NTP Petani Hortikultura NTB di Bawah 100

Editor: Koko Triarko

Kepala BPS NTB, Endang Sri Wahyuningsih/ Foto: Turmuzi

MATARAM – Sampai saat ini, nilai tukar petani (NTP) untuk tanaman pertanian jenis hortikultura tergolong masih rendah, di bawah 100 persen. Rendahnya NTP hortikultura tersebut bertolak belakang dengan komoditas lain yang rata – rata mencapai di atas 100 persen.

Selain pola tanam, cuaca dan harga yang kerap anjlok, luasan lahan yang ditanami tanaman holtikultura oleh petani di NTB juga masih sedikit, sehingga hasil panen juga sedikit.

“Padahal, dari sisi luas lahan pertanian, hampir sebagian besar daratan NTB merupakan areal pertanian dan perkebunan”, kata Kepala Badan Pusat Statistik NTB, Endang Sri Wahyuningsih, di Mataram, Senin (12/2/2018).

Ia mengatakan, dengan luasan lahan tersebut, NTB sangat potensial sebagai daerah pengembangan tanaman hortikultura dalam skala besar. Karena itu, ia meminta kepada pemda melalui dinas pertanian bisa menangkap peluang ini untuk memperluas areal tanam dan mengembangkan tanaman hortikultura sebagai komoditas unggulan.

“Mengingat tanaman hortikultura, selain memiliki ekonomi tinggi, juga memiliki prospek pangsa pasar tidak kalah menjanjikan dengan tanaman pertanian lain, baik untuk diekspor maupun memenuhi kebutuhan di daerah”, katanya.

Ia mencontohkan, sektor pariwisata yang di dalamnya terdapat perhotelan dan rumah makan, tentu membutuhkan pasokan sayuran cukup besar dan itu bisa menjadi target pemasaran.

Sebelumnya, Bupati Kabupaten Lombok Utara, Najmul Ahyar mengatakan, sebagai daerah kawasan wisata, NTB terutama Kabupaten Lombok Utara, dengan keberadaan usaha perhotelan, restoran dan rumah makan yang semakin menjamur. Kebutuhan akan logistik tentu sangat tinggi, terutama hasil pertanian seperti tanaman holtikultura untuk mencukupi kebutuhan konsumsi.

Lihat juga...