Muhammad Yusuf Angkat Surfing dalam Film ‘Bluebell’

Editor: Koko Triarko

Sutradara Muhammad Yusuf. –Foto: Akhmad Sekhu.

JAKARTA – Sutradara Muhammad Yusuf, selama ini dikenal sebagai sutradara film ber-genre horor thriller. Seperti film Tebus (2011), The Witness (2012), Kemasukan Setan (2013), Angker (2014), Misterius (2015), The Curse (2017). tapi di tahun ini IA menyutradarai film drama romantis ‘Bluebell’.

Meski film produksi Ratson Pictures dan Triple A Films ini bergenre beda dari film-film garapan sebelumnya, Yusuf mengaku masih tetap mempertahankan gaya khas penyutradaraan yang penuh suprise.

Lulusan Holmes Institute Melbourne Australia, ini memulai karirnya di sebuah perusahaan iklan internasional yang digelutinya selama sembilan tahun. Pekerjaan ini ditinggalkan demi mengejar mimpinya menjadi sutradara hingga sekarang ia termasuk sutradara yang diperhitungkan.

Yusuf mulai karir penyutradaraan dengan membuat film televisi, seperti  Batas Bayang (2006), Jakarta, Cinta dan Cita (2008) dan Cinta di Paris Van Java (2009), sebelum akhirnya terjun total ke film layar lebar.

“Saya membuat film ini penuh dengan surprise, sama seperti film-film saya sebelumnya,“ kata sutradara Muhammad Yusuf kepada Cendana News, seusai press screening film ‘Bluebell’ di Bioskop CGV, Grand Indonesia, Jakarta, beberapa waktu yang lalu.

Dalam film ‘Bluebell’ ini, Yusuf ingin penonton tidak tahu setiap adegan ada surprise-nya. “Jadi, tidak hanya sekedar film cinta bertutur A sampai Z, tapi saya bolak-balik ceritanya jadi penuh surprise,“ ungkap sutradara yang juga pernah membintangi film ‘Bisikan Arwah’ (1988) ini.

Yusuf mengangkat surfing dalam film ini, supaya lebih fresh, mengingat Indonesia penuh dengan pantai yang indah. “Jarang perempuan ikut surfing menjadi surfer, jadi timbul keinginan saya buat film surfer girl dengan kisah cintanya,“ bebernya.

Terbiasa menyutradarai film ber-genre horor dan thriller, Yusuf pun perlu waktu panjang untuk mempertimbangkan sampai kemudian mantap membuat film drama romantis ini.

“Saya buat cerita Bluebell dua tahun lalu sampai kemudian dibuat filmnya,“ paparnya.

Ketika ditanya menarik mana film ber-genre horor thriller dengan film drama romantis? Dengan tenang, Yusuf memberikan jawaban, “Dua-duaNYA menarik, dua-duanya enak, dan dua-duannya sama-sama punya tantangannya masing-masing.”

Yusuf mengaku menggarap cerita film horor ditulis pada malam hari agar dapat feel-nya. “Kalau film drama ini saya nulisnya di pantai, agar lebih inspriratif, “ tegasnya.

Ke depan, Yusuf menyiapkan film berjudul ‘7 Bidadari’. “Genre filmnya horor thriller yang syutingnya di Australia,“ tandasnya.

Lihat juga...