Kenalkan Budaya Indonesia, UNS Gelar Short Course Inherit
Editor: Mahadeva WS
SOLO – Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) Solo, Jawa Tengah menggelar kursus singkat Indonesia Herritage (short course Inherit) 2018. Kegiatan tersebut menjadi cara yang dimiliki untuk mengenalkan keberagaman budaya Indonesia kepada masyarakat global.
Kursus singkat kali ini diikuti 14 mahasiswa asing dari 11 negara. Mereka diajak untuk memperlajari dua warisan budaya Indonesia yang sangat dikenal di dunia internasional batik dan jamu. Seperti diketahui, batik telah ditetapkan UNESCO sebagai produk warisan budaya Indonesia.
“Jamu dan Batik seringkali dianggap sebagai warisan kebudayaan yang sangat spesial, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di mancanegara. Masyarakat dunia menganggap jamu dan batik unik dan mempunyai ciri khas dan nilai-nilai masyarakat Indonesia,” terang Kepala UPT Layanan Internasional UNS, Taufik Al Makmun, Senin (9/7/2018).
Program Short Sourse Inherit 2018 digelar secara kerjasama dengan Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Program yang baru pertama kalinya dilaksanakan tersebut akan berlangsung selama dua pekan. Saat di Solo, peserta belajar membuat batik dengan teknik cap dan tulis. Kegiatan dilakukan di Fakultas Seni Rupa dan Desain UNS.
Di tahap ini, seluruh peserta dapat melajar dan melihat langsung keberagaman motif dan teknik batik di Solo. “Kami juga akan ajak peserta melihat koleksi batik di Museum Batik Danarhadi dan produsen batik abstrak Pandono di Laweyan. Selain itu mereka juga menginap selama satu hari di desa Pilang, Sragen, untuk menilik batik yang sangat tradisional,” jelasnya.
Selama menginap di Sragen, peserta short course Inherit dapat melihat langsung batik yang dibuat oleh petani yang sedang tidak melakukan kegiatan bercocok tanam. Dalam kegiatan ini peserta akan memperoleh pengetahuan, nilai-nilai lokal dan praktik pembuatan batik. Melalui short course ini, peserta memperoleh kredit setara dengan empat SKS.
“Harapannya, 14 peserta Inherit course ini akan lebih mengenal kekayaan ilmu pengetahuan, nilai-nilai, dan budaya lokal Indonesia secara mendalam dan mengenalkannya pada dunia internasional”, imbuhnya.
Sementara di Surabaya, peserta belajar dan membuat jamu seperti beras kencur, kunyit asam, dan wedang pokak. Peserta juga diajak mengunjungi penjual jamu tradisional di Pasar Genteng dan outlet salah satu produsen jamu terbesar di Indonesia untuk mengetahui perkembangan produk jamu.
Selain jamu, peserta juga mempelajari teknik pengobatan tradisional pijat Jawa dan Bali. “Mereka membuat sendiri perlengkapan pijat seperti lulur dan bedak dingin dari bahan-bahan alami, dan praktik memijat dengan panduan praktisi professional,” tandasnya.
Adapun 14 mahasiswa peserta short course Inherit 2018 berasal dari Jepang, Amerika Serikat, Tanzania, Peru, Madagaskar, China, Syria, Nigeria, Turkmenistan, Thailand, dan Timor Leste.