Agus Sudarmanto, Owner Broto Batik Balikpapan. –Foto: Ferry Cahyanti
BALIKPAPAN – Dengan pengalaman dan belajar usaha batik sekaligus menekuni pembuatan batik, penyandang disabilitas, Agus Sudarmanto, mampu mengembangkan batik Balikpapan yang diberinya nama “Broto Batik Balikpapan”.
Usaha kecil menengah itu mulai dirintis sejak 1 Januari 2018, setelah Agus belajar cara membuat batik dan mengembangkan usaha batik Balikpapan. Lalu, ia memberanikan diri membuka usaha yang diberi branding Broto Batik Balikpapan.
“Broto Batik Balikpapan, mulai 1 Januari 2018 resmi kami kembangkan. Sampai saat ini, lagi buat galeri di Telagasari, depan Kantor KONI Balikpapan, karena kami dibantu pemerintah kota. Jadi, kami mengklonning apa yang dilakukan pernah diajarkan oleh perusahaan Migas Chevron dan belajar bersama teman-teman untuk meneruskan,” terang Agus Sudarman, saat ditemui, Selasa (3/7/2018).
Agus menuturkan, batik yang dikembangkan mulai dari batik printing, batik tulis, dan batik cap. Alasan diberi nama “Broto” yang memberikan khas, bahwa ada orang Jawa yang mengembangkan batik Balikapan.
“Semua batik, mulai dari printing, tulis, dan cap, ada. Hanya tahap baru tulis sama printing, karena cap masih persiapan. Mengesankan, bahwa saya adalah orang Jawa di Balikpapan, dari Surabaya meramaikan batik di Balikpapan,” ulas pria yang menetap di Balikpapan ini.
Menurutnya, usaha batik tersebut, khusus teman-teman difabel sebanyak 15 orang, yang memiliki keahlian berbagai macam, dari menjahit, menulis batik dan mendaurulang yang bisa menghasilkan pendapatan setiap bulannya.
“Pada usaha batik yang dirintis ini tidak menjual kain, namun baju, yaitu kombinasi antara tulis dan printing. Kami khususkan teman-teman difabel, sekitar 15 orang, jadi kalau yang bisa menjahit bisa menjahit baju. Karena difabelnya tidak hanya fisik saja, tapi ada lainnya, sehingga kami memberdayakan sesuai keahliannya,” beber pria asal Surabaya.
Ada pun motif batiknya berbagai macam, dan batik yang dikembangkan juga sudah menjadi HAKI Balikpapan.
“Motifnya semua di Balikpapan yang jadi HAKI Balikpapan, seperti mangrove dan lainnya. Siapa pun yang mau bikin bisa dengan motif Balikpapan,” bilang Agus.
Baju batik Balikpapan, kata Agus, diberi harga dari Rp150 ribu hingga Rp450 ribu. Dan, kini pihaknya bersama teman-teman difabel tengah merintis galeri yang dibantu oleh Pemerintah Kota Balikpapan.
“Sekarang ini galeri masih perombakan. Sementara ordernya dari instansi dan perbankan. Belum buka galeri, tetapi bila galeri sudah buka akan merintis usaha daurulang kertas. Nanti kerjasama dengan kantor-kantor dari kertas-kertas yang tidak digunakan,” imbuhnya.
Agus Sudarmanto menambahkan, usaha yang dirintis tersebut dalam perbulan masing-masing difabel bisa diberikan honor Rp3-4 juta per bulan. “Agar kami tetap bertahan di tengah persaingan, maka mempertahankan kualitas dengan inovasi terus dilakukan,” tambahnya.