Membangun Jembatan Tambatan Perahu Harus ‘Menanam Tambatan Hati’
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
MAUMERE — Membangun Jembatan Tambatan Perahu (JTP) harus diikuti pula dengan menanam tambatan hati artinya masyarakat merasa memiliki, memelihara dan menjaga setiap fasilitas pemerintah yang telah dibangun di sebuah daerah agar bangunan tersebut bisa bertahan lama.
“Membangun jembatan harus diikuti pula dengan menanam tambatan hati sebab setelah dibangun jembatan ini yang menjadi fasilitas bongkar muat barang dan hasil laut serta sebagai tambatan perahu harus dijaga, dipelihara dengan hati,” tegas Rafael Raga, SP ketua DPRD Sikka, Minggu (11/2/2018).
Perlu dibuat tata ruang tandas Rafael, agar ada pengaturan mana yang jadi daerah pemukiman dan mana yang jadi tambatan perahu. Untuk itu diatur agar jangan ada lagi masyarakat yang membangun rumah melewati jembatan tambatan perahu.
“Mari kita jaga bersama agar bangunan jembatan ini bisa berfungsi dengan baik, bisa terawat dengan baik untuk kepentingan masyarakat terutama nelayan di kampung Wuring ini,” pintanya.
Wuring juga sebut ketua DPRD Sikka 2 periode ini, merupakan salah satu destinasi wisata karena memiliki keunikan tersendiri. Rumah-rumah panggung yang didirikan di atas laut merupakan salah satu obyek wisata yang menarik minat wisatawan khususnya asing.
“Oleh karena itu kita perlu menjaga kebersihan lingkungan kita, jangan membuang sampah sembarangan di darat maupun di laut serta bersikap ramah dalam menyambut setiap tamu yang datang,” pesannya.
Sementara itu bupati Sikka Drs. Yoseph Ansar Rera mengatakan, pembangunan jembatan tambatan perahu di Wuring merupakan jembatan ke empat di daratan kabupaten Sikka. Sebelumnya telah dibangun di Darat Pante, Waipare, Ndete Magepanda yang semuanya merupakan kampung nelayan.
Sementara untuk di gugusan pulau di wilayah perairan kabupaten Sikka, jembatan sejenis kata Ansar sudah dibangun di pulau Kojagete, Pemana, Kojadoi, Palue dan Parumaan. Sementara di pulau Sukun sudah dibuat perencanaannya dan akan segera dibangun.
“Pembangunan jembatan ini juga mendukung pengembangan sektor kelautan dan perikanan yang merupakan salah satu sektor unggulan di kabupaten Sikka. Selain memberikan bantuan perahu, tempat pendaratannya pun harus dibangun sebagai sarana penunjang,” tuturnya.
Ke depannya bila pelabuhan Laurens Say Maumere menjadi pelabuhan ekspor untuk pulau Flores tandas Ansar, maka pemerintah berencana membangun pelabuhan rakyat di Nangahale. Ini penting supaya masyarakat kepulauan bisa berlabuh di wilayah timur Sikka.
“Jembatan di Wuring merupakan sebuah permohonan dari masyarakat baik langsung kepada saya maupun lewat anggota DPRD Sikka dan ada peluang dari dana DAK maka bisa dibangun di Wuring,” ungkapnya.

Pembangunan jembatan di Wuring tegas Ansar penting sebab Wuring selain sebagai kampung nelayan juga jadi kampung wisata. Makanya walau ada permintaan untuk dipindahkan namun sebagai bupati dirinya tetap bertahan jembatan dibangun di Wuring.
“Wuring juga memiliki masjid terapung yang dibangun di atas laut dan menjadi salah satu obyek wisata sehingga kampung Wuring perlu ditata. Masyarakat juga perlu menjaga kebersihan dan keindahan kampung ini termasuk menjaga jembatan ini agar tetap terawat,” pungkasnya.
Jembatan tambatan perahu Wuring dibangun dengan dana DAK Fisik Atirmasi Bidang Transportasi Tahun 2017 dengan biaya sebesar Rp.2,2 miliar yang dikerjakan sejak bulan Juli 2017 hingga Desember 2017. Jembatan memiliki panjang 60 meter.
Pekerjaan jembatan termasuk bangun akses jalan masuk sebetah timur sepanjang 75 meter dan sebelah barat 48 meter dan pekerjaan pelataran parkir seluas 20 x 28 meter. Jembatan memiliki ukuran lebar 7,5 meter disertai tempat bersandar sepanjang 18 meter dengan sembilan unit lampu tenaga surya.