Ceu Popong: Peran Perempuan Jangan Dicampur Aduk

Editor: Satmoko

JAKARTA – Anggota Komisi X DPR RI, Popong Otje Djunjunan mengatakan, perempuan sebagai pilar bangsa adalah benar. Pengorbanan seorang ibu itu begitu besar.

Nabi Muhammad SAW, kata dia, menjawab ibu tiga kali ketika ada orang yang bertanya: kepada siapa aku harus berbakti pertama kali? Nabi Muhammad menjawab “Ibumu”. Kemudian orang itu bertanya kembali: kepada siapa lagi? Nabi Muhammad menjawab “Ibumu”. Orang itu kembali bertanya: kepada siapa lagi? Rasulullah menjawab “Ibumu”.

Orang itu bertanya kembali: kemudian kepada siapa lagi? Rasulullah menjawab “Ayahmu.”

“Tiga jawaban itu Ibumu. Ini menggambarkan betapa penting peran perempuan,” kata Popong pada talk show bertajuk “Perempuan Pilar Kemajuan Bangsa” pada rangkaian HUT ke 43 Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Sasana Kriya, Jakarta, Sabtu (21/4/2018).

Namun demikian sebut dia, bukan berarti peran laki-laki tidak penting. Tetapi ada tiga peran perempuan yang tak bisa diambil alih oleh laki-laki, yaitu mengandung, melahirkan, dan menyusui.

Menurutnya, kalau selama ini masih ada yang berpikiran bahwa perempuan itu tidak terlalu penting, tentu harus kita samakan persepsi bahwa laki-laki dan perempuan sama pentingnya.

Apalagi tambah dia, kalau kita melihat dari sisi gender. Dalam Undang-Undang (UU) sudah jelas bahwa kedudukan laki-laki dan perempuan sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) sama, tidak ada yang lebih rendah dan lebih tinggi.

Sebagai warga negara, kata dia, keduanya mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Kesempatan yang sama dalam berkarya dan berkarir. Jadi tidak ada alasan untuk menempatkan perempuan lebih rendah daripada laki-laki.

“Tapi bukan berarti kemudian tugasnya tumpah tindih antara hak sebagai warga negara dan peran seorang ibu dan istri. Jangan dicampuradukkan,” kata Ceu Popong demikian panggilan akrabnya.

Pemerintah sudah membentuk Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Itu berarti menurut Ceu Popong, kemauan politik dari pemerintah sudah sangat bagus bahwa negara betul-betul serius untuk memberdayakan perempuan.

Seorang perempuan berkarir menjadi seorang pilot atau laksamana tidak dilarang. Yang dilarang itu kata dia, si perempuan pilot itu merendahkan suaminya. “Itu yang dilarang oleh agama dan UU,” ujarnya.

Kembali dia mengingatkan jangan campuradukkan antara perempuan yang berkarir dengan tugas seorang ibu dan istri.

“Perempuan berkarir ketika di rumah hilangkan profesi itu. Kembali ke kodratnya sebagai seorang ibu dan istri yang siap melayani keluarga dengan kasih sayang,” ungkapnya.

Ketika sampai rumah didapati anak kita merengek manja, itu menurut Ceu Popong, adalah perilaku wajar seorang anak kecil ingin dimanja oleh ibunya.

“Sampai di rumah, anak kita merengek manja. Itu wajar harga yang harus dibayar seorang ibu untuk menyayangi dan memeluk. Ini kompensasinya,” tukasnya.

Terkait HUT ke 43 TMII dan Hari Kartini, ada satu ungkapan dari Ceu Popong yaitu, “Setiap orang adalah waktu dan setiap waktu adalah orang”.

“Kalau pendiri TMII, Ibu Tien Soeharto sudah memberikan yang terbaik dan terbanyak dengan waktunya, maka sekarang bagian kita juga untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa Indonesia,” tegasnya.

 

Lihat juga...