usulkan Bantuan Relokasi Rumah Nelayan

Abrasi pantai, ilustrasi -Dok: CDN

SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah (Kalteng), kembali mengusulkan bantuan pembangunan rumah untuk nelayan. Kali ini bantuan diusulkan untuk nelayan di Desa Ujung Pandaran Kecamatan Teluk Sampit.

Nelayan tersebut diusulkan untuk direlokasi di lokasi yang telah disiapkan. “Kami tetap meminta bantuan pembangunan rumah untuk nelayan. Saat ini bagi yang belum dapat bantuan pembangunan rumah di lokasi relokasi, rumahnya di pantai kami amankan dulu dari abrasi,” kata Bupati Kotawaringin H Supian Hadi, Kamis (26/7/2018).

Abrasi masih melanda Pantai Ujung Pandaran, yang merupakan objek wisata andalan daerah tersebut dan juga menjadi perkampungan melayan. Beberapa tahun terakhir, sudah lebih dari 30 rumah dibongkar karena abrasi menggerus tanah dan rumah di wilayah tersebut.

Di 2016 lalu, pemerintah pusat membantu membangun 88 unit rumah untuk nelayan korban abrasi. Pembangunan juga dilakukan di lokasi relokasi yang telah disiapkan pemerintah daerah setempat. Namun tidak semua nelayan langsung menempati, dengan alasan lokasinya cukup jauh dari bibir pantai tempat mereka mencari ikan. Keluhan lainnya adalah, minimnya sarana pendukung yang ada di lokasi relokasi.

Namun kini, sebagian besar nelayan sudah menempati rumah permanen berkontruksi beton itu. Karena itulah pemerintah daerah akan mengusulkan secara bertahap bantuan pembangunan rumah tambahan.

Data Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kotawaringin Timur, total ada 326 rumah di bibir pantai yang harus direlokasi. Sementara rumah yang sudah tersedia di lokasi relokasi baru 88 unit. Setelah semua sudah direlokasi, kawasan pantai rencananya akan ditata sepenuhnya untuk pengembangan pariwisata daerah.

“Syarat usulan itu-kan, rumah-rumah yang ada itu ditempati dulu. Seandainya tahun lalu sudah ditempati semua, Insya Allah tahun ini bisa dibangun lagi. Kini masyarakat mulai merasakan dampak abrasi dan mungkin menyadari bahwa abrasi akan membahayakan rumah dan nyawa mereka misalnya terjadi malam hari,” kata Supian.

Terkait fasilitas di perumahan relokasi, di 2019 nanti akan ada pembangunan sarana pendidikan mulai untuk pendidikan anak usia dini hingga SMP. Supian mengklaim sudah meminta kepala desa dan camat untuk menyiapkan lahannya. Selain itu, ada pembangunan mushala, ruang terbuka hijau, tempat pembuangan sampah, angkutan sampah, dermaga, pabrik es mini, pasar, sarana olahraga dan lainnya.

Terdapat 12 satuan organisasi perangkat daerah yang nantinya melaksanakan program di perumahan nelayan tersebut. Perumahan nelayan tersebut juga akan ditata untuk dijadikan desa wisata. Harapannya, program yang dilakukan akan berdampak besar terhadap peningkatan ekonomi masyarakat setempat dan pengembangan pariwisata daerah.

Sarana publik dibangun dengan konsep rumah betang dan kental dengan ornamen khas Dayak sehingga menjadi kampung nelayan yang menarik. “Saya sedang mencari nama dalam bahasa Dayak Sampit untuk memberi nama yang bagus untuk kampung nelayan tersebut. Itu akan dijadikan desa wisata sehingga lengkap destinasinya, ada pantai, kubah, mangrove dan kampung nelayan,” rincinya.

Sementara untuk penanganan abrasi Pantai Ujung Pandaran, Pemkab Kotawaringin Timur sangat berharap pemerintah pusat juga turun tangan membantu. Hal itu dikarenakan, kegiatannya dipastikan membutuhkan biaya besar. Terutama untuk membangun tanggul yang cukup panjang.

Penanganan harus dilakukan segera, agar dampak abrasi tidak semakin parah. Tanggul darurat yang dibangun menggunakan geobag atau karung berisi pasir oleh pemerintah daerah tidak akan mampu bertahan lama. (Ant)

Lihat juga...