Rekreasi Wisata dan Edukasi di Museum Transportasi TMII
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
JAKARTA — Taman Mini Indonesia Indah (TMII) menghadirkan ragam wahan rekreasi dan pengetahuan. Salah satunya adalah Museum Transportase yang dibangun di ujung timur area di atas lahan seluas 6,5 hektare.
Kepala Museum Transportasi TMII, Danang Setyo Wibowo mengatakan, Museum ini gagasan Ibu Tien Soeharto. Ide awalnya bermula saat peresmian Jembatan Kesaben, Jawa Tengah pada tahun 1975.
Saat peresmian itu, Ibu Tien melihat iring-iringan lokomotif. Ia sangat terkesan dan terbersit untuk mendirikan museum lokomotif di TMII.
“Gayung pun bersambut, Menteri Perhubungan Azwar Annas, saat itu menyetujui dan mengatakan kenapa tidak museum transportasi. Kerena museum lokomotif sudah ada di Ambarawa,” jelas Danang kepada Cendana News, Kamis (26/4/2018).
Museum Transportasi ini mewakili semua sektor yakni darat, laut, udara, dan kereta api disetujui dengan pemancangan tiang pertama pada tanggal 14 Februari 1984.
“Museum Transportasi diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 20 April 1991,” ujar Danang.
Dijelaskan, Museum ini dikelola oleh Kementerian Perhubungan sebagai tempat penyimpanan benda-benda dan wahana sejarah pengembangan dunia transportasi di Indonesia.
Adapun tujuan utamanya, sebut Danang, adalah arsip negara dan wahana edukasi agar masyarakat mengetahui perjalanan sejarah dari jenis-jenis alat transportasi yang ada di Indonesia.
“Total semua ada 1.003 koleksi transportasi, baik yang asli, reflika, miniatur dan diorama,” ujarnya.
Pada setiap alat, baik asli maupun reflika diberikan keterangan, sehingga pengunjung mengetahui nama dan sejarah alat transportasi tersebut.
Memasuki halaman utama pintu gerbang museum, yakni di sebelah kanan, jelas dia, pengunjung disambut helikopter tim SAR-HR-1525 warna kuning.
Di belakang helikopter, tampil pesawat Garuda Indonesia. Setiap pengunjung diperbolehkan untuk menaiki ruang pesawat, duduk di kursi dan masuk ke ruang kokpit untuk merasakan aura menjadi seorang pilot.
Berlanjut ke sebelah kiri jalan terdapat kereta api warna hijau dan putih dengan dinding dan alas terbuat dari kayu. Ini adalah kereta api bersejarah yang dipakai Presiden Soekarno beserta rombongan menuju kota Yogya karena kepindahanan ibukota.
Di gerbong belakang terdapat tulisan “Merdeka ataoe Mati” yang bermakna perjuangan rakyat Indonesia berani mati melawan penjajah.
Sedangkan koleksi alat transportasi di dalam museum terbagi empat ruangan, yaitu anjungan pusat, darat, laut, dan udara.
Anjungan pusat tersaji alat-alat transportasi tradisonal zaman dulu seperti andong, perahu layar, becak dan cikar atau delma yang ditarik oleh sapi.
Cikar ini adalah transportasi peninggalan penjajahan Jepang, yang kala itu digunakan untuk keperluan logistik peralatan militer di Surabaya dan Mojokerto, Jawa Timur pada 1943.
Melangkah ke sebelah selatan ada anjungan laut yang menampilkan koleksi kano dari Papua dan kapal garam dari Madura. Juga terdapat miniatur-miniatur kapal tengker, kapal nelayan dan lukisan kapal Pinishi.
Di luar anjungan laut, tampil sebuah dermaga buatan untuk bersandar kapal-kapal. Terdapat pula lampu terapung yang biasa digunakan untuk penunjuk arah di tengah laut.

Di anjungan laut ini terdapat mushola yang digunakan pengunjung untuk menunaikan ibadah shalat. Dari mushola, pengunjung bisa berlanjut ke Taman Lalu Lintas untuk melihat ragam rambu-rambu lalu lintas yang ada d Indonesia.
“Taman Lalu Lintas ini tersedia penyewaan becak mini, pengunjung bisa keliling museum,” ujar Danang.
Selain itu, pengunjung yang ingin menggelar acara bisa menyewa area Taman Lalu Lintas ini.
Berlanjut ke sebelah utara, adalah anjungan darat menyuguhkan koleksi kendaraan umum seperti bus tingkat, kontainer, kereta api dan lainnya. Juga kendaraan zaman dulu, yaitu oplet, taxi, sedan mercedez benz tahun 1968.
Dalam ruangan anjungan darat, terdapat becak yang ditarik sepeda dan motor. Juga miniatur bus, bajaj, motor vespa, dan motor lainnya.
Selanjutnya pengunjung bisa ke arah barat yakni anjungan udara. Tepatnya di sebelah kiri halaman Museum Transportasi. Dalam ruangan ini ditampilkan miniatur dan replika pesawat.

Menurut Dadang, tahun 2018 ini akan ada penambahan koleksi transportasi. PT Dirgantara Nusantara Indonesia ingin mengibahkan pesawat M 20 Gatot Kaca. Juga PT Mitsubishi Motor, rencananya akan menghibahkan truk colt diesel yang ke satu juta.
“Koleksi transportasi ini, masih dibahas terkait dengan mobilisasi dan peletakannya karena itu benda transportasi asli lumayan besar,” jelas Dadang.
Adapun program-program 2018 kegiatan utamanya adalah pameran keliling yang bekerjasama dengan museum daerah. Sedangkan acara dalam museum terjalin kerja sama dengan sekolah-sekolah dan agen travel.
Untuk program kunjungan sekolah, apabila dalam setahun sekolah tersebut mengadakan kunjungan ke Museum Transportasi, maka akan diberikan edukasi walkshop atau lomba mengambar alat transportasi.
“Juara 1,2 dan 3 akan kita diberikan hadiah,” ujar Dadang.
Menurutnya, pengunjung Museum Transportasi selalu meningkat setiap harinya. Tercatat sebulannya sebanyak 25 ribu pengunjung. Pada 2017 total keseluruhan pengunjung adalah 350 ribu orang. Diharapkan 2018 bisa tembus angka 400 ribu.
2018 ini, Dadang berharap setiap pengunjung TMII juga singgah ke museum-museum yang ada di TMII, termasuk Museum Transportasi.
“Museum ini ladang ilmu sejarah transportasi Indonesia masa lalu, sekarang dan yang akan datang,” kata pria kelahiran 37 tahun ini.