Produksi Minyak Kelapa Kulonprogo Terhambat Harga Bahan Baku
Editor: Irvan Syafari
YOGYAKARTA — Rendahnya harga jual produk serta naik turunnya harga pasaran bahan baku kelapa, menjadi kendala utama industri kecil pembuatan minyak kelapa tradisional di Kulonprogo.
Hal itu mengakibatkan produksi minyak kelapa khas Kulonprogo ini menjadi tidak stabil atau kontinu.
Salah seorang pelaku usaha rumahan pembuatan minyak kelapa asal Dusun Kaligayam, Kulur, Temon, Kulonprogo, Sukirno (35) mengaku tidak mampu memproduksi minyak kelapa selama setahun penuh.
Ia mengaku hanya memproduksi minyak kelapa saat harga bahan baku utama berupa kelapa berlimpah dan dijual murah di pasaran.
“Saya hanya produksi jika stok kelapa melimpah dan harganya murah. Kalau kelapa sedang mahal ya terpaksa berhenti produksi, karena hasilnya tidak dapat menutup biaya produksi,” katanya.
Sukirno sendiri biasa membuat minyak kelapa untuk disetor ke pabrik di kawasan Purworejo. Dalam sehari ia memproses sekitar 650 butir kelapa yang menghasilkan sekitar 3 kaleng minyak kelapa berisi 18 liter setiap kalengnya. Dengan harga jual satu liter minyak kelapa Rp11.500.
“Saat ini harga kelapa sedang murah, Rp1000 per butir. Makanya kita berani produksi. Kalau harga kelapa sedang mahal, kita berhenti produksi. Satu biji Rp2500 saja kita sudah tidak produksi,” ujarnya.
Meski selain mendapatkan hasil dari penjualan minyak kelapa, Sukirno masih mendapat tambahan hasil lain dari menjual ketak kelapa yang merupakan bahan residu proses pembuatan minyak kelapa. Sayangnya harga jual ketak ini tidak seberapa, bahkan terkadang tidak laku dijual.
“Sebenarnya jika kita bisa mengolah lagi minyak kelapa ini dengan proses penyulingan, harga jualnya bisa naik. Namun kita terkendala alat dan kemampuan. Apalagi waktu kita habis untuk membuat minyak kelapa,” katanya.