Pasokan Air Lancar, Petani di Lamsel Didorong Percepat Masa Tanam

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Pasokan air irigasi bersumber dari Gunung Rajabasa yang cukup lancar membuat petani di wilayah kecamatan Penengahan Lampung Selatan mengandalkan irigasi alam.

Suparji (50) anggota kelompok tani Puakhi 2 desa Ruang Tengah menyebut selama puluhan tahun petani memanfaatkan sumber irigasi untuk menanam padi sawah. Pasokan melimpah sebagian dipergunakan sebagai kolam ikan air tawar dan kolam untuk mandi.

Sekitar 500 hektare lahan sawah disebut Suparji di desa desa kaki Gunung Rajabasa memanfaatkan irigasi alam, sisanya ribuan hektare mulai menggunakan bendungan dan irigasi permanen.

Suparji menyebut Poktan Puakhi 2 di desa Ruang Tengah dengan anggota poktan berjumlah sekitar 20 orang memiliki luas hamparan sawah 100 hektare lebih. Jumlah tersebut bahkan belum termasuk dengan poktan lain yang berada di desa yang sama dengan sumber air Gunung Rajabasa sebagai sumber utama pengairan.

Bantuan dari Kementerian Pertanian (Kementan) sebanyak masing masing 2 bungkus bibit padi berisi 5 kilogram menyesuaikan luasan lahan bahkan sudah dibagikan pada masa tanam Oktober-Maret.

“Padi yang sudah menguning varietas Ciherang ini merupakan bantuan dari Kementerian Pertanian dan sebagian sudah memasuki masa panen, selain kelompok kami setiap kelompok tani mendapatkan alokasi bibit sesuai dengan kebutuhan lahan,” papar Suparji anggota kelompok tani Puakhi 2 saat ditemui Cendana News pada lahan sawah miliknya di desa Ruang Tengah, Rabu (25/4/2018)

Di wilayah Penengahan disebut Suparji saat ini tengah digencarkan program culik tanam untuk peningkatan serapan gabah kerja sama antara TNI Angkatan Darat dan Kementerian Pertanian.

Program culik tanam disebutnya sudah disosialisasikan untuk mempercepat masa tanam dengan cara membuat benih beberapa pekan sebelum masa panen. Sebagai demplot area hamparan 100 hektare di wilayah desa Ruang Tengah telah dikunjungi oleh Kementerian Pertanian.

Pasokan air yang lancar dari Gunung Rajabasa disebut Suparji membuat petani juga didorong memaksimalkan waktu tanam. Pada lahan sawah yang tergantung dari bendungan dan irigasi permanen petani bahkan didorong untuk melakukan masa tanam selama tiga kali dalam setahun.

Sesuai dengan masa tanam sejak bulan Januari dan masa panen bulan April, masih ada waktu dua kali masa tanam dan panen sepanjang tahun 2018 ini.

“Kami bisa melakukan tiga kali masa tanam dengan dukungan dari Kementan dari bantuan bibit,alat dan mesin pertanian dan sekaligus kekompakan anggota Poktan,” papar Suparji.

Sersan Dua Halim, anggota Koramil 421-03/ Penengahan menyebut sebagian besar Poktan di kaki Gunung Rajabasa mengandalkan irigasi alam. Melalui program percepatan masa tanam pola culik tanam, luas tambah tanam (LTT) para petani didorong untuk melakukan upaya khusus swasembada pangan.

Bantuan alsintan dari Kementan yang sebagian dikelola oleh para babinsa sekaligus menjadi bentuk dukungan dari TNI untuk para petani.

Serda Halim yang juga babinsa wilayah Penengahan tersebut mengungkapkan di wilayah yang menjadi binaannya terdapat hamparan seluas 120 hektare. Di beberapa desa mendapat pendampingan dari penyuluh pertanian dan para Babinsa Koramil dengan mendorong petani melakukan percepatan masa tanam.

Percepatan masa tanam didukung oleh Alsintan memadai, irigasi memadai termasuk waktu tanam tiga kali dalam setahun.

“Percepatan masa tanam untuk memanfaatkan lahan juga dilakukan dengan inovasi penanganan hama penyakit secara alami,” papar Serda Halim.

Salah satu cara yang akan diterapkan poktan Puakhi 2 di antaranya dengan melakukan penanaman jenis bunga Refugia.

Bunga Refugia sengaja akan ditanam di tepi sawah untuk menarik serangga dan hama yang kerap menyerang padi agar mendekat ke tanaman bunga tersebut. Pola tersebut akan dilakukan pada masa tanam bulan Mei hingga Agustus.

Selain upaya percepatan masa tanam padi,kelancaran pasokan air Gunung Rajabasa dimanfaatkan oleh kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan). Sistem mina padi dengan melakukan pemeliharaan ikan di lahan sawah masih dilakukan oleh sebagian warga di desa Kelau dan Tamanbaru.

Khoidir Nuh
Khoidir Nuh, pengelola Pokdakan Mina Kecantik desa Tamanbaru memanfaatkan air untuk pengairan sawah dan kolam ikan air tawar [Foto: Henk Widi]
Khoidir Nuh, anggota Pokdakan Mina Kecantik bahkan memanfaatkan aliran air Gunung Rajabasa secara bertahap dari kolam renang, kolam ikan dan pengairan sawah.

Pemanfaatan aliran air Gunung Rajabasa disebut Khoidir Nuh bisa memberi manfaat mingguan, bulanan bahkan tahunan.

Melalui penyewaan kolam renang dirinya mendapat hasil harian dan mingguan dari tiket kolam renang air tawar. Sementara hasil kolam ikan patin bisa dipanen setiap tiga bulan dan panen padi bisa dilakukan setiap empat bulan sekali.

Lihat juga...