Kurangi Risiko Kecelakaan Laut, Nelayan Perlu Memiliki Keterampilan Mandiri
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
JAKARTA – Kepala BRSDM Kelautan dan Perikanan, Sjarief Widjaja, mengatakan, jaminan keamanan armada penangkapan yang ditunjang dengan mesin kapal, menjadi salah satu faktor keberhasilan nelayan dalam operasi penangkapan ikan. Perhatian dalam merawat dan menjaga mesin kapal secara mandiri diperlukan untuk menekan angka kecelakaan.
“Saat ini banyak sekali kecelakaan kapal yang diakibatkan banyak faktor. Salah satunya perhatian nelayan dalam melakukan perawatan secara mandiri masih kurang. Ini perlu diperhatikan untuk menurunkan tingginya angka kecelakaan di laut bagi nelayan saat mencari ikan,” ungkap Sjarif, dalam pengarahan melalui zoom kepada Peserta Pelatihan Perawatan Mesin Kapal Perikanan di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, berdasarkan rilis yang diterima Cendana News, Senin (28/6/2021).

Dikatakan, keterampilan nelayan dalam merawat dan menjaga mesin kapal secara mandiri perlu ditingkatkan, agar keamanan dalam penangkapan ikan terjamin. Sehingga tingkat kecelakaan kapal nelayan penangkap ikan bisa diturunkan.
Menurutnya, sesuai data dari Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia, sebanyak 42 kecelakaan terjadi di laut selama Desember 2020 hingga Juni 2021, akibatnya 83 nelayan hilang. Kejadian tersebut didominasi karena kerusakan mesin kapal.
Lebih lanjut Sjarief mengajak masyarakat untuk mulai mengolah hasil perikanan, baik itu hasil tangkapan maupun panen budidaya. Salah satunya dengan cara menggunakan alat tangkap ramah lingkungan, karena itu bermanfaat untuk menjaga keberlanjutan alam.
“Dengan adanya diversifikasi produk olahan, maka nilai jual dari ikan tersebut akan naik dan berdampak pada ekonomi masyarakat,” imbuh Sjarief berharap ketersediaan ikan di perairan Indonesia terus ada hingga waktu mendatang.
Kepala Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Puslatluh KP), Lilly Aprilia Pregiwati mengatakan, pelatihan ini bermanfaat untuk menekan biaya operasional nelayan. Dengan perawatan mandiri, nelayan tak perlu lagi mengeluarkan biaya bengkel. Selain itu, perawatan mesin yang rutin dapat memperpanjang umur mesin.
“Tidak banyak bengkel kapal yang tersedia, lokasi bengkel yang jauh cukup memakan waktu lama dalam perbaikan. Saya berharap pada pelatihan ini para pelaku utama tidak perlu lagi datang ke bengkel, namun bisa memperbaiki sendiri sebagaimana layaknya menjaga motor atau mobil,” ujar Lilly.
Pelatihan juga diharapkan dapat meningkatkan produktivitas nelayan, karena dengan terawatnya kapal dapat memiliki umur atau waktu penggunaan yang panjang. Selain itu, dengan kondisi kapal yang baik dapat menghasilkan tangkapan ikan yang melimpah, tentunya akan banyak memberikan keuntungan bagi nelayan.