Ketersediaan Air Minim, Warga Sentolo Pilih Sewakan Lahan pada Petani Melon
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
YOGYAKARTA — Semakin minimnya pasokan air hujan di musim kemarau, ditambah adanya perbaikan bendungan Kalibawang membuat sejumlah petani di sekitar kawasan kec Sentolo, Kulonprogo memilih menyewakan lahan pertanian mereka.
Hektaran lahan pertanian yang pada musim tanam kedua ini biasa ditanam padi, mereka sewakan pada petani lain asal luar desa untuk ditanam melon. Seperti dilakukan salah seorang petani asal desa Sentolo, Kec Sentolo, Kulonprogo, Ahmad.
Ia memilih menyewakan sekitar 1,5 hektare lahan pertanian karena kesulitan mendapatkan air irigasi.
“Biasanya saat musim tanam kedua seperti ini saya tanam padi. Nanti musim tanam ketiga baru kedelai. Tapi karena ini sudah tidak ada irigasi, maka saya sewakan. Nanti sambil menunggu perbaikan bendungan Kalibawang selesai,” ujarnya belum lama ini.
Ahmad mengaku baru pertamakali menyewakan lahan pertanian miliknya untuk ditanam melon. Harga sewa sendiri berkisar antara Rp1.200 rupiah per meter per satu kali musim tanam.
Sementara itu, salah seorang petani melon asal Lendah, Kulonprogo, Untoro mengaku memilih menyewa lahan hingga ke daerah Sentolo karena pertimbangan harga yang lebih murah. Selain itu lahan yang belum pernah ditanam melon cenderung lebih subur.
“Disini harga sewa lebih murah sekitar Rp1.200 per meter. Kalau di tempat saya sudah mencapai Rp1.700 per meter. Padahal disana tanahnya kurang bagus karena sudah sering ditanam melon, beda dengan disini yang masih sangat subur,” ungkapnya.
Untoro (44) salah seorang petani melon asal dusun Bangeran, Lendah, mengaku menyewa sekitar 1,5 hektare lahan di kawasan Sentolo pada musim tanam kedua ini.
“Disini kondisi tanah sangat bagus, karena sama sekali belum pernah ditanam melon. Sehingga jarak bedeng saya buat ukuran 3,5 meter. Kalau terlalu kecil nanti pertumbuhan justru terhambat, karena tanahnya subur,” ujarnya.
Mengeluarkan modal sekitar Rp56 juta untuk sewa tanah, membeli benih, pupuk, hingga pestisida dan biaya solar untuk disel, Untoro berharap mendapatkan keuntungan setimpal minimal dua kali biaya modal.
Ia sendiri memilih menanam satu bulan belakangan untuk menghindari jatuhnya harga melon akibat panen raya.
“Ini melon usia sekitar 25 hari. Diperkirakan akan panen nanti setelah lebaran. Memang sengaja dibuat seperti itu untuk menghindari panen pada pertengahan puasa. Karena biasanya harga jatuh karena dimana-mana panen raya,” ungkapnya.
Harga melon sendiri dikatakan Untoro saat ini cukup bagus yakni mencapai Rp4.500 per kilo. Harga itu menurun dari sebelumnya yang sempat mencapai Rp7.000 per kilo. Jika sedang tinggi-tingginya harga melon dikatakan bisa mencapai Rp8.000-9.000 ribu per kilo, meski saat jatuh hanya dihargai Rp2.500 per kilo.
“Untuk kendala disini adalah ketersediaan air. Air harus mengambil dari sungai Progo dengan cara disedot memakai mesin. Kalau sumur bor tidak bisa. Jadi harus bergiliran dengan petani lain. Padahal semakin besar usia melon semakin butuh disiram,” katanya.