Pengrajin Bambu di Munthuk Belum Mampu Manfaatkan Potensi Wisata

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

YOGYAKARTA — Sejumlah pengrajin bambu di kawasan Munthuk, Dlingo, Bantul, belum mampu memaksimalkan potensi pariwisata yang luar biasa di daerah setempat untuk memasarkan produk.

Selama ini pengrajin lebih banyak menjual produk kerajinan seperti tambir, kukusan hingga cething (tempat makan) dan perkakas rumah tangga lainnya dari bambu ke luar daerah seperti Jakarta dan Sumatera.

Padahal potensi pariwisata di Dlingo, khususnya dusun Munthuk sejak beberapa tahun terakhir berkembang pesat. Ribuan wisatawan selalu berkunjung ke sejumlah lokasi ini setiap akhir pekannya.

“Meski pariwisata berkembang pesat namun tidak banyak berdampak ke penjualan kerajinan,” ujar salah seorang pengrajin bambu asal dusun Karangasem, Munthuk, Dlingo, Bantul, Rubinem saat berbincang dengan Cendana News, Senin (30/4/2018).

Ribinem menuturkan, saat ini memang sudah dibuat semacam toko untuk memasarkan produk hasil kerajinan. Namun hal itu belum berdampak signifikan terhadap peningkatan penjualan.

“Untuk kendala produksi sebenarnya tidak ada. Bahan berupa bambu masih banyak tersedia. Begitu juga tenaga kerja. Hanya memang proses produksi cukup lama karena seluruhnya dikerjakan secara manual,” ujarnya.

Pengrajin Bambu
Sejumlah pengrajin bambu di dusun Munthuk Dlingo Bantul nampak tengah membuat kerajinan berupa perkakas dapur dari bahan bambu. Foto: Jatmika H Kusmargana

Dalam seminggu Ribinem mengaku bisa memproduksi tambir hingga 50 buah. Satu buah tambir dijual dengan harga berkisar antara Rp 9-10ribu per bijinya.

“Kalau sedang banyak waktu luang seminggu bisa dapat 50 biji. Tapi kalau sedang banyak pekerjaan rumah ya tidak sampai. Karena biasanya kita hanya buat kerajinan di sela waktu luang dan setiap ada pesanan,” katanya.

Lihat juga...