Petani Lamsel Mulai Kembangkan Potensi Serai Wangi

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG — Tanaman serai wangi yang kerap dipergunakan sebagai tanaman bumbu, mulai dilirik oleh warga Desa Sripendowo, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan, sebagai tanaman budi daya yang mudah dikembangkan dan bernilai ekonomi tinggi.

Subandi (40), warga pemilik lahan satu hektare di desa tersebut, mengatakan, semula lahan miliknya hanya ditanami 500 batang tanaman sengon untuk investasi. Namun, lahan yang luang tersebut masih bisa dipergunakan sebagai lahan untuk menanam serai.

Pada tahap awal, saat tanaman sengon miliknya berusia satu tahun, tanaman serai miliknya sudah bisa dipanen sekitar satu ton. Dalam kondisi basah dijual seharga Rp20.000 per kilogram di tingkat petani, sementara dalam kondisi kering Rp35.000 per kilogram.

Semula, Subandi menanam serai jenis bumbu yang dijual sebesar Rp3.000 sebagai bahan bumbu. “Salah satu kemudahan penanaman serai wangi adalah bisa tumbuh dalam kondisi ternaungi tanaman lain, serta tingkat kesuburan tanah yang kurang sekaligus mudah dalam perawatan,” terang Subandi, saat ditemui Cendana News, Senin (5/2/2018).

Menurutnya, serai bumbu dengan hasil sebanyak satu ton yang bisa dipanen sekitar tiga hingga empat bulan sekali, secara bertahap dengan hasil penjualan Rp3 juta dengan harga Rp3.000 per kilogram. Harga yang murah dengan penanaman serai bumbu, dengan masa panen perdana saat umur empat bulan, memiliki harga jual lebih tinggi, yakni Rp20.000 per kilogram dalam kondisi basah, dan Rp35.000 per kilogram dalam kondisi kering.

Penanaman bibit serai wangi, katanya, sekaligus menjadi pagar di sekeliling lahan penanaman sengon dengan jarak tanam satu meter kali satu meter, menyesuaikan jarak tanaman pohon sengon. Penanaman serai wangi di antara tanaman sengon disebutnya sekaligus menghalangi pertumbuhan rumput pengganggu pada tanaman sengon.

“Pemupukan menggunakan pupuk kandang sebagai pupuk dasar sekaligus bisa menyuburkan tanaman serai dan sengon,” beber Subandi.

Pada panen perdana serai wangi saat usia tanaman sekitar empat bulan, mampu menghasilkan sekitar satu kilogram dengan jumlah rumpun sekitar seribu, bisa menghasilkan satu ton serai wangi.

Rumpun serai wangi yang sudah dipanen, akan semakin bertambah anakan dan rumpun saat usia tujuh bulan, dan maksimal masih bisa dipanen hingga usia satu tahun sebelum diremajakan kembali.

Harga yang cukup lumayan dalam kondisi kering, diakui Subandi membuat ia kerap sengaja menjual dalam kondisi kering, dengan omzet penjualan sekitar Rp35 juta untuk satu ton serai wangi kering.

Tanaman serai dijadikan tanaman sela dengan tanaman sayuran lain [Foto: Henk Widi]
Serai wangi tersebut dikirim oleh pengepul ke pabrik pengolahan minyak atsiri yang bisa dipergunakan sebagai minyak serai. Hasil yang cukup menggiurkan tersebut diakui Subandi bisa diperoleh hingga tanaman sengon memasuki usia panen sekitar tujuh tahun.

“Selain memanen serai, beberapa bulan sekali saya masih memiliki investasi jangka panjang dengan menanam sengon yang kerap dipakai sebagai bahan palet,” terang Subandi.

Tanaman sengon yang pernah ditanam sebanyak 500 batang disebutnya bisa menghasilkan sekitar 500 kubik kayu, dengan harga jual Rp800.000 per kubik. Dirinya bahkan bisa memperoleh Rp400 juta saat usia panen sengon yang bisa ditebang ketika berumur tujuh tahun.

Warga lain yang mengembangkan serai wangi sekaligus serai bumbu, Sutari (29), mengaku menanam serai sebagai kebutuhan untuk bumbu dapur sebagian dijual ke pengepul. Tanaman serai diakuinya mudah ditanam di tepi jalan sebagai penghias halaman, bahkan menjadi kebutuhan bumbu tanpa harus membeli dan kerap dijual kepada pengepul dengan sistem borongan satu rumpun seharga Rp30.000 untuk serai bumbu, dan serai wangi Rp20.000 per kilogram dalam kondisi basah.

Keterbatasan lahan diakui Sutari membuat ia dan suami hanya menanam sekitar puluhan rumpun serai bumbu dan serai wangi, di sela tanaman pisang. Tanaman serai disebutnya sekaligus menjadi penahan kikisan air saat musim penghujan dan bisa ditanam di lahan-lahan miring sebagai penahan abrasi. sekaligus memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

Lihat juga...