Turunkan Angka Gizi Buruk, Sikka Raih Penghargaan UNICEF
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
MAUMERE — Sebuah lembaga Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNICEF (United Nations Children’s Fund) memberikan penghargaan kepada kabupaten Sikka karena dinilai berhasil dalam menekan angka gizi buruk.
“Pemerintah Kabupaten Sikka menerima penghargaan karena berhasil menurunkan jumlah anak-anak gizi buruk secara signifikan hingga tahun 2017,” sebut Plt. Bupati Sikka Drs. Paolus Nong Susar, Jumat (11/5/2018).
Saat dirinya menjabat wakil bupati Sikka tahun 2013 mendampingi Drs.Yoseph Ansar Rera, kata Nong Susar, saat itu jumlah anak gizi buruk sebesar 40,8 persen berdasarkan Riset Kesehatan Dasar. Maka komitmen pemerintah adalah bagaimana menurunkan angka tersebut.
“Komitmen itulah yang kami tuangkan dalam RPJMD Kabupaten Sikka 2014 hingga 2018. Kami terus berjuang hingga 2017 bisa meraih prestasi yang memuaskan dan berbuah penghargaan dari badan dunia,” ucapnya.
Bersama UNICEF, kata Nong Susar, Pemkab Sikka melaksanakan program Pemulihan Gizi Berbasis Masyarakat (PGBM) di lima puskesmas yang angka gizi buruknya tinggi yakni Magepanda, Wolomarang, Waigete, Watubaing dan Beru.
“Dalam kegiatan PGBM dilakukan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan kader lewat pelatihan konseling Pemberian Makanan Bayi dan Anak atau PMBA. Juga dilakukan pelatihan bagi bidan dan tenaga gizi serta supervisi suportif bagi tenaga kesehatan konselor PMBA,” sebutnya.
Dr. Jee Hyun Rah, Kepala Divisi Gizi UNICE mengatakan, kabupaten Sikka berhasil menurunkan jumlah stunting dan wasting secara signifikan selama tiga tahun terakhir sejak 2015 dan pihaknya menghargai kerja pemerintah, para pemimpinnya dan masyarakatnya.
“Waktu awal intervensi PGBM oleh UNICEF pada tahun 2013, data stunting kabupaten Sikka sesuai Riskesdas atau Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 sebesar 40,8 persen. Pada 2017 turun menjadi 20,9 persen dan itu adalah sebuah kesuksesan,” ungkapnya.
Ditambahkan Jee, keberhasilan ini harusnya terus dipertahankan dan angka 20,9 persen ini harus diturunkan terus hingga nol persen.
“Tentunya ini sebuah kerja keras yang membutuhkan biaya, komitmen dan peran serta semua ,” katanya.
Dalam istilah kesehatan, Stunting adalah kondisi badan pendek-kecil pada anak akibat kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.
Sedangkan Wasting adalah kondisi anak yang sangat kurus atau ceking akibat kekurangan asupan gizi. Hal ini diitandai dengan kurangnya berat badan menurut panjang/tinggi badan anak (BB/TB). Panjang badan digunakan untuk anak berumur kurang dari 24 bulan dan tinggi badan digunakan untuk anak berumur 24 bulan ke atas.