Tangkap Ikan, Warga Lamsel Masih Pergunakan Sistem Tawu

Editor: Satmoko

LAMPUNG – Sistem penangkapan ikan air tawar pasca banjir dengan tawu masih diterapkan oleh sebagian warga di Lampung Selatan (Lamsel).

Toto (38) dan Dani (30) salah satu pencari ikan di desa Pematangbaru kecamatan Palas menyebut sistem tawu merupakan cara mencari ikan tradisional. Bermodalkan ember untuk menguras (tawu) air pada cekungan guna memindahkan aliran air dan menguras cekungan dengan potensi ikan yang terjebak pasca-banjir.

Pasca-banjir sepekan sebelumnya, Toto menyebut banyak ikan air tawar budidaya milik warga yang hanyut terbawa aliran air. Sebagian ikan disebutnya masih terjebak di cekungan-cekungan sawah dan lubuk-lubuk sungai kecil.

Peluang mencari ikan air tawar disebutnya dengan bermodalkan ember dilakukan melalui proses pengurasan cekungan. Selain tanpa alat proses tersebut aman dilakukan karena tanpa mempergunakan bahan kimia untuk membunuh ikan.

Toto (kiri) dan Dani (kanan) melakukan proses pencarian ikan dengan sistem tawu pada aliran air pasca banjir [Foto: Henk Widi]
“Bermodalkan siap kotor oleh lumpur dan tenaga menguras air pada cekungan sejumlah ikan air tawar yang hanyut dari kolam milik warga bisa kita peroleh diantaranya nila, emas dan lele serta belut,” terang Toto, saat ditemui Cendana News tengah melakukan proses pencarian ikan dengan sistem tawu, Sabtu (7/4/2018).

Proses pengurasan dilakukan dengan membuang air menggunakan ember ke sisi bagian bawah aliran air. Proses selanjutnya cekungan yang telah surut ikan bisa diambil dengan tangan.

Sebagian ikan bahkan bisa ditangkap dengan sistem gogo menggunakan tangan tanpa bantuan alat. Jenis ikan-ikan yang diperoleh berupa ikan wader, nila, udang air tawar kerap dengan mudah ditangkap saat air surut.

Setelah proses pengurasan pada bagian atas, cekungan yang sudah terkuras akan dikembalikan seperti semula dengan diisi air. Cara tersebut diakui Toto menghindari kematian ikan kecil yang masih bertahan hidup. Selain memperoleh ikan air tawar jenis nila dan emas, sejumlah ikan lele dan patin bahkan diperolehnya.

Ikan lele dan patin yang masih kecil sebagian akan dipelihara dalam kolam yang dimiliki sebagian yang besar diolah menjadi peyek ikan, dipepes untuk makan bersama.

“Karena saya memiliki kolam ikan air tawar dengan sistem terpal proses tawu dan gogo bisa menjadi cara mencari bibit ikan untuk dibesarkan,” papar Toto.

Sistem tawu dan gogo disebut Toto kerap dilakukan pada aliran sungai kecil yang melintasi areal persawahan. Jalur sepanjang ratusan meter diakui Toto ditelusuri cukup bersama dua orang dengan pembagian tugas menguras dan menjaga bendungan aliran air. Bendungan aliran air selama proses tawu disebutnya harus dijaga agar tidak jebol selama proses mencari ikan.

Ikan nila dan emas yang lepas dari kolam milik warga terbawa arus dan terjebak dalam cekungan berhasil diperoleh oleh Toto dan Dani [Foto: Henk Widi]
Dani, rekan Toto dalam proses tawu ikan dan gogo di cekungan dan sungai kecil
mengaku memperoleh hampir dua kilogram ikan. Ikan yang diperoleh disebutnya merupakan jenis ikan air tawar yang hidup secara liar di antaranya sepat siam, nila, wader dan mujahir. Sebagian merupakan ikan budidaya yang lepas dan hanyut dari kolam saat banjir.

“Jika tidak pasca banjir kami jarang melakukan proses tawu dan gogo karena potensi ikan justru paling banyak dari ikan yang hanyut dari kolam,” cetusnya.

Aliran sungai kecil yang melintasi areal persawahan di wilayah tersebut diakui Doni pada bagian hulu merupakan kolam ikan tanah dan kolam permanen tepi sungai. Akibat hujan deras berimbas banjir mengakibatkan warga pada bagian hilir kerap panen ikan secara dadakan.

Pasca banjir warga bahkan kerap mempergunakan seser atau jaring mencari ikan yang lepas. Sebagian warga seperti Toto dan Dani menggunakan cara tradisional yang dikenal dengan tawu dan gogo.

Pasca proses pencarian ikan dengan tawu dan gogo,aliran air pada cekungan dan sungai kecil diakuinya akan kembali normal. Sebab cekungan air yang sudah dibendung akan dialirkan kembali sehingga ikan ikan yang tidak tertangkap bisa hidup kembali dengan normal.

Di wilayah tersebut diakui Dani telah diberlakukan aturan larangan pencarian ikan dengan mempergunakan setrum listrik dan obat kimia. Sebab dengan setrum dan obat kimia akan mematikan bibit ikan kecil yang berpotensi berkembang di sungai Way Asahan di wilayah tersebut.

Lihat juga...