Tambah Pemasukan dengan Budidaya Tanaman Bumbu di Perkarangan
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
LAMPUNG — Warga desa Pasuruan Penengahan Lampung Selatan memanfaatkan perkarangan rumah untuk menanam tanaman bumbu dapur. Hal tersebut dilakukan untuk menyiasati permintaan yang terus meningkat.
Lina (33) salah satu warga menyebutkan, usaha rumah makan di Jalan Lintas Sumatera yang terus menjamur, pembuat jamu, menjadi salah satu peluang usaha meski memanfaat lahan yang kecil. Jenis yang dibudidayakan di antaranya, kunyit, laos, jahe, kencur, temu lawak, sirih dan serai, daun jeruk sate.
Lina menyebutkan, tahun sebelumnya kebutuhan akan kunyit mencapai lima kuintal per pekan. Pada tahun ini sebanyak tujuh kuintal kunyit dikumpulkannya untuk memasok sejumlah pedagang bumbu dapur. Proses penanaman, perawatan dan pemanenan yang mudah membuat ia membudidayakan berbagai jenis tanaman bumbu di pekarangan.
“Awalnya penanaman sengaja digalakkan oleh kelompok wanita tani Mawar di desa Pasuruan untuk tanaman obat keluarga. Seiring banyak pembeli, jumlah tanaman ditambah,” terang Lina yang ditemui Cendana News tengah memanen sebagian tanaman kunyit di pekarangan rumahnya, Senin (9/4/2018)
Peminat tanaman bumbu diakuinya merupakan pengepul hasil pertanian yang akan dijual ke pasar lokal dan dikirim ke Pulau Jawa. Pengepul diakuinya kerap mengirim sebanyak 10 hingga 15 kuintal kunyit dan berbagai jenis tanaman bumbu lain ke sejumlah pasar di Serang Banten. Sebagian besar tanaman bumbu diakui Lina banyak dibudidayakan di kebun bersama dengan tanaman pisang tanpa mengganggu pertumbuhan tanaman lain.
Di tingkat petani jahe dibeli dengan harga Rp10.000 per kilogram, kunyit Rp4.000, laos Rp5.000, kencur Rp30.000, daun serai Rp3.000, daun jeruk sate Rp2.000, daun kunyit Rp1.000. Harga tersebut bahkan diprediksi akan meningkat menjelang bulan suci Ramadan.
“Pengepul juga melihat peluang permintaan untuk stok bulan Ramadan mulai sekarang sudah membeli dari petani karena jenis tanaman bumbu bisa bertahan lama,” beber Lina.

Rani (40) salah satu warga yang juga anggota KWT Mawar menyebut membudidayakan berbagai jenis tanaman bumbu. Selain dipergunakan untuk keperluan pribadi tanpa harus membeli juga bisa dijual.
Kebutuhan akan bumbu disebut Rani juga semakin meningkat seiring dengan banyaknya warga yang akan hajatan seperti pernikahan. Resepsi dengan menyediakan berbagai menu kuliner bahkan membuat tingkat kebutuhan bumbu meningkat.
Rani dan sejumlah petani juga memanfaatkan pekarangan untuk menanam sayuran. Pemanfaatan bahkan dilakukan dengan membuat ajir bambu dan menanam kacang panjang.
Selain memberi nilai estetika, tanaman pagar tersebut bisa dimanfaatkan sebagai sayuran dan menekan uang belanja. Jenis tanaman laos dan serai yang berfungsi sebagai pagar bahkan bisa menghasilkan puluhan hingga ratusan ribu sekali panen.