Arini, Cinta yang Tumbuh di Kereta
Editor: Satmoko
JAKARTA – Cinta bisa tumbuh dimana saja, seperti kereta. Sebuah transportasi publik yang sampai sekarang masih tetap diminati masyarakat.
Sebagaimana yang dialami Arini (Aura Kasih), yang merasa cintanya kembali tumbuh di kereta. Dalam perjalanan pulang naik kereta di Jerman, dimana ia bertemu dengan Nick (Morgan Oey), mahasiswa 15 tahun lebih muda yang menggodanya, yang berusaha membuat hidupnya bergairah lagi dan mengobarkan kembali api cintanya.
Akan tetapi, di kereta pula, 13 tahun yang lalu, dalam perjalanan pulang naik kereta di Yogyakarta, ia bertemu dengan Ira (Olga Lydia), sahabat SMA yang mendesak agar berkenalan dengan Helmi (Haydar Salishz) sehingga keduanya berpacaran dan menikah.
Tapi ternyata Helmi sebagai tameng perselingkuhan Ira, karena perkawinannya yang tak bahagia dengan Hadi. Seumur hidupnya Arini menyesali pertemuannya dengan Ira di kereta.
Film ini diawali dengan adegan Nick yang bertemu dengan Arini di dalam kereta di Jerman. Nick minta tolong pada Arini untuk membantu bersembunyi dari pemeriksaan petugas kereta. Arini tentu saja kaget karena baru bertemu dan belum kenal langsung dimintai tolong.
Nick sembunyi di dalam toilet. Tak lama petugas kereta datang dan memang memeriksa karcis penumpang. Setelah petugas berlalu, Nick keluar dari toilet dan kemudian duduk kembali dekat Arini.
Nick jatuh cinta pada pandangan pertama dan segera saja berusaha masuk ke dalam hidup Arini, sementara Arini yang tak lagi percaya akan cinta tak mampu menerima Nick. Nick yang masih berusia 23 tahun, merasa hatinya tertambat pada sosok Arini yang usianya sudah menginjak 38 tahun. Nick dengan gejolak muda menggelegak begitu percaya diri dan sangat berhasrat sekali untuk dapat merebut hati Arini.
Nick tampaknya punya banyak akal untuk terus menguntit Arini. Bukan hanya di stasiun tujuan, melainkan sampai apartemen tempat Arini tinggal. Beberapa lembar uang diberikan Arini secara spontan kepada Nick untuk meneruskan perjalanan liburan – agar tak terus mengusiknya – justru dibelikan bunga dan diberikan kepada Arini di apartemen, ketika ternyata HP Arini terbawa olehnya.
Beberapa bulan kemudian Arini kembali ke Indonesia dan diangkat menjadi CEO di perusahaan tempatnya bekerja. Nick yang terdesak oleh perasaan cintanya pada Arini menyusul pulang ke Yogyakarta meninggalkan kuliah di London. Di kota inilah mereka memulai kembali hubungan, berhadapan-hadapan dengan masa lalu gelap Arini bersama mantan suaminya, Helmi dan sahabatnya, Ira.
Arini hidup sebagai wanita yang dingin dan membentengi diri dari laki-laki karena luka masa lalu. Belasan tahun sebelumnya, Arini pernah dikecewakan mantan suami dan sahabatnya sendiri. Dinginnya Arini justru membuat Nick semakin semangat memenangkan cinta wanita yang usianya 15 tahun lebih tua darinya itu. Perbedaan usia bukan masalah bagi Nick yang selalu berapi-api cintanya pada Arini. Segala cara dilakukan Nick untuk membuat Arini jatuh ke pelukannya.
Film drama romantis ini menyentuh hati. Sutradara Ismail Basbeth mampu mengemas dengan baik. Ada perubahan lokasi syuting dari Amerika yang dulu dibuat oleh sutradara Sophan Sophian di tahun 1987, kini pindah ke Eropa, yakni Jerman. Nampaknya Eropa memang lebih eksotis dan romantis, daripada Amerika yang terlalu Hollywood sentris. Hal ini juga tampak dijaga sang sutradara dari semangat indie. Karena selain membuat film panjang, Ismail juga banyak membuat film eksperimental dan film pendek.
Akting Aura Kasih cukup baik dan mampu mengubah image Arini yang dulu melekat pada diri Widyawati. Aura menjadi dirinya sendiri. Seorang artis yang dikenal sensual yang tetap sensual hingga semakin memantaskan diri membuat Nick, lelaki yang 15 tahun lebih muda, dibuat tergila-gila.
Morgan Oey aktingnya juga cukup baik. Tampak ada juga usaha mengubah image Rano Karno, meski tak sepenuhnya berhasil, tapi kerja kerasnya patut diapresiasi. Morgan juga mencoba untuk menjadi diri sendiri. Hasilnya tampak seperti pemberontakan, sebagaimana lazimnya anak muda yang anti-kemapanan.
Sayangnya, Aura dan Morgan tampak seperti jalan sendiri-sendiri. Chemistry keduanya tak terjalin dengan cukup baik, meskipun keduanya berhasil membawakan peran masing-masing.
Olga Lydia yang berperan sebagai Ira, sahabat Arini, juga mampu memperkuat film ini penuh greget. Begitu juga dengan Haydar Saliz yang berperan sebagai Helmi, suami Arini, mampu memperkuat film ini penuh greget.
Film produksi Max Pictures dan Matta Cinema ini seperti ingin mengulang kesuksesan film drama romantis yang diadaptasi dari novel legendaris berjudul sama karya Mira W. Keromantisan yang dibuat lebih kekinian.
Penulisan skenario kolaborasi komersial dan seni antara Titien Wattimena dengan Ismail Basbeth cukup menjadi jaminan. Film ini bisa menjadi nostalgia bagi penonton yang sudah tak lagi muda yang dulu menonton film jadulnya. Film ini juga bisa menjadi tontonan baru bagi penonton zaman now untuk menjadi tahu romantisme gaya percintaan zaman dulu yang penuh lika-liku mengharu biru.