Petani Sleman Keluhkan Tingginya Biaya Tenaga Buruh Tanam

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Sejumlah petani di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, mengeluhkan semakin mahalnya biaya tenaga buruh tanam saat ini. Hal itu disebabkan semakin berkurangnya jumlah tenaga buruh tanam, yang biasanya dilakukan oleh kaum ibu. 

Selain keberadaan tenaga buruh tanam semakin jarang, di musim tanam sekarang ini, biaya tenaga buruh tanam juga dipatok dengan sistem borongan dan tidak lagi dengan sistem harian. Tarifnya bisa mencapai Rp120 ribu per 1.000 meter persegi.

Ketua Kelompok Tani Makmur, Samsuri. –Foto: Jatmika H Kusmargana

“Di musim tanam seperti sekarang, susah cari buruh tanam. Kalau pun ada harus antri. Karena tenaga buruh terbatas, sehingga harus bergantian. Itu pun biayanya mahal,” ujar ketua Kelompok Tani Mulyo, Samsuri, di dusun Sembur, Tirtomartani, Kalasan, Sleman, Senin (12/2/2018).

Menurut Samsuri, beberapa tahun lalu pekerja buruh tanam masih dibayar dengan upah harian. Mulai dari Rp5.000 per hari. Namun karena jumlah tenaga semakin minim, tarif itu semakin lama semakin naik mengikuti harga beras. Sehingga petani pun memilih menerapkan sistem borongan.

“Tenaga buruh tanam di daerah kami hanya ada sekitar 8 orang. Padahal, lahan pertanian di sini ada 25 hektare. Karena kelompok tani di sini belum memiliki alat mesin tanam, maka tenaga buruh jadi satu-satunya gantungan petani,” ujarnya.

Kelompok Tani Mulyo sebenarnya sudah mengajukan bantuan alat mesin pertanian berupa alat penanam padi otomatis. Karena alat tersebut sangat dibutuhkan bagi petani. Namun, hingga saat ini pemerintah belum menyalurkan bantuan tersebut.

“Karena biaya semakin mahal, otomatis biaya produksi meningkat, dan keuntungan petani berkurang. Karena selain mengeluarkan biaya untuk proses tanam, petani juga masih harus mengeluarkan biaya lain, seperti sewa traktor Rp80 ribu per 1.000 meter, biaya pupuk, biaya obat, dan sebagainya,” katanya.

Lihat juga...