Radikalisme dan Terorisme Masih jadi Ancaman Nyata
Editor: Koko Triarko
MALANG — Radikalisme dan terorisme masih menjadi ancaman nyata bagi keutuhan bangsa Indonesia. Pekan lalu, aparat gabungan dari Densus 88 antiteror Polda Jawa Barat berhasil mengamankan tiga orang terduga teroris.
Pengungkapan ini setidaknya menjadi bukti, bahwa jaringan teroris masih terus bergerak, sembari merancang aksi yang tentunya tidak diinginkan terjadi di Indonesia.
Hal ini disampaikan Kasi Partisipasi Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Letkol Laut Setyo Pranowo, saat membuka acara ‘Penguatan Kapasitas Penyuluh Agama Dalam Menghadapi Radikalisme’, di Malang, Rabu (9/5/2018).
Menurutnya, BNPT sebagai lembaga yang mendapatkan mandat untuk melaksanakan penanggulangan terorisme, terus berupaya menekan kejahatan luar biasa tersebut agar bisa diatasi.
“Tidak hanya dengan melakukan tindakan secara tegas, tetapi juga menjalankan program-program yang bersifat penanganan secara lunak, yakni salah satunya dengan melakukan penguatan kapasitas penyuluh agama dalam menghadapi radikalisme,” terangnya.
Informasi yang didapatkan dari Kementerian Agama, menyebutkan, bahwa saat ini di setiap desa di seluruh Indonesia telah ditempatkan masing-masing delapan orang penyuluh agama, untuk melakukan penyuluhan di bidang pemberantasan buta aksara, zakat, wakaf, HIV termasuk juga di dalamnya penyuluhan tentang pemberantasan radikalisme.
“Kami sangat mengapresiasi penempatan penyuluh agama dengan tugas-tugasnya tersebut. Karena ini merupakan bentuk sinergitas antarlembaga dalam pencegahan terorisme,” ujarnya.
Penyuluh agama dapat melaksanakan doktrin keilmuannya untuk mencegah radikalisme, karena penyuluh agama merupakan orang-orang yang sudah memahami situasi dan kondisi tempatnya bertugas.
“Dengan kualifikasi yang dimiliki, kami mendorong penyuluh agama menjadi bagian dan garda terdepan dalam menghadapi terorisme dan radikalisme,” sebutnya.
Karenanya, kegiatan penyuluh agama dalam pencegahan terorisme melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) merupakan ikhitar mengajak masyarakat untuk mewaspadai radikalisme, dalam rangka merawat dan menjaga kebhinekaan Indonesia.
“Karena ketika bangsa ini kuat, masyarakat berani, dan ketika seluruh komponen bangsa bersatu menjadikan terorisme sebagai musuh bersama, maka perdamaian akan terjamin,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua FKPT Jawa Timur, Soubar Isman, menjelaskan tujuan diadakannya penguatan kapasitas penyuluh agama dalam menghadapi radikalisme adalah untuk memberikan penguatan serta pemahaman kepada penyuluh agama di seluruh Jawa Timur dan seluruh Indonesia, bahwa ajaran cinta, kasih dan damai dimiliki oleh semua agama.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan pemahaman mengenai bahaya radikalisme dan terorisme, serta pencegahannya yang mampu dilakukan oleh seluruh elemen masyarakat, termasuk penyuluh agama sebagai lini terdepan dalam memberikan pemahaman bahaya radikalisme,” ungkapnya.
Selain itu, pelatihan kepada penyuluh agama dalam upaya pencegahan terorisme juga dilakukan melalui tulisan-tulisan cinta kasih yang kemudian akan dirangkum dalam buku dakwah nusantara berkemajuan dengan judul ‘Ayat-Ayat Damai’, sehingga bisa dibaca oleh seluruh masyarakat.