Pakan Fermentasi, Solusi Peternak Saat Sulit Cari Pakan Hijauan
Editor: Satmoko
LAMPUNG – Sektor usaha peternakan kambing jenis rambon yang dipelihara dengan sistem penggemukan menjadi pekerjaan sampingan bagi warga Desa Tanjungsari Kecamatan Palas Lampung Selatan.
Penggemukan kambing jenis rambon tersebut dilakukan oleh Sugiyono (45) warga yang memelihara sebanyak lima belas ekor kambing jenis rambon. Bekerja sebagai pengelola sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Tanjungsari pekerjaan memelihara kambing dikerjakan sebagai sambilan.
Sugiyono menyebut, awal memelihara ternak kambing pasca dirinya membutuhkan biaya memasukkan anaknya kuliah di salah satu perguruan tinggi. Memelihara sebanyak enam ekor kambing dengan harga jual Rp2 juta ia berhasil memperoleh sebanyak Rp12 juta untuk mendaftarkan anaknya kuliah dan mulai memelihara kambing sebagai sumber tabungan anak.
“Saya mulai merasakan manfaat memelihara kambing dengan sistem penggemukan. Selain sumber pakan mudah dicari sebagai investasi jangka menengah sangat cocok bisa dijual untuk kebutuhan anak sekolah,” beber Sugiyono warga Desa Tanjungsari Kecamatan Palas, saat ditemui Cendana News, baru-baru ini.
Sugiyono menyebut pada awal memulai memelihara kambing rambon, ia membeli anakan kambing berusia empat bulan semula dengan harga Rp400 ribu per ekor dan awal tahun ini sudah naik menjadi Rp700 ribu per ekor. Meski demikian untuk membayar biaya semester anaknya dari dua ekor kambing yang dibeli seharga Rp700 ribu atau Rp 1,4 juta ia bisa menjual dua ekor kambing tersebut seharga Rp2,4 juta.
Sistem pemeliharaan menggunakan kandang diakuinya dilakukan untuk memelihara sebanyak lima belas ekor kambing yang kini dimiliki dengan usia berkisar enam bulan hingga dua tahun. Beberapa ekor kambing di antaranya siap jual untuk keperluan biaya kuliah anaknya di salah satu perguruan tinggi di Lampung. Pengandangan disebutnya dilakukan akibat minimnya lahan penggembalaan di wilayah Palas.

Sugiyono yang dibantu salah satu anaknya menanam singkong bahkan menyebut, selain sumber pakan hijauan sistem mengarit rumput dirinya juga menyiapkan pakan fermentasi. Pakan fermentasi yang dibuat merupakan hasil dari pengolahan beberapa jenis hijauan di antaranya daun singkong, batang pisang, jenjet jagung serta nutrisi khusus serta tetes tebu sebagai pelengkap pakan fermentasi yang dibuat.
Ia bahkan menyebut sumber pakan fermentasi tersebut menjadi selingan pakan hijauan rumput yang diberikan selama empat kali dalam sehari dan pakan fermentasi satu kali. Penyediaan pakan fermentasi yang dibuat dan disimpan dalam blong atau drum plastik sekaligus stok pakan saat musim kemarau, dimana pakan hijauan berkurang.
“Saya tidak pernah kesulitan mencari pakan selama tetap menanam singkong karena bisa menjadi pakan hijauan dan sumber pakan fermentasi,” beber Sugiyono.
Hendra, salah satu anak lelaki yang membantu penyediaan pakan berupa daun singkong menyebut, menanam singkong di pekarangan rumah. Sumber pakan tersebut selain bisa dipergunakan setiap saat pada saat panen juga bisa menjadi bahan baku pembuatan keripik singkong. Selain menghasilkan pakan dan menggemukkan ternak hasil keripik singkong yang dijual bisa menjadi penghasilan tambahan.
Hendra menyebut, selain bisa menjadi sumber penghasilan bersama sang ayah dengan memelihara ternak kambing, dirinya bisa membantu sang adik melanjutkan kuliah sekaligus mengajar di PAUD tempat sang ayah juga mengajar. Ternak kambing dengan sistem penggemukan disebutnya menjadi pilihan investasi sekaligus pengelolaan pakan yang baik mengantisipasi kekurangan sumber pakan pada saat pakan sulit dicari.
