Sepanjang Ingatan

CERPEN IIN FARLIANI

DAHULU ia berpikir tidak akan lagi mengunjungi kota kelahirannya. Ia sudah merasa kerasan tinggal di perantauan. Tapi, akhirnya ia pulang juga. Sekarang ia termenung-menung seorang diri sambil berjalan di jalanan kotanya.

Kota ini sudah banyak berubah, pikirnya. Kalau dulu di hadapannya, jarak lima langkah dari tempatnya berdiri, ada penjual soto yang gemar mengizinkannya berutang, saat ini yang menjulang di hadapannya deretan ruko yang masing-masing berlantai dua.

Kalau dulu di sepanjang kiri jalan itu ada barisan pohon asam tempat pedagang sepatu kulit yang menggelar dagangannya hanya dengan beralaskan kardus, sekarang yang nampak hanya minimarket. Alangkah enak kalau duduk-duduk di bawah pohon asam sambil minum es serut.

Tapi, pohon asam itu tidak ada lagi dan ia sendiri masih mencari tempat nongkrong yang enak di sepanjang jalan itu.

Ia berjalan terus sepembawa kakinya. Ia melewati pedagang buah yang menyimpan buah-buahannya di bagasi mobil yang terbuka. Di samping mobil pedagang buah, ada pedagang pakaian yang menggantung jualannya juga di bagasi mobil. Di samping pedagang pakaian, ada lagi pedagang kue yang memperlihatkan jajanan kuenya di bagasi mobil.

Ternyata sepanjang jalan itu banyak sekali orang yang berjualan menggunakan mobilnya dan pedagang-pedagang itu nampak parlente. Tidak dilihatnya pedagang-pedagang semasa kecilnya dulu yang sering menampakkan wajah berkeringat seolah mereka setiap harinya hanya menghabiskan waktu untuk bekerja dan bekerja.

Sudah sampai di mana aku? Tanyanya seolah lupa kalau ia sedari tadi hanya berjalan-jalan tanpa tahu di mana akan berhenti. Kawannya yang bernama Mardi berjanji akan menemuinya di warung mie ayam, dekat rumah kawan mereka dulu, Djordi Serrano.

Ya, si Djordi itu, kawan mereka yang terkaya ketika masih di sekolah dasar. Orang tuanya mempunyai usaha kerajinan kayu. Ia ingat Djordi pernah memberinya kotak perhiasan dari kayu yang ditempeli kulit kerang. Ia ingat bersama Djordi dan Mardi mereka suka menghabiskan waktu untuk bermain bola.

“Kau jangan pangling ketika sudah sampai di sana. Rumah Djordi tidak ada lagi. Tapi, kau ingat pura di sampingnya? Pura itu masih ada. Tunggu saja aku di sekitar tempat itu,” kata Mardi melalui telepon kemarin.

Benar. Rumah Djordi tidak ada lagi. Ya Tuhan, gumamnya, rumah itu cantik sekali, banyak hiasan dari kayu dan mengapa sekarang yang ada di samping pura itu minimarket lagi! Mengapa keluarga Djordi menghilangkan rumahnya sendiri? pikirnya kekanak-kanakan.

Ia sendiri kemudian tertawa kecil setelah memikirkan pertanyaannya sendiri. Tapi, ia tiba-tiba sedih setelah melihat pura di hadapannya. Pura itu begitu tua dan warnanya sudah semakin menyamai warna lumut yang memenuhi bangunannya. Ada bunga-bunga yang telah kering di tangga menuju gerbang pura.

Ia mengamati bunga-bunga kering itu. Angin membuyarkan kumpulan bunga kering itu yang kemudian bercampur bersama debu.

Ia melihat lagi ke arah pura dan ia teringat akan ayahnya. Barangkali bukan hanya karena pura itu tapi juga karena matahari semakin cepat turun dan ia seringkali teringat dengan masa-masa lampau apabila matahari turun dan langit telah berubah warna menjadi kuning kemerah-merahan.

