Metode MTBS Tingkatkan Kemampuan Mahasiswa Keperawatan

Editor: Koko Triarko

Mahasiswa  Program Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Wirda Hayati, -Foto: Ist/ Jatmika H Kusmargana

YOGYAKARTA  – Penanganan anak balita sakit melalui Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) perlu dilakukan untuk meneguhkan diagnosis tunggal pada penyakit anak yang biasanya muncul dengan tanda dan gejala yang lebih dari satu. 

Manajemen terpadu ini merupakan standar pelayanan kesehatan kepada anak sakit yang diterapkan di puskesmas, yang sudah dikembngakan WHO sejak 1999.

Namun, sayangnya penerapan manajemen terpadu ini sampai saat ini belum maksimal. Salah satu penyebabnya adalah sumber daya manusia tenaga keperawatan yang belum terlatih.

Mahasiswa  Program Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Wirda Hayati, menilai untuk mengatasi kondisi tersebut perlu dilakukan pembelajaran MTBS pada tatanan preservice bagi mahasiswa Diploma III Keperawatan.

Dalam penelitiannya berjudul ‘Model Pembelajaran MTBS dengan Metode Experiental Learning pada Mahasiswa Diploma III Keperawatan Aceh’, Wirda mengatakan, mahasiswa DIII Keperawatan memerlukan metode pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman belajar berulang-ulang untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap, sehingga memiliki kompetensi klinik yang diperlukan di bidang kesehatan.

“Salah satu metode pembelajaran tersebut adalah experiental learning, metode ini memberikan pengalaman belajar aktif dan belajar dari pengalaman orang lain,” katanya, di UGM belum lama ini.

Dari hasil penelitian yang melibatkan 92 mahasisa Diploma III Keperawatan Aceh, dalam menerapkan model pembelajaran MTBS dengan metode experiential learning, diketahui terdapat peningkatan skor pengetahuan MTBS yang didapat oleh mahasiwa.

“Peningkatan itu meliputi pengetahuan prosedural, sikap, otonomi mahasiswa, keterampilan tata laksana, efikasi diri dan praktik MTBS,” ujarnya.

Praktik MTBS pada mahasiswa tersebut dilakukan selama tujuh hari, terdiri dari tiga hari praktik di puskesmas untuk penanganan balita usia dua bulan hingga lima tahun. Selanjutnya selama empat hari berada di masyarakat untuk tata laksana manajemen terpadu untuk bayi yang baru lahir, hingga yang berumur kurang dari dua bulan.

Menurut Wirda, pembelajaran dengan metode studi kasus MTBS dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa calon perawat untuk terbiasa berpikir kritis dan antusias dalam proses pembelajaran.

“Metode studi kasus juga memfasilitasi mahasiswa untuk membangun persepsinya tentang lahan praktik di kemudian hari,” pungkasnya.

Lihat juga...