Geliat Kerajinan Tembolak Suku Sasak

Editor: Irvan Syafari

LOMBOK TIMUR — Salah hasil kerajinan tradisional khas masyarakat Suku Sasak Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang masih dikembangkan sebagian masyarakat adalah kerajinan Tembolak (tudung saji) berbahankan daun lontar.

Tembolak dalam tradisi masyarakat suku Sasak Lombok bisa digunakan sebagai penutup makanan, yang terisi dalam nampan untuk melindungi makanan dari kotoran debu maupun dari kerumunan lalat.

Tembolak juga biasa banyak digunakan untuk menutupi sesaji atau makanan di acara begawe merariq (pesta pernikahan), maupun acara syukuran pada masyarakat pedesaan yang masih memegang teguh tradisi begibung (makan bersama) secara lesehan di rumah maupun masjid.

“Dulu, sebelum tudung saji dari plastik banyak diproduksi seperti sekarang, acara begawe merariq atau syukuran di kampung, tembolak biasa banyak digunakan untuk menutupi nampan berisi makanan maupun jajanan untuk disajikan kepada tamu undangan,” kata Sumarni, salah seorang perajin tembolak di Dusun Pernang, Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur, Selasa (24/4/2018).

Tapi seiring semakin banyak menjamur tudung saji dari plastik, keberadaan kerajinan Tembolaq mulai banyak bergeser, meskipun masih tetap banyak digunakan masyarakat, tapi tidak sebanyak dulu.

Selain memang jumlah perajin yang semakin berkurang, termasuk bahan pembuatan kerajinan tembolak semakin langka.

“Sekarang ini tidak banyak anak muda yang mau belajar kerajinan tradisional tembolak,” kata Sumarni.

Meski demikian, kerajinan tembolak di masyarakat Desa, Pernang, termasuk beberapa desa lain seperti, Desa Presak dan Terentem, Kecamatan Sakra Lombok Timur masih banyak digeluti dan diproduksi perajin.

Dikatakan, untuk bisa menghasilkan kerajinan tembolak, selain dibutuhkan kesabaran, juga membutuhkan ketekunan dan ketelitian, memakan waktu yang lumayan lama untuk bisa siap dipasarkan.

“Dalam seminggu, para perajin bisa menyelesaikan 15-20 buah, tergantung rutin atau tidaknya pengerajin dalam membuatnya, di samping memang sudah banyak dijadikan pekerjaan sampingan, bukan kerjaan utama,” katanya.

Sumarni mengaku, biasanya kalau proses membuat kerajinan tembolaq dilakukan secara rutin, kalau 20 buah bisa selesai dalam satu minggu, tapi kalau lagi ada pekerjaan lain, dalam seminggu, kerajinan tembolak dihasilkan bisa 10-15 biji dan dirinya sendiri, selain membuat, juga menjual hasil kerajinan tembolak di pasar tradisional.

Maenah, pengerajin lain mengungkapkan, meski sekarang ini tudung saji plastik yang diproduksi secara moderen telah banyak berjamuran di pasar tradisional, tapi hasil kerajinan tembolaq tetap laris dan banyak pembeli di pasaran.

“Tetap laku di pasaran walaupun banyak yang menggunakan tutup saji yang berasal dari plastik, kalau tidak laku di pasaran tidak mungkin banyak diproduksi para perajin,” kata Maenah.

Rusnan, pengepul perajin lain mengatakan, kerajinan tradisional tembolak sendiri memiliki beberapa jenis, antara lain tembolak biasa dan tembolak dinas, untuk pembuatan tembolak dinas ini tidak semua perajin tembolak biasa bisa membuatnya.

Karna peroses pembuatan tembolak dinas cukup ruwet dan memakan waktu yang agak lama dari pembuatan tembolak biasa dan harganya pun agak mahal dari tembolak biasa.

“Kerajinan tembolak yang sudah di beli dari para perajin sebelum dipasarkan terlebih dahulu mengecat bagian luar tembolaq untuk mempercantik tampilan,” katanya.

Untuk harga berpariasi, untuk ukuran kecil biasa menjual dengan harga 10.000-15.000 rupiah  per buah, sementara ukuran lebih besar dijual seharga 18.000-20.000 rupiah per buah, sedangkan untuk tembolak dinas dijual seharga 30.000 rupiah  per buah.

“Tergantung pembeli terkadang ada pembeli yang lebih cerewet menawar bisa lebih murah saya jual,” katanya.

Dikatakan, selain dijual di pasar tradisional atau dengan berkeliling kampung, kerajinan tembolak juga sering di dijual sampai kabupaten lain di NTB seperti, Bima, Dompu dan Sumbawa, sehingga semakin hari pengerajin tembolak makin banyak yang menggeluti.

Lihat juga...