Alangkah enak kalau masih punya orang tua, pikirnya. Alangkah tidak akan jadi sepi rasanya kembali ke kota ini.

“Ke mana kau tendang bola itu?” tanya ayahnya.

“Bola itu masuk ke pura,” jawabnya gugup.

“Kau menendangnya ke pura?”

“Tidak. Bola itu masuk sendiri ke pura.”

“Bagaimana mungkin bola itu masuk sendiri jika kau tidak menendangnya!” bentak ayahnya.

Ia ingat ayahnya, setiap hari setelah selesai bekerja mengajaknya ke pura itu untuk menunggu kedatangan pemiliknya agar mereka diizinkan masuk mengambil bola. Ayahnya juga mewanti-wantinya agar lekas meminta maaf terlebih dahulu apabila mereka bertemu dengan pemiliknya.

Tapi, gerbang pura itu tetap terkunci selama berhari-hari dan mereka tidak bertemu dengan siapa pun yang menjadi pemilik pura itu. Ia diam-diam menangis setiap malam mengenang bola kesayangannya. Yang paling ia ingat adalah perkataan ayahnya. Ayahnya gemar mengulang-ulang kalimat ini di telinganya, “Benci sekali aku pada orang yang pengecut!”

Perkataan itu sangat sering didengarnya sehingga sekarang ia masih hafal. Berhari-hari ia dan ayahnya masih menyempatkan waktu untuk melewati pura itu, tapi pura itu tetap terkunci. Dan berhari-hari pula ia mendengar perkataan ayahnya itu.

Meski ibunya berkali-kali menghiburnya dengan berjanji membelikan bola yang baru, ia tetap menginginkan bola yang masuk ke dalam pura itu. Bola itu pemberian ayahnya ketika ia berulang tahun yang ke sepuluh. Ayahnya yang seorang pemarah, tak disangka akan memberikannya kado berupa bola. Itulah mengapa ia sangat terkesan dan tidak menginginkan lagi bola yang lain.

Kemudian secara tidak sengaja ia kembali melewati pura itu, kali ini tanpa ditemani ayahnya. Ia melihat gerbang pura itu terbuka. Sesaat ia merasa takjub dan ingin segera berlari masuk mencari bolanya.

Ia bertemu dengan seorang kakek yang telah selesai bersembahyang. Ia menanyakan perihal bolanya dengan keberanian yang telah ia kumpulkan berhari-hari. Kakek itu sangat ramah padanya bahkan mengajaknya bersama-sama mencari bola itu di sekitar pura.

Ketika ia berhasil membawa pulang bolanya, ia tak henti-hentinya bersorak dalam hati, “Aku bukan pengecut! Aku bukan pengecut!”. Ia seperti akan mengabarkan keberhasilannya kepada semua orang. Dan tentu yang pertama kali ia kabarkan adalah ayahnya yang gemar bersikap dingin itu.

Barangkali aku memang pengecut, pikirnya. Ia berjalan terus sambil menunduk. Kakinya tak henti-hentinya menyepak segala sesuatu yang ia temui di jalan. Kulit manggis, kulit nangka, kulit rambutan tersepak-sepak oleh kakinya. Ia menyepak terus dan ia baru sadar ketika melihat ujung sepatunya yang telah sobek. Jempol kakinya menyembul keluar. Teman-teman di perantauan suka mengoloknya jika melihat sepatunya itu.

“Ini karena kau malas bekerja,” celoteh mereka. “Kau malas bekerja dan itu sebabnya kau tidak mampu membeli sepatu baru.” Kata mereka lagi, “Tidak akan ada gadis yang mau berkencan denganmu oleh sebab sepatumu itu!” Dan meledaklah tawa mereka setelah mengucapkan olok-olok itu.

