LENIN telah memutuskan untuk tidak langsung pulang ketika kerja hari ini usai. Sebenarnya, tidak ada hal istimewa yang menantinya di luar rumah. Ia hanya ingin memberi jarak antara ketidaknyamanannya dengan kenyamanan rumah yang mengkhawatirkan.
Saat itu ia sudah berada di dalam lift lalu menekan tombol G yang tertera pada papan monitor. Selama beberapa saat, ia sendirian dalam lift, disibukkan oleh kekosongan dalam otaknya.
Saat lampu penanda berwarna merah menunjukkan angka 10, pijakan lift sedikit tersentak dan pintu lift yang dihiasi cermin di kedua sisinya terbuka.
Bayangan Lenin terbelah dari sudut ia menatap dirinya. Beberapa orang yang terlihat kusut dengan kulit kering akibat pendingin ruangan yang menyedot semua kelembaban pada diri mereka bergabung bersama Lenin.
Di dalam lift itu semua orang mengenalnya, beberapa terlihat canggung hingga berkali-kali memindahkan tas jinjing dari satu tangan ke tangan yang lainnya.
Sementara yang lain berusaha menggaruk bagian tubuh yang tentunya tidak gatal, dan yang lain lagi hanya tersenyum padanya kemudian melanjutkan pembicaraan mereka yang terpotong.
Karena hari itu adalah awal dari akhir pekan mereka tentu berbicara tentang rencana-rencana yang menandakan betapa putus asa dan tersiksanya mereka selama beberapa hari ini.
Lenin diam mendengarkan tanpa sedikit pun tertarik untuk ikut bicara atau menyela.
Tiba-tiba tanpa diduga seorang pemuda — yang ia lupa namanya — menanyakan apakah ia lebih menyukai opera atau pertunjukan lain?
Pertanyaan ini cukup menarik bagi Lenin, mengingat ia tak memikirkan apa pun saat itu. Lalu ia menimbang-nimbang jawaban apa yang kiranya dapat memberi kepuasan pada dirinya sendiri.
Hal pertama yang dilakukan Lenin untuk menanggapi pertanyaan itu adalah berdehem pelan, ia ingin menunjukkan bahwa dirinya tahu banyak perihal kedua pilihan yang ditawarkan kepadanya itu. Pada lantai 8, lift kembali berhenti. Seorang wanita masuk bergabung.
Ia mengenakan seragam abu-abu pudar dengan tulisan nama perusahaan jasa perbaikan pipa yang dikontrak oleh perusahaan yang dipimpin Lenin. Dengan cepat Lenin menjawab, “Aku rasa aku lebih menyukai pertunjukan lain.”
Pemuda di sebelahnya terlambat menoleh karena terlalu fokus pada wanita itu. Lenin melihat wajah pemuda di sebelah kirinya itu, ia terlihat ingin bertanya lagi, mungkin ia ingin bertanya mengapa Lenin lebih menyukai pertunjukan lain, bukan opera. Sebelum pemuda itu mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan lain, Lenin sudah mulai mencari-cari jawaban. Kepalanya pening.
Opera; ia melihat jejeran kursi penonton, lampu-lampu panggung, alat-alat musik, ia mulai terbayang rupa para artis atau penyanyi opera yang pernah ditontonnya bersama Veronica.
Ia tak ingat satu pun judul opera yang ia datangi. Ia juga tak bisa mengingat gedung pertunjukan mana yang lebih sering ia kunjungi bersama Veronica. Apakah gedung yang berada dekat museum atau gedung yang terletak di tengah kota? Ini membingungkan.
Ia mulai merasa panik, leher di balik kerah kemeja birunya terasa panas. Dengan gusar ia menatap pemuda itu, ia harap pemuda terkutuk itu tak menanyakan alasan mengapa ia memilih pertunjukan lain.
Sementara itu, seperti melihat sesuatu yang sedang merasuki direkturnya, pemuda tadi mengambil jarak sedikit lebih jauh sambil mengangguk sebagai tanda bahwa ia mengerti pilihan Lenin.
Kekosongan dalam otak Lenin mulai dipenuhi oleh pertimbangan-pertimbangan yang tiada habisnya tentang opera dan pertunjukan lain. Ia berusaha mengalihkan pikirannya dengan melihat-lihat sekitar. Tapi apa yang bisa dilihat dalam lift itu? Yang ada hanya pantulan dirinya dan beberapa orang tadi.
Lantai lift itu tersentak dan lampu monitor menunjukkan huruf G. Pintu lift terbuka dan kembali ia melihat pantulan dirinya terbelah. Bayangan itu sedikit mengganggunya.
Orang-orang membiarkannya keluar terlebih dahulu, tentu saja ini sedikit menyusahkan, tapi ia anggap itu sebagai sesuatu yang harus ia lakukan karena orang-orang itu memilih begitu.
