Bir Pletok tak Memabukkan, Justru Menyehatkan

Editor: Satmoko

JAKARTA – Kita patut bangga pada bangsa kita yang sangat kreatif dalam membuat minuman khas, seperti di antaranya minuman bir pletok. Sebuah minuman tradisional khas Betawi yang tidak memabukkan, tapi justru menyehatkan karena terbuat dari berbagai bahan rempah-rempah kekayaan alam yang memang menyehatkan.

Dinamakan bir pletok, kata bir diambil Bahasa Arab dari kata bi’run yang mempunyai arti sumber mata air, bukan diambil dari kata beer yang mempunyai arti bir yaitu minuman yang memabukkan. Sedangkan, kata pletok diambil dari racikan minuman bir yang sudah jadi, dimasukkan ke dalam ketel ditambah es batu kemudian dikocok-kocok dan mengeluarkan bunyi pletok-pletok.

Ika Hartika, salah seorang pengusaha bir pletok, bangga dengan usaha yang dijalankannya sudah sepuluh tahun lamanya.

“Awal usaha bir pletok ini dari kita punya Kelompok Wanita Tani dan Nelayan (KWTN)  yang mengadakan pelatihan-pelatihan sekitar sepuluh tahun lalu, “ kata Ika Hartika, pengusaha bir pletok, kepada Cendana News saat acara Situ Babakan Fair 2018 di Kampung Betawi, Situ Babakan, Jalan Moh. Kafi II Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (28/4/2018).

Ika membeberkan, sebenarnya banyak yang ikut pelatihan, tapi yang sampai saat ini masih tetap melakukan usaha, salah satunya Ika.

“Kita tetap semangat usaha dan kita kembangkan dengan usaha-usaha lainnya, “ bebernya.

Menurut Ika, bahan-bahan untuk membuat bir pletok, yaitu jahe, secang, gula putih, cengkeh, kayu manis, dan rempah-rempah.

“Jahenya ada dua macam, jahe gajah dan jahe kecil, yang paling pedas yang kecil, “ ungkapnya.

Untuk memperoleh bahan-bahan pembuatan bir pletok didapatkan di pasar tradisional di Pasar Minggu.

“Kalau jahe kita ada pasokan yang datang ke rumah mengirim seminggu dua kali karena jahe tidak tahan lama, tidak bisa disimpan seperti bahan-bahan lainnya. Rasa bir pletok pedas tidaknya tergantung jahenya, “ paparnya panjang lebar.

Kelompok Wanita Tani dan Nelayan (KWTN), kata Ika, sampai sekarang masih membantu usahanya.

“Mereka di KWTN ada yang menanyakan apakah masih menggunakan cara sewaktu pelatihan dulu, atau sudah berubah, kemudian apakah butuh bantuan peralatan, seperti kompor tungku,“ ujarnya.

Harapan Ika usahanya semakin maju dan berkembang. “Bir pletok buatan kita ke luar negeri kalau kebetulan ada pelancong yang membeli bir pletok buatan kita, “ ucapnya bangga.

Bir pletok diminum dalam keadaan dingin maupun panas, siang maupun malam. “Kalau cuacanya panas bir pletoknya menggunakan es,“ tegasnya.

Ika menjelaskan bir pletok buatannya tanpa bahan pengawet tapi bisa bertahan tiga bulan. “Biar awet menggunakan garam, negara kita negara maritim tentu kaya garam, dan bir pletok menunjukkan kekayaan kita akan garam, “ tandasnya.

Lihat juga...