Hitung Kerugian Dampak Tumpahan Minyak, Pemkot Bentuk Tim
Editor: Irvan Syafari
BALIKPAPAN — Dampak masih dirasakan masyarakat akibat peristiwa tumpahan minyak di perairan Teluk Balikpapan. Itu sebabnya Pemerintah Kota Balikpapan akhirnya membentuk tim untuk menghitung dampak dan kerugian yang terjadi pada Sabtu (31/3/2018).
Hal itu untuk memastikan seluruh kerugian yang diperoleh kota Balikpapan sebagai daerah pengolah minyak dari dampak tumpahan minyak pipa milik Pertamina.
Plt Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud menjelaskan, tim yang dibentuk ini untuk menghitung kerugian yang dialami oleh masyarakat dari ekosistem lingkungan di laut hingga masyarakat yang terkena dampak dari tumpahan minyak.
“Tim sudah turun menganalisas, juga teman-teman komunitas dan masyarakat. Sehingga kita sudah bentuk tim untuk menghitung apa saja yang dirugikan dan seberapa besar sehingga nantinya yang bertanggungjawab dapat menindaklanjutinya,” ucapnya di sela kegiatan Diskusi Panel Dana Bagi Hasil Daerah Pengolah dengan 11 Daerah lainnya di Balikpapan, Kamis (12/4/2018).
Rahmad juga menyebutkan bahwa kondisi pohon mangrove dan ekosistem di yang berada di perairan Teluk Balikpapan mengalami kerusakan akibat tumpahan minyak mentah. Diperkirakan minyak mentah yang tumpah diperkirakan mencapai 40 ribu barel.
“Kita juga data dan menghitung dari mangrove, nelayan, dari petambak, kemudian dari warga-warga yang terkena dampaknya. Ganti rugi nanti secara keseluruhan,” tandasnya.
Menurutnya, tim sudah turun untuk menghitung kerugian dan saat ini tinggal menunggu hasil. “Insha Allah nanti dirangkumkan dengan tim tersendiri dan bisa menganalisa berapa kerugian dan seterusnya. Kami tinggal menunggu hasilnya saja,” sebut Rahmad.
Selain menghitung kerugian, pihaknya juga berupaya melakukan pembersihan pada sisa-sisa tumpahan minyak yang menempel pada pohon mangrove dan perumahan di Kawasan Kampung Baru, Balikpapan Barat serta kapal milik nelayan.
“Pembersihan terus dilakukan dan Pertamina juga berkomitmen terus melakukan pembersihan hingga daerah terdampak bersih,” kata Rahmad.
Ia membantah Pemerintah Kota Balikpapan terkesan lambat dalam menghitung dampak dan kerugian yang terjadi. Karena Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) sudah memiliki data kerugian.
“Yang paling besar terkenda dampaknya daerah pesisir Balikpapan. Kita tidak mencari besar dan berapa materinya, tapi komitmen kita bagaimana memulihkan ekosistem dan lingkungan yang kena dampaknya kemarin,” pungkasnya.
Sementara itu, Manager Communication & CSR Pertamina Region Kalimantan Yudi Nugraha mengatakan, saat ini limbah minyak yang dibersihkan telah mencapai 90 persen dan upaya penormalan atau memulihkan ekosistem Teluk Balikpapan juga terus dilakukan.
“Sudah kami petakan dalam penanganan dan pembersihannya. Dalam penanganan dan pemulihan lingkungannya terlepas dari siapa yang salah kita tetap berupaya mengembalikan seperti sediakala,” ungkapnya.
Yudi juga memastikan limbah yang berada di muara-muara Teluk Balikpapan juga sudah dibersihkan, hanya tinggal membersihkan bagian yang menempel di mangrove.
“Yang menempel ada pembersihan, kemudian dibersihkan secara manual untuk mengurangi zak kimianya,” tambahnya.