Politik Identitas tak Pengaruhi Pemilih dalam Pilkada

Ilustrasi Pilkada serentak 2018 - Foto: Dokumentasi CDN

TANJUNGPINANG  – Politik identitas tidak memberi pengaruh yang signifikan terhadap pemilih pada Pilkada Tanjungpinang 2018, kata pengamat politik dari Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Bismar Ariyanto.

“Pilkada di Tanjungpinang berbeda dengan DKI Jakarta, karena kedua pasangan calon beragama islam. Jadi isu agama tidak memberi pengaruh banyak,” ujar Bismar  di Tanjungpinang, Sabtu.

Puisi yang dibacakan Sukmawati Soekarno Putri baru-baru ini, yang menuai protes dari sejumlah kelompok Islam juga tidak mempengaruhi Pilkada Tanjungpinang 2018, meski ada upaya dari oknum-oknum tertentu untuk menarik isu itu dalam pesta demokrasi di ibu kota Kepulauan Riau tersebut.

“Memang ada upaya untuk menarik puisi yang menimbulkan polemik itu ke dalam ranah politik pilkada, namun kurang berpengaruh,” ucapnya yang juga Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMRAH.

Bismar menambahkan, isu kesukuan juga kurang efektif jika digaungkan di Tanjungpinang menjelang pilkada. Hal itu disebabkan sejak dahulu masyarakat yang tinggal di Tanjungpinang berasal dari berbagai suku.

“Suku mayoritas seperti melayu, tionghoa, bugis, batak, minang dan jawa sejak dahulu hidup harmonis. Kehidupan dengan masyarakat yang heterogen ini membuat isu kesukuan tidak efektif,” tuturnya.

Sementara itu, pengamat politik dari Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Raja Haji Tanjungpinang, Raja Dachroni, mengatakan, puisi yang dibacakan Sukmawati saat ini belum memberi efek yang besar, namun ada sejumlah pihak yang terus bergerak memainkan isu itu menjelang pilkada.

“Ini bisa menjadi bola salju yang membesar, dan tidak hanya berdampak pada pilkada, melainkan juga hal lainnya,” ujarnya, yang juga Direktur Gurindam Riset Centre (GRC).

Ia mengatakan, berdasarkan hasil survei GRC sebelum permasalahan puisi itu menguak, politik identitas cukup memberi pengaruh terhadap masyarakat. Saat itu, lebih dari 25 persen pemilih di Tanjungpinang terpengaruh dengan politik identitas. Jika mereka terus bergerak, maka jumlahnya akan meningkat.

“Kami melihat selebaran, ada obrolan di kedai kopi menyangkut soal itu dan di media sosial,” katanya.

Pasangan calon yang diuntungkan jika politik identitas ini terus digulirkan yakni Syahrul-Rahma yang diusung Partai Golkar, Gerindra dan PKS. Sebaliknya Lis Darmansyah-Maya yang diusung PDIP, Hanura, Demokrat dan PAN tidak diuntungkan. (Ant)

Lihat juga...