Mengenal Kesenian Tongkek Masyarakat Lombok Timur
Editor: Satmoko
LOMBOK TIMUR – Salah satu kesenian tradisional masyarakat Kabupaten Lombok Timur yang tetap dijaga kelestarian dan kerap ditampilkan dalam setiap festival kebudayaan Kabupaten Lombok Timur sampai sekarang adalah kesenian tongkek.
Keberadaan kesenian Tongkek bahkan telah dikenal hingga manca negara. Kesenian Tongkek sendiri merupakan kesenian tradisional berupa pertunjukan alunan musik suara kentongan, jerigen dan rencek yang terbuat dari bambu, cepung dan pangkur Sasak atau lagu Sasak diiiringi tarian khas masyarakat suku Sasak Lombok.
“Musik tongkek sendiri awalnya dimainkan seorang petani. Tongkek ini dahulunya dipakai untuk melempar burung dengan bambu yang diisi batu-batu kecil untuk mengusir burung di sawah. Kemudian oleh para petani juga dijadikan musik menghibur di tengah sawah sambil mengusir padi,” kata Ketua Sanggar Kesenian Tradisional Musik Tongkek, Jamiul Ahyain Ramli di Lombok Timur, Minggu (29/4/2018).

Seiring berkembangnya zaman, musik tongkek mulai banyak digunakan untuk membangunkan masyarakat makan sahur saat bulan puasa, musik acara nyongkolan dalam acara pesta pernikahan, sampai acara festival kebudayaan setiap tahun.
Seiring perkembangan zaman pula, kesenian tradisional tongkek mulai banyak dikenal masyarakat, terutama melalui pameran di festival kebudayaan yang diselenggarakan Pemkab Lombok Timur.
“Dari segi peralatan musik juga ada penambahan dan modernisasi, kalau dulu hanya memakai kentongan, jerigen, dan rencek, kini alat musik ditambah dengan gendang dan seruling,” katanya.
Personil yang dibutuhkan untuk memainkan musik tongkek juga tidak perlu banyak, cukup hanya beberapa orang.
Heru Rizwan selaku personil menambahkan, ada pun untuk harga sewa tongkek ini tidak seberapa, sebab mereka lebih mengedepankan hobi atau kesenangan saja.
“Untuk sewa kita tidak terlalu pikirkan, hanya saja ini hobi, kesenangan kita saja,” kata Heru Rizwan.
Selain itu kesenian ini juga pernah tampil di negara Australia, waktu itu dibawa mahasiswa Universitas Hamzanwadi (UNHAZ) Lombok Timur. Saat itu mahasiswa UNHAZ diminta untuk menghadirkan budaya daerah sehingga tongkek inilah yang ditampilkan, yaitu oleh salah satu grup tongkek yang ada di Selong.
Untuk perlengkapan, biasanya membuat sendiri, dan bahan-bahannya juga menggunakan bahan-bahan sederhana. Seperti bambu, kayu dan papan. Biaya pembelian perlengkapan juga didapatkan dari hasil sewaan tersebut.
Substansi pertunjukan Tongkek yang ditampilkan mengacu pada pemaknaan serta pemakaian simbol-simbol adat, budaya dan tradisi masyarakat Pancor, Lombok Timur.
Sementara dari sisi penyajian, bercerita mengenai bagaimana kehidupan kaum muslim di Pancor saat membangunkan orang untuk makan sahur di bulan Ramadhan.
“Sepintas kita akan bercerita soal semangat kebersamaan, kerjasama dan kebulatan tekad,” papar Heru. Termasuk bercerita soal keberagaman sebagai satu bangsa yang kesemuanya itu tersusun apik dalam satu pementasan utuh.
Selain itu, lanjutnya, sepintas juga bercerita soal konflik sosial yang diikuti penyelesaian secara kekeluargaan. Hadir cukup kuat pula nuansa epik Cepung dan Pangkur Sasak (lagu Sasak).