Rompis, Balada Cinta Roman dan Wulan

Editor: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Film bertema cinta tak akan lekang sepanjang zaman. Seperti film Rompis. Diadaptasi dari novel berjudul Roman Picisan karya Eddy D. Iskandar dan film Roman Picisan tahun 1980.

Pernah dibuat serial televisi Roman Picisan dan kini serial itu “dikembalikan” lagi menjadi film. Film ini berkisah tentang balada cinta Roman dan Wulan.

Film diawali dengan adegan pengumuman kelulusan anak SMA yang begitu ingar-bingar dalam mengekspresikan kegembiraannya. Sewaktu di lapangan sekolah, kepala sekolah mengumumkan hanya 40 persen yang lulus, tampak beberapa siswa ada yang sampai pingsan karena tak kuat mendengarnya.

Tapi begitu dinyatakan kalau 100 persen yang lulus langsung semua siswa begitu senang. Mereka sampai mencorat-coret seragam sekolahnya sebagai tanda berakhirnya masa sekolah SMA.

Dalam sekolah itu, ada yang menjalin hubungan asmara antara Roman (Arbani Yasiz) dengan Wulan (Adinda Azani). Setelah lulus SMA, keduanya sudah berjanji tak ingin berpisah. Tapi kenyataan berkata lain, karena Roman mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Belanda bersama dengan Sam (Umay Shahab). Tentu dengan demikian Roman terpaksa harus berpisah jarak dengan Wulan.

Wulan menyalahkan Sam karena Sam yang membuat Roman mendapatkan beasiswa. Tapi sebenarnya Sam tidak sepenuhnya salah, karena awalnya hanya dirinya yang dulu mengajukan beasiswa dengan ditemani Roman. Sam iseng mengajak Roman untuk ikut juga mengajukan beasiswa dan diceritakan karena Roman memang pintar sehingga Roman mendapatkan beasiswa.

Karena Roman kuliah di Belanda, kisah asmara dengan Wulan yang mulanya berjalan lancar, mulai terganggu oleh kehadiran Meira (Beby Tsabina), mahasiswi yang menjadi sahabat baru Roman di Belanda.

Awal perkenalan Roman dengan Meira sebenarnya tidak disengaja, yakni saat Roman mendapat nilai jelek pelajaran kuliahnya yang membuat Roman jadi panik. Karena begitu panik, begitu keluar kelas tanpa sengaja masuk toilet perempuan sehingga Roman dihajar perempuan Belanda, sampai akhirnya Meira menolong Roman karena tak tega melihatnya.

Roman senang bisa berkenalan dengan Meira, yang ternyata mahasiswi pintar, sedang menempuh S2 di Belanda. Meira begitu baik hati, mau membantu Roman untuk mengerjakan tugas kuliah. Sebagai balas jasa, Meira hanya minta untuk dibuatkan puisi pada Roman saat Meira ulang tahun. Roman menyetujui, karena menulis puisi sudah menjadi kebiasaan dirinya.

Mengetahui bahwa Roman sedang dekat dengan Meira, Wulan yang memang orang tajir langsung pergi menyusul ke Belanda secara diam-diam. Wulan yang ditemani oleh Sam mendatangi Roman di kampusnya dengan penuh rasa rindu.

Berharap disambut mesra, di sana Wulan justru melihat kedekatan Roman dan Meira yang membuat rindunya menjadi cemburu. Wulan menyaksikan Roman sedang dipeluk Meira.

Karena kedatangan Wulan begitu tiba-tiba, membuat Roman kaget tak terkira, apalagi melihat dirinya saat sedang dipeluk Meira. Wulan tentu saja cemburu, tapi Roman berusaha untuk menjelaskan karena dirinya tidak ada hubungan apa-apa dengan Meira.

Mengenai pelukan, Sam kemudian menerangkan bahwa pelukan sudah biasa di Belanda sebagai sebuah tanda keakraban saja. Tapi Wulan tak sepenuhnya percaya bahwa pelukan Meira dengan Roman hanya karena akrab saja, karena Wulan melihat Meira tampak begitu sangat perhatian pada Roman. Bahkan Meira selalu membawakan kotak makanan yang ditujukan khusus untuk Roman.

Roman tersudut di antara Wulan dan Meira. Tapi, cinta Roman tetap berlabuh pada Wulan, yang dicintainya saat SMA, meski Meira tampak menunjukkan rasa suka pada dirinya.

Film ini cukup menghibur. Monty Tiwa mengemas kisah percintaan anak milenial itu dengan cukup baik. Skenario film yang digarap bareng dengan Haqi Achmad dan Putri Hermansjah membuat film ini cukup memikat.

Alur ceritanya mengalir lancar. Dialog-dialognya cukup variatif, yang menunjukkan kepiawaian masing-masing penulis skenario. Dialog romantis muncul dari Haqi Achmad dan Putri Hermansjah, sedangkan dialog komedi dari Monty yang memang pintar mengocok perut.

Akting para pemain, Arbani Yasiz dan Adinda Azani, yang termasuk pendatang baru, tapi mampu menunjukkan permainan yang sangat baik. Hal ini mengingatkan pada idola pasangan remaja yang berakting gemilang dalam debut film seperti Rano Karno dan Yessy Gusman. Misalnya dalam film Romi dan Yuli atau Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo dalam film Ada Apa dengan Cinta?

Para pemain pendukung, Umay Shahab maupun Beby Tsabina, tampak sama memikat dan semakin memperkuat film ini. Sebagaimana peran pendukung yang dilakoni Dennis Adishwara, Adinia Wirasti, Ladya Cheryl, Sissy Priscillia, Titi Kamal, yang debut filmnya hanya berperan pendukung tapi kemudian menjadikan karirnya gemilang. Umay Shahab maupun Beby Tsabina punya peluang yang sama. Hanya waktu yang akan menjawab.

Film ini, meski kisah cinta para remaja, tapi menyampaikan pesan moral untuk berhati-hati dalam bertindak dan tidak semestinya langsung berprasangka buruk menuduh. Berpikir positif lebih baik dan juga berprasangka baik akan tetap membuat menjadi sosok orang yang bijak.

Lihat juga...