Hadapi Kemarau, Prioritas Perbaiki Irigasi

Ilustrasi - Saluran irigasi - Dok CDN

YOGYAKARTA – Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta perlu segera memprioritaskan pengecekan dan perbaikan saluran irigasi sebelum memasuki musim kemarau pada akhir April 2018, kata Direktur Pusat Studi Bencana Alam (PSBA) Universitas Gadjah Mada Djati Mardiatno.

“Perlu segera diinventarisasi kelayakan irigasi sebelum memasuki kemarau yang berpotensi kekeringan,” kata Djati di Yogyakarta, Minggu.

Kekeringan, kata dia, perlu diperhatikan bukan hanya sebagai bencana yang berdampak pada kebutuhan persediaan air rumah tangga, namun juga menyangkut aspek produktivitas pertanian pangan.

Menurut dia, inventarisasi saluran irigasi perlu segera dilakukan khususnya di Gunung Kidul sebagai wilayah yang biasanya paling parah terdampak kekeringan.

Di Gunung Kidul yang menjadi langganan kekeringan antara lain Kecamatan Tepus, Panggang, Tanjungsari, Gedangsari, Saptosari, serta Rongkop.

Selain itu, lanjut dia, potensi mata air sungai juga perlu dipetakan sejak awal sebagai upaya persiapan mengantisipasi bencana kekeringan pada puncak kemarau. Kondisi air sungai yang kemungkinan mampu mengairi wilayah lahan persawahan perlu diinventarisasi untuk mengairi sawah yang berpotensi mengalami kekeringan.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta memprediksikan awal musim kemarau di Daerah Istimewa Yogyakarta akan terjadi pada akhir April 2018.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, awal musim kemarau akan terjadi secara bertahap. Pada minggu ketiga April, kemarau dimulai di sebagian besar Kabupaten Gunungkidul kecuali Kecamatan Gedangsari dan Ngawen bagian utara, serta seluruh wilayah Kabupaten Bantul.

Selain itu, awal kemarau juga terjadi sebagian wilayah Kabupaten Kulon Progo meliputi Temon bagian timur, Kokap bagian timur, Wates, Pengasih, Panjatan, Lendah, Galur, Sentolo, serta Nanggulan.

“Paling akhir kemarau terjadi di Pakem bagian utara atau kawasan Gunung Merapi. Musim kemarau DIY mulai dasarian (sepuluh hari) ketiga April,” kata Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Djoko Budiono. (Ant)

Lihat juga...