Tingkatkan Kesehatan Warga, Bidan Puskesdes Giat Lakukan Sosialisasi
Editor: Satmoko
LAMPUNG – Upaya meningkatkan kesehatan masyarakat di Pulau Rimau Balak, Desa Sumur, Kecamatan Ketapang, terus dilakukan oleh sejumlah bidan.
Bidan Desi Novita (26) adalah bidan yang ditugaskan di Pusat Kesehatan Desa (Puskesdes) di bawah unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan, Puskesmas rawat Ketapang. Ia menyadari, salah satu kendala yang dihadapi masyarakat di pulau tersebut, adalah kesehatan lingkungan berkaitan dengan kebutuhan air bersih.
Sebagian warga disebut Desi Novita, bahkan masih memanfaatkan air hujan dengan cara melakukan penyaringan di dalam drum plastik. Meski sarana terbatas, bidan Desi Novita menyebut, selalu rutin melakukan sosialisasi kepada masyarakat di pulau tersebut untuk menjaga kesehatan lingkungan. Selain untuk kebutuhan mandi, minum dan kebutuhan lain, air hujan terpaksa digunakan akibat susahnya memperoleh air bersih.
“Upaya menjaga sanitasi air saya lakukan dengan penyuluhan untuk melakukan penyaringan air dan dipanaskan dengan suhu tinggi. Bagi yang sudah mampu bisa membeli air bersih mempergunakan galon dari Pulau Sumatera,” terang Desi
Novita, selaku bidan di Puskesdes Pulau Rimau Balak Desa Sumur Kecamatan Ketapang Lampung Selatan, saat dikonfirmasi Cendana News, Jumat (16/2/2018).

Upaya pembuatan sumur bor sedalam 60 meter untuk memperoleh air bersih bahkan gagal sehingga warga kembali memanfaatkan air hujan dan air dari sumber mata air yang keruh. Air tersebut sulit diperoleh setiap musim kemarau sehingga keperluan untuk mandi, cuci, kakus lebih sulit dibandingkan air hujan.
Sulitnya memperoleh air bersih, diakui Desi Novita, membuat sebagian warga pulau masih memanfaatkan jamban di tepi pantai. Fasilitas jamban umum yang tersedia satu satunya merupakan jamban bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Direktorat Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. Bantuan jamban komunal tersebut merupakan program pengelolaan lingkungan berbasis pemberdayaan masyarakat (PLBPM) tahun 2006.
Bidan Desi Novita menyebut, fasilitas jamban tersebut belum bisa memenuhi kebutuhan warga di Pulau Rimau Balak yang berjumlah sekitar 80 kepala keluarga (KK) dan berjumlah sekitar 200 jiwa.
Melalui pemerintah desa ia sudah mengusulkan pembuatan jamban sehat melalui program sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) meski usulan belum bisa direalisasikan. Anggaran dari dana desa masih belum bisa dialokasikan mengingat luas wilayah Desa Sumur yang sebagian ada di daratan Pulau Sumatera dan Pulau Rimau Balak.
Meski fasilitas masih terbatas, ia menyebut, sosialisasi melalui Posyandu setiap tanggal 18 tiap bulan terus dilakukan dengan tujuan penyuluhan kesehatan masyarakat. Sebagian warga disebut bidan Desi Novita sudah menerapkan pembuatan jamban sehat secara mandiri meski sebagian masih mempergunakan jamban komunal.
Sosialisasi kebersihan lingkungan sejak dini dilakukan dengan kegiatan Jumat bersih dan penyiapan kotak sampah agar warga tidak membuang sampah sembarangan.
“Usulan dari warga sebetulnya penambahan jumlah jamban komunal sehingga lebih efisien dan bisa dipergunakan banyak orang jika anggaran dana desa terbatas,” beber Desi Novita.

Marina terpaksa mempergunakan air hujan dan air keruh mata air Pulau Rimau Balak saat kondisi cuaca buruk sehingga suaminya tak melaut mencari ikan. Air bersih dalam galon yang dibeli dari Pulau Sumatera tersebut, diakuinya kerap harus dihemat terutama saat musim kemarau.
Air hujan disebutnya merupakan air yang sangat penting sehingga warga seperti Marina memanfaatkan bak penampungan untuk menyimpan air bersih.