BTM Diminta Lebih Fokus Kembangkan Sektor Riil

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Sekertaris Umum Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Azzrul Tanjung, meminta kepada Baitul Tamwil Muhammadiyah (BTM) yang merupakan lembaga keuangan mikro di Muhammadiyah, untuk lebih fokus mengembangkan sektor riil. 

Menurut Azzrul, potensi bisnis Muhammadiyah sangat besar di sektor riil. “Jika BTM bisa fokus di sektor tersebut, BTM akan menjadi pioner dalam mengembangkan ekonomi syariah di Tanah Air,” kata Azzrul, pada  rapat anggota tahunan Koperasi Simpan Pinjam Pembiayaan Syariah (KSPPS) BTM BiMU Lampung, Kamis (29/3/2018).

Menurut dia, sejauh ini peran BTM masih dalam simpan dan pinjam di sektor keuangan saja, belum terlalu banyak ke sektor-sektor riil. Untuk mendorong ke sektor riil, Azzrul menyarankan agar  financial engineering dalam skema pembiayaan mikro BTM diwujudkan.

Apalagi, dalam fiqh muamalat banyak untuk menjadikan rujukan dasarnya. “Saya yakin, itu bisa dibuat dan sektor-sektor riil bisa dibiayai dalam skema keuangan mikro,” ujar Azzrul.

Diakui Azzrul, salah satu pemicu inflasi yang terjadi saat ini dikarenakan minimnya pergerakan uang di sektor riil. Ini terjadi, karena lembaga keuangan enggan masuk dalam sektor riil yang dianggap berisiko tinggi.

Tapi, kata dia, bagi BTM tidak demikian, BTM harus berani masuk ke dalam sektor riil. Karena BTM bukan hanya sekedar menyalurkan uang saja, tapi juga terlibat dalam memberikan pendampingan. “Ini yang minim dilakukan oleh lembaga keuangan lainnya,” ujarnya.

Ketua KSPPS BiMU, Jamhari Hadipurwanto, menyambut baik apa yang menjadi saran dari Sekum MEK  PP Muhammadiyah. “BTM BiMU kini sedang berbenah untuk fokus dalam bisnis di sektor riil,” kata Jamhari.

Di antaranya, sebut dia,  adalah dengan mendirikan PT BUMR untuk membangun bisnis jual beli  alat-alat pertanian, klinik BiMU Medika yang merupakan unit bisnis di sektor kesehatan, usaha properti dan usaha nelayan berupa ekspor rajungan ke Amerika.

“Itulah beberapa sektor riil yang selama ini dikembangkan oleh BTM BiMU,” jelasnya.

Terkait RAT KSPPS BTM BiMU 2017, Jamhari menyampaikan, terjadi peningkatan jumlah anggota dan calon anggota. Dari 388 anggota di 2016 menjadi 8.537 anggota pada 2017.

Sementara perkembangan pembiayaan pada 2016 sejumlah Rp12 miliar, dan pada 2017 menjadi Rp48,4 miliar, sehingga terjadi kenaikkan 300 persen. “Aset terjadi kenaikan dari Rp29,5 miliar di 2016 menjadi Rp45,6 miliar di 2017 atau tumbuh 54 persen,” ungkap Jamhari.

Jamhari berharap, agar BTM BiMU bisa terus berkembang dengan pesat. Apalagi, di tengah makro ekonomi bangsa yang terjadi saat ini kurang begitu bagus. Untuk itu, konsolidasi dan kesolidan sumber daya insani akan terus ditingkatkan.

Lihat juga...