Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Bambang Brodjonegoro - Dok: CDN
JAKARTA – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Bambang Brodjonegoro, menekankan pentingnya menjaga inflasi agar tetap terkendali, karena dapat membantu upaya penurunan tingkat kemiskinan yang terus digenjot oleh pemerintah.
“Jadi, yang paling utama untuk mengurangi kemiskinan, nomor satu intervensi pemerintah. Tapi, ada nomor satu paling penting lainnya, yaitu menjaga inflasi,” ujar Bambang, di Jakarta, Rabu (18/7/2018).
Tapi, lanjutnya, menjaga inflasi bukan 100 persen tugas pemerintah, karena banyak faktor penentunya. Inflasi tinggi membuat penambahan menjadi tidak berarti. Karena itu, menjaga inflasi sangat penting.
Menurut Bambang, penanggulangan inflasi terutama pada komoditas yang berkontribusi besar terhadap pengeluaran keluarga miskin, menjadi salah satu kunci pengurangan kemiskinan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jenis komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai garis kemiskinan di perkotaan maupun di perdesaan adalah beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, daging ayam ras, mie instan, dan gula pasir.
Sedangkan komoditi nonmakanan yang berpengaruh besar terhadap nilai garis kemiskinan di perkotaan maupun pedesaan adalah perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi.
“Beras kontribusinya sampai dengan 27 persen. Jadi, intinya beras itu tidak boleh naik, karena sekali naik pengaruhnya sampai dengan 27 persen,” kata Bambang.
Bambang juga menyoroti rokok kretek filter yang berkontribusi sebesar 10,21 persen terhadap nilai garis kemiskinan. Perubahan harga pada komoditi ini, juga akan langsung berpengaruh terhadap kemiskinan.
“Tapi, bukan berarti solusinya jangan naikkan harga rokok, karena nanti argumennya rokok tidak boleh naik, karena itu pengaruh ke inflasi dan kemiskinan. Justru porsi rokoknya harus dikurangi. Rokok itu lebih tinggi kontribusinya dari perumahan. Bayangkan, orang lebih care rokok daripada punya rumah,” ujar Bambang.
Kontribusi rokok kretek filter juga lebih tinggi dari bensin, gula pasir, mie instan, dan daging ayam ras, serta telur, yang harganya saat ini masih tinggi di pasaran.
“Jadi, kalau kita lihat di sin , salah satu upaya pengentasan kemiskinan adalah inflasi pada komoditas yang membentuk garis kemiskinan. Kedua, harus ada di keluarga-keluarga itu semacam belanja yang lebih produktif dan lebih sehat.. Belanja sehat terutama kurangi rokok,” kata Bambang.
BPS mencatat, pada Maret 2018, jumlah penduduk miskin atau penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan di Indonesia mencapai 25,95 juta orang atau 9,82 persen, berkurang sebesar 633,2 ribu orang dibandingkan dengan kondisi September 2017 yang sebesar 26,58 juta orang atau 10,12 persen.
Sementara itu, jika dibandingkan dengan Maret tahun sebelumnya, jumlah penduduk miskin menurun sebanyak 1,82 juta orang. Selama periode September 2017-Maret 2018, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan turun sebanyak 128,2 ribu orang, dari 10,27 juta orang pada September 2017 menjadi 10,14 juta orang pada Maret 2018.
Sementara di daerah perdesaan, turun sebanyak 505 ribu orang, dari 16,31 juta orang pada September 2017 menjadi 15,81 juta orang pada Maret 2018.
Selama periode September 2017-Maret 2018, terjadi inflasi umum sebesar 1,92 persen. Kenaikan harga beras yang cukup tinggi, yaitu mencapai 8,57 persen pada periode September 2017-Maret 2018, disinyalir mengakibatkan penurunan kemiskinan menjadi tidak secepat periode Maret 2017-September 2017. (Ant)