Menikmati Kelezatan Lawa Bale Kerapu Manohara
Editor: Satmoko
LAMPUNG – Masyarakat pesisir Bakauheni Lampung Selatan yang sebagian berprofesi sebagai nelayan merupakan warga yang berasal dari Bugis. Salah satu khazanah kuliner khas warga Bugis didominasi berbahan ikan segar dikenal dengan Lawa Bale (diucapkan lawak bale).
Menurut Manohara (40) salah satu pemilik usaha kuliner boga bahari (sea food) Bale dalam bahasa Indonesia artinya ikan sementara lawa artinya mentah. Sepintas kuliner ini mirip sushi dari Jepang sehingga Lawa Bale dikenal dengan “sushi”-nya warga Bugis.
Sebagai warga asli Bugis dari kabupaten Bone yang tinggal di pesisir pantai Bakauheni Lampung Selatan kerap mengolah kuliner berbahan ikan. Manohara bahkan memiliki resto terapung di Muara Piluk yang dikenal dengan Resto Apung Manohara. Pasokan ikan yang melimpah pada musim puncak hasil tangkapan ikan banyak atau dikenal “along” oleh nelayan tangkap bagan congkel.

“Saat musim along banyak ikan yang ditangkap salah satunya ikan kerapu sehingga kuliner lawa bale khas Bugis bisa dibuat untuk disajikan bagi pelanggan yang menyukai mebu lawa bale tersebut,” terang Manohara pemilik usaha kuliner resto apung di pantai Muara Piluk Bakauheni, saat ditemui Cendana News pada Sabtu (14/4/2018).
Manohara menyebut lawa bale dibuat dari ikan mentah yang sudah dibersihkan di antaranya jenis ikan japu, teri, kerapu, tenggiri,
Selain bahan baku ikan kerapu segar, bumbu pelengkap yang harus disiapkan di antaranya cabai merah, garam, merica, bawang merah, bawang putih. Pelengkap lain di antaranya jeruk nipis, mangga muda dan parutan kelapa. Setelah ikan dipisahkan dari tulang dan tersisa daging, proses memasak pertama dilakukan proses menyangrai parutan kelapa.
“Biasanya parutan kelapa dibakar tapi ciri khas resto Manohara sesuai permintaan konsumen minta disangrai bahkan kerap dikasih petai karena sedang puncak musim petai,” papar Manohara.
Setelah bumbu lain dihaluskan berupa cabai merah, bawang merah, merica,
bawang putih selanjutnya disangrai bersama parutan kelapa dan petai. Bagi penyuka selera masakan pedas bisa ditambahkan cabai rawit utuh pada bumbu dan disangrai selama sepuluh menit.

Sementara sembari menyangrai, ikan kerapu yang sudah difillet direndam lima menit menggunakan cuka dan mangga muda diparut kasar dan jeruk nipis dituangkan dalam fillet daging kerapu.
Manohara menyebut ikan yang direndam menggunakan air cuka akan membuat ikan menjadi matang tanpa dimasak. Kesegaran juga akan terasa dengan perasan jeruk nipis yang meresap ke dalam fillet. Lawa bale disebutnya kerap disajikan dengan nasi hangat dan bisa dinikmati sembari melihat pemandangan pantai pesisir Bakauheni yang menghadap ke Selat Sunda di atas resto apung Manohara.
Cukup merogoh kocek Rp25.000 untuk satu paket lawa bale dengan sepiring nasi hangat, es jeruk, menu ini bisa dinikmati setiap hari di resto apung Manohara.

Oscar salah satu pecinta menu lawa bale menyebut makanan berbahan ikan kerapu tersebut cukup lezat. Sebab selain memiliki nilai gizi yang tinggi dan tanpa pengawet untuk menikmati sushi ikan segar tidak harus ke restoran Jepang. Lawa bale kerap disajikan bersama sayur nangka liku atau disebut gulai nangka muda dengan ciri khas santan kental yang menggoda. Kelezatan lawa bale bisa dinikmati dengan menyeruput minuman serabak atau susu jahe.
“Biasanya saya menelpon terlebih dahulu agar disiapkan ikan yang segar terutama pada musim along sehingga ikan mudah diperoleh,” terang Oscar.
Selain Lawa Bale, resto apung Manohara yang dikenal sebagai penyedia kuliner boga bahari tersebut menyediakan beragam olahan ikan. Selain kerapu, kuniran, tenggiri untuk dibakar berbagai jenis kuliner berbahan ikan kerap menjadi pilihan.
Kepiawaian Manohara dalam membuat masakan khas Bugis dan makanan berbahan ikan laut bahkan membuat resto apung miliknya kerap dikunjungi pejabat untuk menikmati sea food.