Warga Bakauheni Keluhkan Dampak Proyek JTTS

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG — Beroperasinya jalan tol trans Sumatera (JTTS) ruas Bakauheni-Terbanggibesar di stasioning (STA) 00 hingga 8,9, berimbas pada lingkungan tempat tinggal warga setempat.

Riadi (40) bersama warga lain di Dusun Cilamaya, Desa Bakauheni, menyebut semenjak pembangunan proyek JTTS sejumlah mata air warga ikut hilang, sementara aliran air sungai yang semula jernih berubah menjadi putih kecoklatan. Material pembangunan JTTS membuat warga harus memanfaatkan air dari sumur bor dan sebagian membeli air bersih mempergunakan galon.

Riadi bersama istrinya mencari pasir sungai menggunakan kendaraan untuk dibawa ke lokasi pengumpulan [Foto: Henk Widi]
Riadi yang bekerja sebagai pencari pasir tradisional menggunakan cangkul dan sekop, menyebut sebelum proyek JTTS tahun 2015, air Sungai Kubang Gajah masih jernih, dan bisa dipergunakan untuk mandi, mencuci dan bahkan bisa diminum pada sumber belik di tepi sungai.

Hingga JTTS dioperasikan pada Januari 2018, dampak kebutuhan air bersih semakin terlihat dengan pendangkalan Sungai Kubang Gajah.

“Pastinya kebutuhan air bersih di daerah kami sudah terganggu dan ikut berimbas pada mata pencaharian kami sebagai penambang pasir tradisional,” papar Riadi, saat ditemui di Sungai Kubang Gajah, Rabu (18/ 4/2018).

Perubahan kualitas pasir tersebut, kata Riadi, ditandai dengan perubahan warna pasir yang semula hitam menjadi putih. Pasir berwarna putih tersebut merupakan proses longsoran material padas sekaligus tanah merah dampak pembangunan JTTS. Meski JTTS sudah dioperasikan, kualitas pasir belum kembali seperti sediakala. Kualitas pasir yang menurun ikut mempengaruhi harga jual yang rendah.

Selain mencemari air sungai, longsoran material tol juga membuat pasir yang semula bisa dijual Rp130.000 per kubik, turun menjadi Rp60.000 per kubik. Kondisi tersebut ikut mempengaruhi pendapatan warga yang sehari-hari berprofesi sebagai penambang pasir tradisional di sepanjang Kali/Sungai Kubang Gajah.

Ada enam titik pencarian pasir yang menjadi sumber penghasilan warga di antaranya Gubuk Seng, Sesupi, Kubang Gajah dan Minangrua.

Penurunan kualitas pasir diakui Riadi juga dampak dari perubahan alih fungsi lahan di wilayah tersebut. Areal yang semula ditanami oleh berbagai jenis pohon, sejak sepuluh tahun terakhir berubah menjadi  lahan pertanian jagung. Sistem perakaran tanaman jagung diakui Riadi mengakibatkan longsoran tanah merah dan padas masuk ke alur sungai. Imbasnya sungai yang di beberapa titik memiliki kedalaman satu hingga dua meter tertimbun material tanah.

“Selain berdampak secara ekologi, kualitas air menurun, sungai tercemar, mengalami pendangkalan hasil tambang pasir tradisional kami dihargai rendah,” papar Riadi.

Harga pasir Sungai Kubang Gajah bahkan lebih rendah, selisih Rp40.000 dengan pasir Sungai Way Pisang seharga Rp100.000 per kubik. Kondisi tersebut berlangsung selama hampir empat tahun dari proses awal proyek JTTS.

Pihak pelaksana JTTS telah memberi kompensasi kepada warga terdampak dengan memberi fasilitas sumur bor. Meski demikian, dampak lebih besar untuk lingkungan sungai diprediksi masih akan berlangsung beberapa tahun ke depan.

Hal senada diungkapkan oleh Suleman (41), yang bekerja sebagai pencari pasir sungai kubang gajah. Ia menyebut, penggusuran lahan untuk proyek JTTS ikut menyumbang sejumlah penebangan pohon dan mengubah kontur alam di wilayah tersebut. Bukit-bukit serta sumber sumber mata air sebagian diratakan sebagian berubah menjadi ladang jagung pascadigusur untuk material urukan lahan tol.

“Kami masih mempertahankan tanaman bambu apus yang jumlahnya ratusan rumpun, menanam berbagai jenis pohon agar tidak longsor,” beber Suleman.

Keberadaan pohon bambu dan berbagai jenis tanaman lain di sepanjang aliran sungai Kubang Gajah, membantu longsor saat banjir. Meski sempat terjadi banjir akibat hujan deras, berkat keberadaan pohon bambu dan pohon lain daerah aliran Sungai Kubang Gajah terjaga dari longsor. Selain itu, keberadaan pohon di wilayah tersebut menjaga kualitas pasir kembali seperti semula seperti sebelum ada proyek JTTS.

Pada beberapa bagian sungai, Suleman menyebut kualitas pasir mulai kembali pulih dengan warna lebih hitam, di antaranya di Gubuk Seng. Imbasnya di wilayah tersebut per kubik pasir bisa dihargai Rp80.000 untuk bahan baku pembuatan paving blok dan gorong-gorong. Saat material tol di sepanjang STA 00 hingga STA 8,9 ditumbuhi tanaman dan rumput pada sisi lereng, Suleman berharap kondisi Sungai Kubang Gajah bisa pulih.

“Sebagian sudah dihijaukan dengan pohon dan juga rumput, sehingga material tanah tidak longsor, kualitas air dan pasir semoga akan pulih beberapa tahun ke depan,” paparnya.

Sebagai salah satu tokoh di Cilamaya, ia juga mengimbau warga tidak merusak pohon bambu apus, bambu hijau di sepanjang DAS Kubang Gajah. Sebab, kondisi air di sungai itu akan normal dengan semakin banyaknya pohon resapan air di wilayah tersebut. Kualitas air dan pasir bahkan bisa kembali seperti puluhan tahun silam.

Lihat juga...