Lenin menatap lantai marmer hitam di bawah sepatunya.
Kekosongan kembali menyergap dirinya, ia merasa mendengar seorang wanita bernyanyi dengan nada tinggi. Bisa jadi itu adalah potongan ingatannya tentang opera yang pernah disaksikannya atau potongan pertunjukan teater tentang seorang penyanyi yang dianggap penyihir karena suaranya dapat menggetarkan surga.
Ia benar-benar kesal hingga tak disadarinya seorang laki-laki telah berdiri di hadapannya dengan napas terengah-engah. Lelaki itu berperawakan lebih pendek darinya, berkacamata dengan bingkai kuning keemasan. Matanya tidak menggambarkan apa pun, wajahnya penuh keringat.
“Apakah kau sakit?” Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Lenin. Ia mengajukan pertanyaan itu untuk mendapatkan balasan berupa pertanyaan serupa, jadi ia dapat menggambarkan kondisi dirinya dan membuat dirinya puas.
Tapi laki-laki tadi justru terlihat senang dan segera menjawab, “Oh tidak, aku baik-baik saja. Aku memanggilmu berkali-kali tapi sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu yang serius.”
Lenin terkejut oleh jawaban laki-laki itu. Ia tahu laki-laki itu berasal dari Divisi Sumber Daya Manusia di perusahaan yang ia pimpin. Lenin berusaha mengingat namanya, apakah ia Roland? Laki-laki yang tidak disukai Veronica itu? Atau Martin? Veronica juga tidak menyukainya.
Oh, mungkinkah ia Adam? Veronica pernah bilang bahwa Adam lebih baik dari Martin. Benarkah Adam yang lebih baik dari Martin ataukah sebaliknya? Oh, Lenin benar-benar membenci ini, menebak-nebak nama orang-orang itu.
“Jadi apa yang sedang kau pikirkan di hari Jumat yang menyenangkan ini? Apakah rencana akhir pekan? Bagaimana kalau kau datang nanti malam? Kami berencana merayakan pencapaian tahun ini. Orang-orang dari divisi lain juga akan datang dan aku rasa mereka akan senang jika kau juga bergabung dengan kami.”
Dalam hati, Lenin mengutuknya berkali-kali. Bagaimana mungkin laki-laki yang masih tak dapat diingat namanya ini mengundangnya datang ke pesta yang telah ia siapkan? Pesta?
Membayangkan harus memilih pakaian, mencocokkannya dengan sepatu, dasi dan jam tangan. Memilih hadiah dari toko, menentukan bungkusan apa yang layak, harus berbicara dengan siapa dan membicarakan apa dalam pesta itu membuat Lenin kehabisan napas.
Tas yang dari tadi dibawanya terasa memberat. Ia terpaksa menjatuhkannya, tas itu menimbulkan dentuman dan membuat lawan bicaranya sedikit kebingungan. Lenin sudah tidak sanggup lagi, ia ingin muntah, pandangannya berkunang-kunang, ia dapat merasakan keringat sedingin hujan musim gugur meleleh di pelipisnya.
Laki-laki yang tak diingat namanya itu bergegas mengajak Lenin duduk di sofa tanpa sandaran yang sengaja diletakkan untuk para pelanggan yang harus menunggu. Lenin tak ingin bicara karena jika ia bicara ia yakin isi perutnya akan berserakan. Laki-laki itu mengerti dan bergegas meninggalkannya sambil berkata bahwa jika Lenin ingin hadir di pesta itu ia tahu harus ke mana.
Kepanikan yang berlebihan saat-saat ini sering menghampiri Lenin. Terutama ketika ia harus memilih atau dihadapkan pada sesuatu di luar pekerjaannya. Untuk urusan pekerjaan ia telah membayar seorang wanita yang selalu membantunya, memutuskan tindakan yang mungkin baik untuk perusahaannya.
Tapi untuk rencana-rencana akhir pekan biasanya yang memutuskan adalah Veronica. Orang-orang yang bekerja bersamanya memaklumi perilaku Lenin yang tidak seperti biasanya itu. Mereka mengganggap Lenin membutuhkan banyak waktu untuk istirahat.
Rasa lelah yang begitu hebat telah melanda Lenin. Ia merasa membutuhkan sesuatu. Mungkin mandi air hangat akan membantunya. Ia bangkit masih dengan sedikit pusing, berjalan perlahan ke arah mobil pribadinya dengan berusaha sekuat tenaga menghindari percakapan dengan siapa saja.
Ia sadar bahwa ia sudah tidak sanggup lagi menjawab pertanyaan yang tak memiliki jawaban di dalam otaknya. Saat ia melihat sopir pribadinya telah membukakan pintu ia merasa sedikit lebih baik.
