Tingkatkan Produksi Ikan, Kaltim Miliki Delapan PPI

Editor: Satmoko

BALIKPAPAN – Guna mendukung pengembangan kegiatan kelautan dan perikanan, Provinsi Kalimantan Timur telah memiliki 8 Gedung Pemasaran Ikan di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI). Dalam bidang perikanan tangkap maupun budidaya kabupaten dan kota di Kaltim memiliki potensi dan keunggulan di masing-masing daerah.

Berdasarkan data yang dimiliki Pemprov Kaltim, konsumsi ikan masyarakat Kaltim sebesar 46,41 kg/kapita/tahun. Angka itu lebih tinggi dibandingkan dengan konsumsi ikan nasional sebesar 39 kg/kapita/tahun. Sehingga produksi perikanan Kaltim harus mengarah pada pemasaran antarpulau dan ekspor, sebab kebutuhan di daerah sudah terpenuhi.

“Potensi perikanan di kawasan laut dan pesisir Kaltim sangat besar. Karena itu kami terus melakukan pengembangan subsektor kelautan dan perikanan baik untuk budidaya maupun tangkap,” kata Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak, belum lama ini.

Ia menyebutkan, Kaltim telah memiliki 8 PPI yang tersebar di kabupaten/kota. Dari 8 PPI tersebut setiap harinya dihasilkan 100 ton.

Gubernur Kalimantan Timur, Awang Faroek Ishak. Foto: Dokumentasi CDN

“Potensi ikan di Kaltim sangat besar dan jumlah nelayan di Kaltim juga sangat banyak. Dengan 8 PPI dapat dioperasikan dengan maksimal. Delapan PPI itu ada di Paser, PPI Api-Api di PPU, PPI Manggar di Balikpapan. Kemudian PPI di Kutai Kartanegara, PPI di Kutai Timur, PPI Tanjung Limau di Bontang, PPI Sambaliung di Berau dan PPI Selili,” sebutnya.

Untuk mendukung produksi ikan di wilayahnya, Awang menambahkan pembinaan dan bantuan oleh pemerintah terus dilakukan dan diupayakan peningkatan. “Dinas Kelautan dan Perikanan tak lelah melakukan pembinaan, sangat salut sekali,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Ikatan Penyuluh Perikanan Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Baharuddin Demo, menilai jumlah delapan PPI yang ada di Kaltim masih sangat kurang untuk mengakomodir hasil tangkapan nelayan.

“Jumlah itu masih sangat kurang, sehingga perlu ada tambahan PPI lagi. Tak perlu besar seperti yang ada di Selili, Samarinda. Yang terpenting bisa mengakomodir hasil ikan tangkapan nelayan dan langsung dijual tanpa harus ke tengkulak,” ujarnya saat dihubungi, Senin (5/2/2018).

Dia mengatakan yang diperlukan nelayan di kawasan Kutai Kartanegara ada tempat untuk mengakomodir tempat pendaratan ikan. “Tempatnya tidak perlu besar, tapi bisa mengakomodir ikan hasil tangkapan nelayan. Memang kalau besar itu butuh biaya yang tidak sedikit, sehingga kecil saja tempatnya agar nelayan juga terakomodir,” tukasnya.

Lihat juga...