Matahari semakin turun dan langit yang tadi kuning kemerah-merahan perlahan-lahan berubah gelap. Ia terkejut ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Ia sudah berhenti di depan sebuah kafe. Ia melihat Mardi di sana sedang melambaikan tangannya. Bukankah Mardi mengatakan kalau mereka akan bertemu di warung mie ayam? Mengapa pula sekarang di kafe?

“Aku yang akan mentraktir,” kata Mardi menjawab kebingungannya ketika ia sedang sibuk meraba dompetnya yang kosong.

Mereka duduk sambil menunggu pesanan datang. Mardi bertanya tentang pekerjaannya dan ia balik bertanya tentang pekerjaan Mardi. Kawannya itu sudah menikah dan balik bertanya kapan kira-kira ia akan kawin.

Mereka mengobrol sambil ditemani nyanyian dari penyanyi kafe di atas panggung. Nyanyian itu terputus-putus karena mikropon yang sepertinya tidak berfungsi dengan baik. Ia merasa jengkel mendengar nyanyian yang terputus-putus itu.

Setiap tiba pada lirik “Aku cinta padamu”, mikropon tidak berbunyi dan suara si penyanyi hanya bergema di atas panggung. Namun, ketika tiba pada lirik “Aku ingin mati dalam pelukanmu”, mikropon berbunyi lagi dan suara si penyanyi terdengar sangat jelas menjangkau seluruh ruangan kafe.

Ia benci sekali mendengar lagu itu.

“Marina sudah kawin,” kata Mardi.

Ia diam sambil mengaduk-aduk jusnya. Ketika itu lirik “Aku cinta padamu” hanya terdengar di sekitar panggung.

“Anaknya tiga. Sudah besar-besar semua. Suaminya seorang pegawai.”
Ia tetap diam sambil tetap mengaduk-aduk jusnya. Kali ini, lirik “Aku ingin mati dalam pelukanmu” terdengar sangat nyaring.

“Aku dengar sekarang ia sedang mengandung anak keempat.”

Sekarang tidak bisa ditahannya lagi ucapannya dan berkatalah ia dengan sangat keras sampai mengejutkan Mardi, “Bahkan jika ia beranak dua puluh biji! Apa urusannya denganku?”

Mardi tertawa sambil menahan perutnya yang terguncang. “Lekaslah kawin. Jangan kau ingat Marina itu lagi.”

Ia melihat ke arah luar, ke jalanan yang ramai itu. “Kota ini sudah berubah. Bahkan orang-orangnya juga,” sahutnya dalam hati.

Ia merasa hampa. Dadanya sesak menahan sesuatu yang berat yang ia sendiri bahkan tak tahu apa penyebabnya. Kota itu atau orang-orangnya? Atau kedua-duanya? Kalau nanti sampai di rumah, ia akan lekas tidur dan berharap esoknya tidak mengingat lagi kesedihannya. ***

Iin Farliani lahir di Mataram, Lombok, 4 Mei 1997. Mahasiswa Program Studi Budidaya Perairan, Universitas Mataram dan santri di Komunitas Akarpohon. Menulis cerpen dan puisi. Karyanya antara lain terbit di surat kabar Padang Ekspres, Suara Merdeka, basabasi.co, Riau Pos, Harian Rakyat Sultra, Radar Surabaya, Banjarmasin Post, Sumut Pos, Serambi Indonesia, Indo Pos, Lombok Post, Suara NTB, Jurnal Santarang, Metro Riau. Cerpennya terangkum dalam antologi Melawan Kucing-Kucing (2015). Kumpulan cerita pendeknya yang akan terbit berjudul Taman Itu Menghadap ke Laut (Akarpohon, 2018).

Redaksi menerima kiriman cerpen. Tema dan panjang naskah bebas yang pasti tidak SARA. Naskah orisinil, belum pernah tayang di media online maupun cetak, dan juga belum pernah dimuat di buku. Kirimkan naskah beserta biodata dan nomor ponsel ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

 

Lihat juga...