Hujan Sebabkan Harga Kakao di Lamsel, Turun
LAMPUNG — Hujan yang melanda wilayah Lampung Selatan dan sekitarnya berdampak pada turunnya harga komoditas kakao di wilayah tersebut.
Hasan (54) warga Desa Tamanbaru, menyebut hujan yang mengguyur wilayah tersebut sepekan terakhir membuat kualitas buah kakao, menurun. Penurunan kualitas buah kakao tersebut sudah sejak buah berada di ranting pohon terkena busuk buah. Musim hujan juga mengakibatkan hama tupai menyerang buah kakao yang mulai matang.
Menurutnya, buah kakao yang bisa dipanen setiap hari pada puncak panen sepanjang bulan April dipengaruhi cuaca. Pada musim panen penyelang sejak bulan Februari, pergerakan harga cukup signifikan. Pada masa awal musim panen penyelang harga kakao didukung kondisi cuaca yang panas.
Biji kakao kering dengan penjemuran sehari bisa dijual seharga Rp22.000 per kilogram, namun kini hanya Rp18.000 per kilogram.
“Saat masa panen penyelang, cuaca mendukung untuk proses penjemuran, bahkan dalam satu hari bisa kering, meski untuk pengeringan sempurna butuh waktu tiga hari dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan masa penjemuran satu hari,” terang Hasan, Kamis (26/4/2018).
Puncak masa panen bulan April, kata Hasan, justru berbarengan dengan kerap turunnya hujan di wilayah tersebut. Sebagian petani pekebun yang sudah terlanjur memanen hasil pohon kakaonya terpaksa mengumpulkan dalam karung untuk proses fermentasi, guna mempermudah proses pemisahan biji kakao dengan serat.
Selain itu, hujan yang kerap melanda berimbas petani kesulitan menjemur biji kakao. Seperti musim panen sebelumnya,Hasan menuturkan pergerakan harga kakao diiringi dengan kuantitas panen. Semakin banyak petani yang melakukan panen, harga kakao semakin naik. Kondisi tersebut terjadi saat cuaca normal dengan panas matahari sempurna, sehingga kualitas kakao maksimal.
Menurut Hasan, harga kakao pada musim panen puncak tahun lalu bisa mencapai Rp35.000, meski tahun ini berada di titik terendah Rp27.000 per kilogram.
Santi (30), salah satu pekerja perempuan di Desa Padan yang mengupas kakao mengaku, saat musim hujan proses penjemuran berlangsung lama. Ia bersama sekitar lima pekerja perempuan lain kerap bisa memisahkan puluhan karung kakao lalu dijemur.
Namun, akibat hujan berimbas kakao yang dikupasnya tidak kunjung bisa dijemur dan hanya dihamparkan di lantai beralaskan terpal. “Kakao yang sudah dikupas, dipisahkan dari serat lalu dijemur di halaman, namun kini prosesnya lebih lama karena kerap hujan,” papar Santi.
Pada kondisi normal, kakao yang sudah dikupas bisa dijemur dalam waktu satu hari, dilanjutkan proses pemanasan dengan mesin, untuk menurunkan kadar air yang bagus hingga mencapai 5 persen. Sementara saat kondisi kadar air di atas 8 persen, mempengaruhi harga jual kakao.
Para pekerja kupas kakao memperoleh upah sekitar Rp30.000 per hari, mulai dari pemisahan biji dan serat hingga proses penjemuran.
Rozak (39), pedagang pengepul dan perantara jual beli kakao atau dikenal dengan cengkau, menyebut harga kakao kerap bisa berubah dalam hitungan hari. Pada saat panen penyelang, harga kakao kering berkadar air 15 persen dibeli dari petani seharga Rp18.000 per kilogram, lalu dikeringkan dan bisa dijual seharga Rp25.000 per kilogram.
Saat panen raya seperti bulan April ini, harga kakao berpotensi naik hingga Rp35.000, meski dampak hujan membuat harga kakao anjlok di angka Rp27.000 per kilogram.
Kakao yang dipanen pada musim hujan disebut Rozak berimbas kualitas kakao menurun akibat panas tidak sempurna. Kualitas kakao menurun ditandai dengan bintik pada biji kakao dan kadar air yang tinggi. Imbasnya proses penjemuran normal yang membutuhkan waktu selama tiga hari, menjadi tujuh hari. Kualitas kakao yang menurun tersebut membuat harga di tingkat petani dan pengepul terus anjlok.
“Bagi pemilik modal, setelah dijemur satu hari bisa dilanjutkan dengan mesin pemanas, tapi petani kecil terkendala hujan,” beber Rozak.
Rozak bahkan selalu membawa alat pengukur kadar air setiap membeli kakao dari para petani. Hal tersebut dilakukan untuk bisa mengukur harga yang harus dibeli. Sebagai cengkau, ia tetap harus memprediksi harga beli dari petani dengan prediksi waktu penjemuran ulang dan dijual ke pengepul untuk mendapat keuntungan.