Peternak Sapi di Lamsel Rasakan Manfaat IB
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG — Program Kementerian Pertanian Republik Indonesia melalui Dinas Peternakan Kabupaten Lampung Selatan, dalam upaya peningkatan populasi ternak, khususnya sapi, mulai dimanfaatkan peternak.
Sersan dua Sudarwanto, anggota Komando Rayon Militer 421/03 Penengahan sekaligus peternak sapi menyebut, dukungan program upaya khusus sapi indukan wajib bunting (Upsus Siwab) cukup membantu peternak. Melalui program Siwab yang didukung teknik inseminasi buatan (IB), jumlah ternak sapi miliknya bertambah.
Pada awal 2014, Serda Sudarwanto memiliki empat ekor indukan sapi jenis simental dan peranakan ongole (PO). Pemeliharaannya dilakukan dengan sistem kandang dan pemberian pakan bersumber dari limbah pertanian jerami. Sebagian pakan juga diperoleh dari hasil menanam jenis pakan alami berupa rumput gajah serta rumput kolonjono di pekarangan dan lahan kosong.
“Setelah ada program Upsus Siwab yang mulai menjangkau pedesaan, saya bisa mendapatkan bibit melalui inseminasi buatan atau dikenal dengan kawin suntik, hasilnya dua tahun berturut-turut dua indukan sudah menghasilkan bibit baru,” terang Sersan Dua Sudarwanto, Selasa (24/4/2018).
Sebelum ada program Siwab melalui inseminasi buatan, Serda Sudarwanto menyebut sejumlah peternak harus menunggu cukup lama untuk mendapatkan anakan baru. Pada proses normal, kawin alamiah dilakukan dengan mencampur sapi jantan dan sapi betina pada masa birahi. Sistem tersebut membutuhkan waktu lama, sehingga ia beralih ke sistem inseminasi buatan.
Petugas inseminasi buatan dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan bernama Suwandi disebutnya telah dua kali melakukan kawin suntik pada sapi miliknya. Hasilnya, dua ekor sapi jenis limousin dan peranakan ongole sukses bunting dan melahirkan.
Sistem kawin suntik diakuinya memiliki presentase berhasil sekitar 90 persen, sehingga ia menerapkan pada indukan lain.
Indukan pertama yang sudah melahirkan pada pertengahan 2017 silam bahkan kini sudah berumur sekitar delapan bulan. Selanjutnya, indukan kedua jenis peranakan ongole melahirkan sekitar dua pekan yang lalu. Kini jumlah indukan dan anak sapi hasil inseminasi buatan indukan sapi miliknya berjumlah tujuh ekor. Kawin suntik ketiga akan dilakukan pada indukan lain untuk menambah populasi ternak sapi miliknya.
“Dalam waktu dekat, saya akan membuat kandang baru, karena kapasitas kandang sudah tidak mencukupi setelah dua indukan melahirkan,” terang Serda Sudarwanto.
Selain usaha ternak sapi, sebagai bintara pembina desa (Babinsa) Serda Sudarwanto, juga menularkan ilmu beternak sapi kepada sejumlah peternak. Program Siwab dengan inseminasi buatan diakuinya terbilang mudah dan murah. Dengan satu kali suntik dan dipastikan bunting, ia mengeluarkan biaya Rp200 ribu. Sistem kawin suntik hanya akan dibayar setelah dipastikan sapi bunting, sehingga banyak diminati para peternak.
Serda Sudarwanto menyebut, sapi yang akan dijual hanya sapi jantan dengan usia lebih dari satu tahun. Larangan menjual sapi betina produktif sudah diketahui peternak, karena sapi betina menjadi investasi jangka panjang.
Memiliki tujuh ekor sapi dengan rata-rata perekor seharga Rp20 juta saja, ia memiliki tabungan sekitar Rp140 juta. Harga bibit sapi dengan usia sekitar 8 bulan sudah bisa dijual Rp15 juta dan sapi jantan dewasa bisa mencapai Rp23 juta hingga Rp25 juta.
“Cukup menguntungkan bagi peternak di pedesaan dengan sumber pakan melimpah dan bisa menghasilkan anak dengan inseminasi buatan,” beber Serda Sudarwanto.
Peternak sapi lain bernama Suyanto (44), warga Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan, dengan tiga ekor sapi betina dan satu ekor indukan, dengan sistem inseminasi buatan telah memberi keuntungan anakan yang lahir pada bulan Juli, Agustus dan Desember 2017.
Menurutnya, keuntungan inseminasi buatan, anakan bisa dipisah dengan indukan saat sudah memasuki usia sepuluh bulan. Selanjutnya indukan yang sudah dipisah dari anakan bisa dilakukan kawin suntik untuk menghasilkan anakan lagi.
Pasokan sumber pakan melimpah dari lahan pertanian di wilayah Kelaten disebutnya cukup memberi keuntungan. Suyanto tidak perlu mengeluarkan biaya cukup banyak untuk pakan dan limbah kotoran bisa dimanfaatkan sebagai sumber bio gas.
Investasi dalam sektor peternakan sebagai usaha para petani disebut Suyanto bisa menjadi pilihan pemilik lahan luas. Peternak yang umumnya memiliki lahan sawah dan perkebunan, diakui Suyanto menerapkan integrasi pertanian, perkebunan dengan peternakan. Selain menguntungkan untuk pembersihan lahan, keuntungan investasi jangka panjang diperolehnya dengan menjual sapi pada saat membutuhkan uang.