HRW Sebut Myanmar Hancurkan Desa Rohingya Usai Pembersihan
YANGON – Myanmar meratakan sedikit 55 desa, yang sebelumnya dikosongkan dari penghuninya suku Rohingya sejak akhir tahun lalu. Penghancuran bangunan di kawasan utara negara bagian Rakhine itu berpeluang menghilangkan bukti pelanggaran hak asasi manusia oleh tentara.
Pada aksi pembersihan yang dilakukan, tenrara Myanmar menyisir desa-desa Rohingya untuk mencari para penyerang sejumlah pos polisi pada 25 Agustus tahun lalu. Gerakan militer tersebut kemudian memaksa hampir 700.000 warga Rohingya mengungsi ke perbatasan Bangladesh.
Banyak di antara pengungsi itu menyatakan menyaksikan pembunuhan, pemerkosaan dan pembakaran desa oleh tentara Myanmar. Data tersebut merupakan laporan terbaru dari Human Rights Watch (HRW) yang dipublikasikan pada Jumat (23/2/2018) setelah setelah Myanmar mendapatkan bantuan dari PBB dan Jepang.
Sebelumnya PBB menyebut, Myanmar telah melakukan pembersihan etnis terhadap Rohingya. Pemimpin Myanmar, yang juga penerima Hadiah Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi, bahkan sempat melarang penyidik PBB untuk memasuki zona konflik di Rakhine.
Myanmar mengatakan, bahwa pasukannya terlibat dalam operasi militer yang sah untuk memberantas terorisme. Dari catatan HRW, sebanyak 362 desa telah dihancurkan sejak Agustus. Beberapa di antara desa-desa itu sudah rata sepenuhnya dengan tanah.
“Banyak di antara desa-desa ini adalah tempat terjadinya kekejaman terhadap Rohingya, dan seharusnya dibiarkan sehingga PBB bisa mendapatkan bukti soal siapa yang bertanggung jawab. Penghancuran area itu berpotensi menghapus bukti dan klaim hukum penduduk Rohingya yang tinggal di sana,” kata Direktur HRW kawasan Asia Bran Adam.
Sejumlah gambar satelit yang dimiliki HRW menunjukkan keberadaan dua desa di area bernama Myin Hlut tidak rusak karena kebakaran. Sangat mungkin kerusakan kawasan pemukiman tersebut karena dihancurkan dan diratakan dengan mesin berat. HRW memperkirakan aksi penghancuran dan perataan tersebut terjadi antara 9 Januari sampai 23 Februari.
Juru bicara pemerintah, Zaw Htay, belum mau mengomentari temuan HRW. Saat ini pemerintah Myanmar mengaku tengah menyiapkan sejumlah wilayah untuk menerima para pengungsi yang kembali dari Bangladesh.
Kantor berita negara Myanmar melaporkan, pada Januari lalu delapan ekskavator dan empat buldozer sudah ditempatkan di area yang disiapkan bagi pengungsi yang akan kembali. Myanmar telah membangun dua tempat penampungan sementara bagi para pengungsi yang kembali. Namun tempat itu hanya sementara karena warga Rohingya dijanjikan bisa kembali ke tempat asal mereka.
Menteri yang bertanggung jawab atas upaya pemulihan di Rakhine Win Myat Aye mengatakan, bahwa lahan rusak karena kebakaran secara hukum menjadi tanah kelolaan negara.(Ant)