LAMPUNG — Anjloknya harga jagung pipilan di tingkat agen di wilayah Lampung Selatan, hingga Rp2.300 dari semula Rp3.000 per kilogram, membuat petani jagung memilih menunda masa panen
Nurmaidi (36), petani jagung, menyebut tanaman jagung miliknya yang sudah memasuki masa panen usia 110 hari terpaksa ditunda masa panennya, sembari menunggu harga membaik. Ia berharap, harga jagung bisa lebih tinggi, karena biaya operasional penanaman jagung juga tinggi.
Nurmaidi yang juga salah satu anggota kelompok tani (Poktan) Tunas Jaya, menyebut total lahan jagung di wilayah Banjarmasin tersebut seluas 200 hektare, dengan rata rata petani menanam sekitar dua hingga lima hektare tanaman jagung.

“Ratusan petani jagung di wilayah desa Klaten, Banjarmasin, Gandri dan sebagian Lampung Selatan, mengeluhkan penurunan harga jagung di tingkat petani hingga ke tingkat pengepul,” terang Nurmaidi, saat ditemui Cendana News, Jumat (9/2/2018).
Nurmaidi dan sejumlah petani jagung lainnya juga menyebut, rencana impor dari pemerintah melalui Kementerian Perdagangan dipastikan akan semakin menurunkan harga jagung, meski alokasi jagung impor untuk kebutuhan industri.
Penurunan harga jagung bahkan akan terus terjadi, jika impor jagung dilakukan, sehingga merugikan petani jagung.
Harga jagung dengan sistem karungan yang semula Rp90.000 per karung menjadi Rp60.000, cukup memberatkan petani yang telah mengeluarkan biaya operasional cukup besar dalam pengolahan lahan, pembelian pupuk hingga pemanenan.
Pada masa panen sebelumnya dengan sistem karungan dirinya berhasil memperoleh sekitar 300 karung dengan perolehan uang Rp27 juta. “Saat harga anjlok, saya memilih menunda masa panen dengan tujuan menunggu perubahan harga dua pekan ke depan,” ungkap Nurmaidi.
Meski demikian, dengan kondisi cuaca yang mulai didominasi hujan, ia kuatir jagung miliknya justru akan memiliki kadar air yang tinggi, dan batang tanaman jagung miliknya roboh sebelum dipanen.
Kadar air yang tinggi disebutnya mempengaruhi harga jagung, karena pabrik pengolahan jagung memilih jagung dengan kadar air rendah.
Berdasarkan hasil panen pada lahan jagung seluas satu hektare miliknya yang sudah dipanen berselang satu bulan sebelumnya, Nurmaidi mengaku hanya memperoleh hasil penjualan Rp23 juta, dengan hasil jagung yang sama atau terjadi penurunan hasil Rp5 juta. Jika harga jagung semakin anjlok, dipastikan dirinya akan mengalami kerugian yang lebih besar ditambah sebagian besar modal menanam jagung merupakan modal pinjaman.
Modal pinjaman tersebut diakuinya untuk membeli pupuk 10 kuintal dengan harga Rp150.000 hingga Rp160.000 jenis SP36 dan Phonska. Selain itu, biaya sewa lahan per tahun sebesar Rp3 juta dan biaya operasional pengolahan lahan dan pemanenan yang cukup tinggi, belum termasuk pembelian obat-obatan.
“Harapan kami harga jagung setidaknya bisa normal, agar kami bisa menutupi biaya operasional yang dikeluarkan untuk proses penanaman jagung,”beber Nurmaidi.
Selain Nurmaidi, petani lain bernama Johan di Desa Klaten, juga menyebut, saat ini dengan harga jagung pipilan seharga Rp3.000 di level agen dan di level petani hanya Rp1.900, membuat petani yang sudah memanen jagung lebih memilih menyimpan jagung di gudang.
Johan juga menyebut, sebagian petani jagung saat ini masih memerlukan fasilitas alat pengeringan jagung, sehingga petani bisa menyimpan jagung dalam kondisi kering.
“Harapan kami pemerintah juga memperhatikan petani jagung dengan menyediakan fasilitas alat pengeringan jagung,” beber Johan.
Selain anjloknya harga jagung di tingkat petani saat belum puncak masa panen, petani jagung juga masih dihantui dengan pasokan pupuk subsidi yang tersendat.
Johan yang menjadi anggota kelompok tani mengaku terpaksa membeli pupuk nonsubsidi, meski harga lebih mahal untuk memupuk jagung pada usia pemupukan pertama dan kedua.