Lenin melepas mantel, meletakkan semua di sebelahnya dan tidak berkata apa pun pada sopir itu. Sopirnya juga tidak berkata apa-apa, ia menyalakan mesin mobil, memeriksa dari kaca yang memantulkan bayangan Lenin yang duduk meringkuk, kemudian segera melaju ke arah rumah. Saat itu Lenin sudah lupa pada rencananya untuk tidak langsung pulang ke rumah.
Sopir itu telah bekerja untuk Lenin dan Veronica selama hidupnya menjadi sopir. Baginya Lenin adalah laki-laki yang penuh cinta karena selalu mengikuti apa yang dikatakan istrinya. Lenin tak pernah mengeluh perihal apa pun yang dipilihkan oleh istrinya dan selalu bertanya pendapat Veronica untuk apa pun.
Tidak hanya itu, Lenin juga sangat ramah padanya, selalu meminta pendapatnya mengenai jalan mana yang harus ditempuh untuk menuju ke sini atau ke situ dan Lenin tak pernah mengeluh atas pilihannya.
Tapi sudah hampir tiga bulan ini sikap Lenin sedikit berbeda. Ia menjadi sangat pendiam, tidak lagi suka bepergian atau mengunjungi koleganya. Tidak lagi menyusun rencana-rencana di bangku belakang. Sopir itu menjadi kasihan pada majikannya. Rasa kasihan yang amat mendalam hingga ia bisa menangis untuk laki-laki itu.
Lenin membuka kaca mobil. Mengamati warna musim gugur yang cantik, ia merasa kedinginan tapi jauh lebih baik dari sebelumnya. Ia mampu bernapas dengan baik dan kembali kepada kekosongan di dalam otaknya. Ia mampu melihat pagar rumahnya dirambati mawar yang hanya menyisakan buah-buah kuning mengilat*.
Ia ingat Veronica memilih mawar itu puluhan tahun lalu. Katanya buah mawar itu kaya akan vitamin C. Lenin tak pernah mendebat atau keberatan, karena apa pun itu ia senang ada Veronica yang memilih dan memutuskan.
Begitu juga rumah yang mereka tempati, Veronica memilih karena udara di atas bukit jauh lebih baik. Warna coklat pada dinding rumah itu serta semua hal yang ada di halaman dan di dalam rumah diputuskan oleh Veronica.
Lenin turun dari mobil, berjalan gontai, membuka pintu rumah dengan susah payah, kemudian merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk yang dibeli Veronica entah kapan. Beberapa batang lili putih masih segar di dalam vas, terutama yang berada di bawah foto pernikahan mereka.
Ia mengamat-amati wajahnya; tersenyum menatap kamera dan Veronica mencium pipi kirinya. Veronica terlihat cantik dan Lenin tiba-tiba heran pada dirinya sendiri. Apa yang ia pikirkan saat itu? Ia berusaha mengingat bagaimana ia bertemu dengan Veronica dan memutuskan untuk menikah.
Tapi ia tak dapat lagi mengingatnya. Yang ia ingat adalah Veronica bersedia menikah dengannya. Adakah pernikahan itu karena cinta seperti yang sering ditanyakan orang-orang kepadanya? Tentu saja, ia memilih Veronica karena wanita itu mencintainya dan Lenin tentu mencintai dirinya sendiri.
Veronica memenuhi pikirannya, ia merasa lapar tapi sangat ingin melepas penat. Lenin tak tahu harus melakukan apa terlebih dahulu. Kepalanya mulai pening lagi hingga tengkuknya terasa sakit bukan main.
Perasaan itu membuatnya marah hingga mengutuk hilangnya Veronica. Bagaimana mungkin tiga bulan yang lalu wanita itu lenyap begitu saja, meninggalkan semua penderitaan akibat kebingungan yang akan terus ditanggung Lenin.
Kehilangan Veronica bagi Lenin jauh lebih menakutkan dari kematian Veronica sendiri. Dengan putus asa ia melangkah menghampiri foto Veronica yang sedang mencium pipinya.
“Vero, apa yang harus kulakukan?” tanyanya. Kemudian ia menempelkan telinganya pada bibir Veronica, tapi yang terdengar hanya kekosongan dalam otaknya. ***
*) Bunga mawar menghasilkan buah agregat yang disebut rose hips.
Maywin Dwi Asmara, cerpenis dan peneliti. Tahun 2014 mendapat research fellow dari satu Universitas di Bologna, Italia. Pada Oktober 2016 diundang Dewan Kesenian Jakarta sebagai pemateri dalam Dua Forum Teater Riset. Ia berkhidmat di Komunitas Akar Pohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.
Redaksi menerima kiriman cerpen. Tema dan panjang naskah bebas yang pasti tidak SARA. Naskah orisinil, belum pernah tayang di media online maupun cetak, dan juga belum pernah dimuat di buku. Kirimkan naskah beserta biodata dan nomor ponsel ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.