Pertanian Masih Jadi Lokomotif Pertumbuhan Ekonomi NTB

Editor: Koko Triarko

Juru bicara Pemprov NTB, Irnadi Kusuma. –Foto: Turmuzi

MATARAM – Sampai saat ini, sektor pertanian masih menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), bahkan di saat ekonomi NTB tertekan oleh kinerja pertambangan biji logam atau konsentrat dan ekpor luar negeri.

Hal tersebut didasarkan hasil rilis pertumbuhan ekonomi NTB, triwulan lV yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) NTB di Mataram, Senin (5/2/2018).

Juru Bicara Pemprov NTB, Irnadi Kusuma, mengatakan, dirinya sangat mengapresiasi capaian pertumbuhan ekonomi  NTB tersebut, meski nilainya sebesar 0,11 persen, tapi harus bangga.

“Capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 0,11 persen tersebut, mungkin bagi teman-teman sedikit, tapi bagi Pemprov tentu sangat mengapresiasi sebagai sebuah capaian”, katanya.

Menurutnya, capaian tersebut tentu akan menjadi bahan evaluasi dan masukan, untuk terus berupaya semaksimal mungkin, bagaimana terus meningkatkan pertumbuhan ekonomi NTB, melalui sejumlah program yang telah dicanangkan.

Lebih penting, bagaimana capaian tersebut bisa dipertahankan dan terus ditingkatkan, melalui upaya lain untuk terus meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

“Pimpinan OPD diharapkan bisa jeli menerjemahkan semua program yang telah dicanangkan gubernur dan yang paling penting adanya sinkronisasi program”, katanya.

Kepala BPS NTB, Endang Sri Wahyuningsih mengatakan, selain sektor pertanian, sektor perdagangan, konstruksi, transportasi dan jasa keuangan juga mampu tumbuh meyakinkan, sehingga pertumbuhan ekonomi NTB yang  nyaris tumbuh negatif, akhirnya tumbuh positif sebesar 0,11 persen pada triwulan lV 2017.

Berdasarkan data BPS, pertumbuhan yang disumbangkan oleh pertanian 1,37 poin, diikuti lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor 1,02 poin dan lapangan usaha konstruksi sebesar 0,68 poin.

“Sedangkan lapangan usaha pertambangan dan penggalian menjadi sumber kontraksi sebesar -5,15 poin”, katanya.

Pertumbuh ekonomi NTB sebesar 0,11 persen didasarkan atas harga berlaku pada triwulan lV tahun 2017 mencapai Rp31,19 triliun, dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp23,26 triliun. Sehingga, PDRB 2017 menjadi Rp123,9 triliun, atas dasar harga berlaku dan Rp94,6 triliun atas dasar harga konstan.\

Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada lapangan usaha jasa keuangan sebesar 9,98 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi terjadi pada komponen konsumsi Lembaga Non Profit Rumah Tangga ( LNPRT) sebesar 6,14 persen.

Lihat juga...